Ringkasan Berita:
- Pompa Air di Jotangan, Bayat, adalah bangunan warisan Belanda yang dahulu berfungsi mengalirkan air ke Pabrik Gula Manishardjo Pedan dan perkebunan tebu.
- Sekarang bangunan tersebut digunakan oleh warga sebagai jalur alternatif yang hanya dapat dilalui oleh sepeda dan sepeda motor karena ukurannya yang sempit.
- Keistimewaan Plumpung Banyu menarik perhatian banyak pengemudi, termasuk yang diarahkan oleh Google Maps, saat melewati bangunan bersejarah tersebut.
- Kabupaten Klaten memiliki banyak bukti sejarah yang masih tersisa hingga saat ini. - Di Kabupaten Klaten terdapat berbagai jejak sejarah yang masih dapat ditemukan hingga kini. - Banyak sisa-sisa sejarah yang masih ada di Kabupaten Klaten hingga saat ini. - Kabupaten Klaten menyimpan banyak peninggalan sejarah yang masih bertahan sampai sekarang.
Salah satu contohnya adalah Plumpung Banyu yang juga dikenal sebagai Jaladwara.
Bangunan ini merupakan sisa sejarah dari masa Hindia Belanda yang masih berdiri tegak di kawasan Jotangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
Meskipun usianya telah mencapai puluhan bahkan lebih dari satu abad, bangunan bersejarah ini masih digunakan oleh masyarakat.
Bukan lagi menjadi bagian dari sistem irigasi industri seperti pada masa kolonial, tetapi sebagai jalur alternatif yang menghubungkan beberapa wilayah di sekitarnya.
Secara sekilas, Plumpung Banyu terlihat seperti jembatan sempit yang membagi wilayah persawahan.
Namun, di balik penampilannya yang sederhana, bangunan ini memiliki makna sejarah yang cukup signifikan.
Di masa Hindia Belanda, Plumpung Banyu dibuat sebagai saluran air yang berfungsi mendukung kegiatan pabrik gula.
Air yang mengalir melalui saluran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri serta lahan pertanian dan perkebunan, terutama perkebunan tebu yang menjadi komoditas utama pada masa itu.
Saluran air tersebut diketahui terkait dengan kegiatan Pabrik Gula Manishardjo Pedan, salah satu pabrik gula yang pernah berkembang pesat pada masa kolonial Belanda.
Keberadaan saluran air menjadi bagian dari sistem irigasi yang mendukung hasil pertanian tebu dan kegiatan industri gula di kawasan Klaten.
Seiring berlalunya waktu, peran bangunan ini mulai mengalami perubahan.
Meskipun saluran airnya masih tersedia, bagian atas bangunan kini digunakan oleh penduduk sebagai jalur penyeberangan.
Keistimewaan Plumpung Banyu terletak pada bentuknya yang sangat sempit.
Jalur di atas bangunan hanya dapat digunakan oleh kendaraan beroda dua atau sepeda.
Kendaraan besar maupun mobil tidak mampu melewati jalan tersebut karena lebar jalannya sangat sempit.
Namun demikian, jalur ini masih menjadi pilihan banyak penduduk karena dianggap lebih efisien dalam menghemat waktu perjalanan menuju desa-desa sekitar.
Bahkan, banyak pengemudi dari luar wilayah yang secara tidak sengaja melewati Plumpung Banyu setelah diarahkan oleh aplikasi Google Maps.
Banyak pengguna jalan baru menyadari keterbatasan lebar jalur tersebut setelah berada di atas bangunan.
Keadaan tersebut sering memicu rasa penasaran sekaligus pujian.
Di sisi lain, Plumpung Banyu menjadi saksi bisu kemajuan industri gula pada masa kolonial.
Di sisi lain, bangunan bersejarah tersebut masih memberikan manfaat kepada masyarakat hingga saat ini sebagai jalur alternatif yang istimewa dan memiliki nilai sejarah yang tinggi di Kabupaten Klaten.
(/Candra)