- Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, terus diperkuat.
Pemerintah saat ini lebih fokus pada upaya pemadaman dengan menggunakan operasi water bombing dan penggunaan personel di darat.
Keputusan tersebut diambil setelah Raja Juli berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memantau perkembangan situasi cuaca di sekitar area yang terbakar.
Berdasarkan perhitungan teknis dari BMKG, kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam waktu dekat dinilai sangat rendah. Kondisi ini menyebabkan pemerintah memutuskan untuk memperkuat strategi pemadaman yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
"Operasi Modifikasi Cuaca tidak dapat dilakukan selama 10 hari ke depan. Tadi saya sudah menghubungi langsung Kepala BMKG, dan juga ada staf beliau yang datang. Secara matematis dan teknokratik dihitung, hampir mustahil dalam 10 hari ke depan terjadi OMC," ujar Raja Juli setelah meninjau kondisi kebakaran di kawasan TNBTS, Minggu (9/8).
Berdasarkan situasi tersebut, pemerintah mengfokuskan usaha pemadaman pada dua cara, yaitu penyemprotan dari udara dengan water bombing serta pengendalian api oleh pasukan darat.
"Maka kita benar-benar mempercayakan: pertama, pemboman air, yang kedua, pasukan darat," katanya.
Raja Juli menyatakan, operasi penyemprotan air akan terus dilakukan secara berkelanjutan hingga kebakaran benar-benar dapat dikendalikan. Operasi udara ini hanya akan dihentikan setelah wilayah dinilai aman dan kegiatan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kembali berjalan seperti biasa.
"Hari ini telah dilakukan 30 kali pemboman air, tersisa 10 lagi karena sudah 20. Insya Allah hingga api padam, hingga semua bisa beroperasi kembali baru kemudian pemboman air dihentikan," tutupnya.(*)