Iklan

Ringgit Kuat karena Dana Asing, Rupiah Tertinggal

Monday, July 6, 2026, 7:38 AM WIB Last Updated 2026-07-06T12:46:43Z

Prospek mata uang Asia menunjukkan perbedaan arah. Mata uang ringgit Malaysia diperkirakan menguat pada semester kedua tahun ini, sementara rupiah masih menghadapi tekanan karena menurunnya kepercayaan investor dan penyusutan cadangan devisa.

Dilansir dari Bloomberg, para analis memprediksi bahwa ringgit akan mengalami penguatan setelah sebelumnya menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada bulan Juni. Peningkatan ini didorong oleh kebijakan Bank Negara Malaysia (BNM) yang mendorong perusahaan untuk mengembalikan dan mengonversi devisa hasil pendapatan luar negeri ke dalam ringgit, yang juga didukung oleh kondisi ekonomi yang stabil.

Bank RBC memprediksi nilai tukar ringgit bisa meningkat hingga 3,95 terhadap dolar AS pada akhir tahun ini, sementara grup perbankan Australia dan New Zealand (ANZ) mengharapkan mata uang Malaysia tersebut mampu mencapai 3,80 terhadap dolar AS, tingkat terkuat sejak tahun 2015.

Setelah BNM mengumumkan kebijakan peningkatan arus masuk devisa pada 24 Juni lalu, ringgit tercatat sebagai mata uang yang paling kuat di kawasan Asia. Penguatan ini didorong oleh surplus perdagangan yang signifikan, meningkatnya ekspor, serta aliran dana asing yang besar masuk ke pasar obligasi Malaysia.

Malaysia juga merasakan manfaat dari meningkatnya permintaan internasional terhadap produk elektronik serta pengembangan pusat data (data center) seiring dengan perkembangan industri kecerdasan buatan (AI).

Ekspor Malaysia pada bulan Mei meningkat sebesar 45% dibanding tahun lalu, yang menyebabkan surplus perdagangan mencapai rekor bulanan sebesar 40 miliar ringgit atau sekitar 9,8 miliar dolar AS.

Selain itu, para investor global tercatat membeli sekitar US$ 2,1 miliar obligasi Malaysia hingga akhir Juni. Hal ini berpotensi menjadi aliran masuk bulanan terbesar sejak Mei 2025.

Sebaliknya, rupiah dan situasi ekonomi Indonesia berada dalam keadaan yang berlawanan. Fitch Ratings pada awal bulan ini memberikan peringatan mengenai peringkat utang (sovereign rating) Indonesia mungkin menghadapi tekanan jika cadangan devisa terus berkurang dan kepercayaan para investor belum kembali.

Dalam laporan terkini, Fitch menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar total 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah setelah pemerintah mengumumkan rencana sentralisasi ekspor komoditas.

Namun, lembaga peringkat internasional tersebut mencatat bahwa kinerja rupiah masih kalah dibandingkan sebagian besar mata uang lain sepanjang tahun ini. Pada saat yang sama, cadangan devisa kasar Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,6% selama periode Maret hingga Mei 2026.

"Penurunan cadangan devisa yang terus-menerus dan signifikan, khususnya jika disebabkan oleh arus keluar modal yang berkelanjutan akibat kepercayaan investor yang menurun atau penurunan lebih lanjut dalam indikator tata kelola, bisa meningkatkan tekanan terhadap peringkat rating Indonesia," tulis Fitch dalam laporannya.

Fitch juga memprediksi cadangan devisa Indonesia pada tahun 2026 hanya mampu mencukupi kebutuhan pembayaran luar negeri selama 4,9 bulan, sedikit di bawah rata-rata negara-negara dengan peringkat BBB yang rata-ratanya sekitar 5 bulan.

Selain itu, intervensi mata uang asing Bank Indonesia mengurangi cadangan devisa serta menyerap likuiditas rupiah, sehingga memperketat kondisi pendanaan dalam negeri dan memperkuat dampak kredit dari sentimen investor yang lebih lemah. Hal ini juga berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan bertahap posisi short net valuta asing, yang mencapai hampir 27 miliar dolar AS pada akhir Mei dan dapat meningkatkan kebutuhan likuiditas valuta asing di masa depan seiring mendekatnya jatuh tempo.

Data neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2025 menunjukkan situasi yang kurang menggembirakan. Berbeda dengan Malaysia, ekspor Indonesia mengalami penurunan sebesar 5,73% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai sebesar US$ 23,2 miliar.

Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir pada bulan lalu dengan besaran sebesar 1,61 miliar dolar AS.

Komentar

Tampilkan