Iklan

INA percepat pengembangan katoda LFP dan pusat data AI terbesar Asia Tenggara

Friday, July 3, 2026, 4:37 AM WIB Last Updated 2026-07-03T09:24:50Z

.CO.ID -Badan Investasi Indonesia (INA) memperkuat posisinya sebagai pintu masuk bagi investor global dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional jangka panjang menuju visi Indonesia Emas 2045. Dengan menyelenggarakan Media Briefing Laporan Tahunan INA 2025 yang berjudul "Masa Depan Dibangun atas Kepercayaan" di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, pada Rabu (1/7/2026), lembaga pengelola investasi atau dana kekayaan negara (SWF) Indonesia ini memaparkan hasil kerja bisnis dan strategi investasi mereka.

Berdasarkan pengumuman resmi, dalam lima tahun beroperasi, INA berhasil meningkatkan total aset yang dikelola atau Assets Under Management (AUM) menjadi sebesar Rp146,2 triliun atau sekitar US$9,1 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat, yaitu sebesar 1,9 kali lipat dibandingkan dengan modal awal saat institusi ini didirikan.

INA bersama mitra investor telah menyalurkan dana investasi sekitar Rp74,5 triliun atau sekitar USD4,7 miliar. Penyaluran investasi yang dilakukan INA sendiri mencapai Rp33,3 triliun atau sekitar USD2,1 miliar. INA berperan dalam menarik investasi asing ke Indonesia, dengan realisasi total investasi asing mencapai Rp41,2 triliun atau sekitar USD2,6 miliar.

Ketua Dewan Direktur sekaligus CEO INA, Oki Ramadhana, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan bahwa para investor percaya terhadap transparansi dan tata kelola yang selama ini menjadi prinsip utama yang diterapkan oleh INA. Dengan strategi kepemilikan modal bersama investor (skin in the game), INA hadir untuk membangun kepercayaan global guna mempercepat penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi mutakhir, memperkuat kemampuan industri lokal, mendorong nilai ekspor, serta menjaga ketahanan infrastruktur kritis.

 

"Kita sangat membutuhkan modal global untuk meningkatkan pertumbuhan Indonesia. Oleh karena itu, tugas kami adalah menciptakan kepercayaan sebagai investor global," ujar Oki.

Sampai pertengahan tahun 2026, komitmen investasi jangka panjang yang berhasil dikumpulkan INA dari 40 mitra strategis global di berbagai 15 negara telah mencapai angka USD25 miliar. Sementara itu, realisasi total dari penyaluran investasi bersama mitra global tersebut telah melebihi Rp74,5 triliun, yang terdiri dari bagian investasi mandiri INA sebesar Rp33,3 triliun dan dana investasi asing sebesar Rp41,2 triliun.

Kepercayaan investor internasional yang tinggi didukung oleh penerapan prinsip tata kelola yang baik secara konsisten. Selama setahun terakhir, INA berhasil mempertahankan peringkat investasi grade Triple B (BBB) dari Fitch Ratings untuk skala internasional, serta peringkat AAA(idn) untuk skala nasional yang setara dengan peringkat pemerintah Republik Indonesia.

Berdasarkan evaluasi lembaga Global SWF yang independen, INA meraih skor Governance, Sustainability, and Resilience (GSR) sebesar 72%, sehingga menempatkannya setara dengan lembaga pengelola dana besar dunia seperti GIC Singapura dan melebihi rata-rata skor SWF global yang berada di angka 53%.

Untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan, Oki menyampaikan bahwa INA akan menerapkan strategi jangka panjang selama periode 2026-2030 dengan memperluas portofolio di lima sektor utama yang diharapkan memberikan hasil keuntungan komersial terbaik serta dampak sosial dan ekonomi yang besar.

 

INA memiliki proporsi portofolio yang tinggi di sektor transportasi dan logistik, yang menyerap alokasi kumulatif terbesar sebesar 44,0%, diikuti oleh sektor digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan persentase 29,5%. Berikutnya adalah sektor energi hijau sebesar 9,8%, kesehatan sebesar 9,2%, advanced materials sebesar 5,5%, serta sektor potensial lainnya sebesar 1,9%. Dalam sektor digital, INA mendukung pengembangan kampus pusat data hyperscale berkapasitas 72 MW di Nongsa Digital Park, Batam, dengan nilai investasi sebesar US$600 juta untuk memperkuat kedaulatan data regional.

Selain itu, portofolio hijau INA juga menjangkau sektor energi terbarukan melalui pengelolaan salah satu lapangan panas bumi terbesar di Indonesia. Di sektor kesehatan dan material canggih (advanced materials), INA mendanai pembangunan fasilitas fraksionasi plasma darah terbesar di Asia Tenggara, serta platform pengolahan produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) dunia yang berada di luar Tiongkok, yang ditargetkan mencapai kapasitas hingga 120.000 ton pada tahun 2027.

Kepala Investasi INA, Laksono W. Widodo, menyampaikan tantangan utama yang dihadapi INA bukan lagi dalam menarik komitmen investasi, tetapi menjaga kepercayaan para investor agar terus meningkatkan nilai investasi di Indonesia meskipun menghadapi perubahan regulasi dan transformasi ekonomi.

Di masa depan, INA akan tetap menjaga kejelasan dengan menyampaikan seluruh kemungkinan risiko investasi sejak awal kepada para investor. Menurut Laksono, kepercayaan ini merupakan kunci dalam mempertahankan investor. Setelah investasi berlangsung, INA juga membantu investor menghadapi berbagai tantangan melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

"Kami menyampaikan semua risiko serta tantangan struktural dan operasional secara mandiri dan profesional. Tidak ada informasi yang kami sembunyikan. Bila terjadi perubahan, kami siap membantu investor menghadapi tantangan tersebut. Selama investasi tersebut masih layak secara komersial, kegiatan tersebut akan terus berlangsung," kata Laksono.

Oki menegaskan bahwa INA berkomitmen untuk bertindak proaktif sebagai mitra lokal maupun global dalam memberikan manfaat bagi investor dan industri agar dapat memaksimalkan penciptaan nilai. Selain itu, INA telah diberi dua tugas untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia serta menciptakan kekayaan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, INA berkomitmen menerapkan strategi investasi yang disiplin dan terukur, sehingga menghasilkan nilai ekonomi dan imbal hasil jangka panjang yang optimal.

"Kami adalah katalis bagi investor global dan permainan. Kami dapat mengakses ekosistem publik maupun swasta. Karena kami adalah dana kekayaan negara, kami tahu cara mengakses setiap pemangku kepentingan dalam ekosistem kami, dalam bisnis kami," jelas Oki.

Komentar

Tampilkan