JawaPos.com - Psikologimenekankan bagaimana tindakan tertentu bisa secara perlahan menyebabkan seseorang terpisah dari sahabat dan anggota keluarga.
Perilaku ini sering terjadi tanpa disadari, namun memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas hubungan sosial dan emosional.
Dalam pandangan psikologi, pola komunikasi yang tidak positif bisa menghasilkan jarak perasaan antara seseorang dengan orang yang dekat dengannya.
Seseorang yang dekat dengan seseorang mulai merasakan perubahan ketika perilaku ini muncul secara terus-menerus.
Dilansir dari Geediting pada Pada hari Minggu (9/8), terdapat sembilan tingkah laku yang menurut psikologi bisa membuat kita kehilangan teman dan keluarga.
1. Menghilang Tanpa Memberikan Alasan
Setiap individu memerlukan ruang pribadi untuk dirinya sendiri. Namun, ketika ruang tersebut berubah menjadi kesunyian tanpa makna yang jelas, hal itu mulai terasa seperti penolakan.
Orang lain tidak mungkin terus-menerus memahami maksud tersirat tanpa penjelasan yang cukup.
Ketika seseorang mengundurkan diri tanpa memberikan penjelasan, hal ini menimbulkan rasa tidak aman bagi orang-orang di sekitarnya.
Perbedaan pokok antara batasan yang sehat dan penghilangan emosional adalah bahwa yang satu memberikan kejelasan, sedangkan yang lain justru menimbulkan keraguan.
2. Menanggapi dengan Emosi yang Sedikit
Pesan singkat, kurangnya kontak mata, dan suara yang monoton membuat orang lain berspekulasi apakah kamu sedang marah atau hanya lelah.
Seiring berjalannya waktu, pengurangan emosional bisa terasa seperti tidak adanya perasaan sama sekali.
Ketika seseorang selalu terlihat tertutup, sulit bagi kita untuk memahami posisi kita dalam hubungan dengan mereka.
Para peneliti John Gottman dan Robert Levenson menemukan bahwa pasangan yang bahagia memiliki rasio lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif.
Kehangatan kecil dalam respons seperti senyuman, ucapan terima kasih yang tulus, atau mengingat hal yang mereka sampaikan minggu sebelumnya membuat seseorang merasa lebih dekat.
3. Menghindari Keterbukaan
Tetap berada di permukaan mungkin membuat segala sesuatu tetap "aman," namun hal ini juga menjauhkan kita dari orang lain.
Bila kamu tidak pernah memperbolehkan siapa pun masuk dan tidak pernah berbagi apa yang sedang kamu lalui, apa yang membuatmu antusias, atau apa yang membuatmu merasa takut, orang-orang mulai mengira bahwa kamu tidak percaya pada mereka.
Keterbukaan menjadi jembatan dalam hubungan antar sesama manusia.
Jika jembatan ini tidak pernah dilewati, hubungan akan terhenti dan tidak berkembang.
Ahli peneliti Brené Brown mengatakan bahwa tetap terbuka merupakan risiko yang perlu diambil jika kita ingin merasakan hubungan yang autentik.
4. Meninggalkan Perasaan Kesal Menjadi Terakumulasi Secara Senyap
Alih-alih menyampaikan keinginan atau menentukan batasan, kamu secara diam-diam menumpuk rasa frustrasi.
Kamu tersenyum sambil merasakan perih dan berkata "tidak apa-apa" meskipun sebenarnya tidak.
Namun, akhirnya ketegangan muncul melalui komentar yang bersifat tidak langsung dan agresif, penghindaran, atau penutupan emosional.
Ahli Anna Lerner menegaskan bahwa marah merupakan tanda yang patut dihiraukan.
Permusuhan yang tidak diungkapkan tidak hanya membuat orang menjauh, tetapi juga menghalangi terbentuknya hubungan yang tulus dari awal.
5. Menolak untuk Memperbaiki Setelah Terjadi Perselisihan
Bukan konflik yang memutus sebagian besar hubungan, melainkan penghindaran yang menyebabkannya.
Perbedaan pendapat atau situasi tegang sebenarnya bisa bertahan dan diselesaikan.
Namun, ketika salah satu pihak diam setelahnya atau berpura-pura tidak ada yang terjadi, pihak lain dibiarkan memikul beban sendirian.
Perbaikan tidak selalu memerlukan percakapan yang panjang dan penuh emosi.
Terkadang kalimat sederhana seperti "Hai, aku tahu ini terasa tidak benar, apakah kita bisa membicarakannya?" mampu memperbaiki hubungan yang telah lama tertunda dengan diam.
6. Tidak Hadir Kecuali Diperlukan
Bantuan tidak selalu perlu bersifat besar atau spektakuler. Namun, jika kamu terus-menerus menunggu dipanggil, hal ini mulai terasa seperti ketidakterlibatan.
Mengirim kabar, mengingatkan hari ulang tahun, atau menanyakan bagaimana hari seseorang tanpa diminta adalah tindakan kecil yang memiliki makna besar.
Kemesraan berkembang dengan saling memperhatikan, bukan karena kewajiban.
Alur yang satu arah, di mana hanya satu pihak yang selalu mengambil inisiatif, dapat secara perlahan merusak dasar dari sebuah hubungan.
7. Tetap tenang saat orang lain terbuka
Saat seseorang membagikan hal yang bersifat pribadi, mereka memberikan benang kepercayaan kepada kamu.
Dan ketika benang tersebut menghadapi keheningan atau respons yang tidak jelas seperti "hmm" atau beralih topik, benang kepercayaan mulai terganggu.
Orang mulai mempertimbangkan kembali sebelum menjadi jujur kepadamu lagi. Kamu tidak perlu memberikan jawaban yang sempurna, cukup hadir dan rasa penasaran.
Ucapan sederhana seperti "terima kasih telah menceritakan hal ini" bisa lebih bermakna dibandingkan dengan nasihat yang rumit.
8. Tidak Pernah Mengakui Perkembangan atau Perubahan
Tidak peduli seberapa jauh seseorang berkembang, orang-orang yang melakukan hal ini masih memandangnya sebagai bentuk diri dari masa lalu.
Mereka menyebut kembali kesalahan masa lalu, menertawakan tujuan yang baru, atau menghindari mengakui hal-hal yang telah diperjuangkan seseorang demi perubahan.
Ketika kita tidak mengenal atau menghargai seseorang dalam kondisi yang sedang mereka alami, secara tidak langsung kita menyampaikan bahwa kita hanya menilai mereka berdasarkan versi yang paling nyaman bagi kita.
Pesan ini, meskipun tidak diucapkan, bisa sangat membuat seseorang merasa terasing dan luka. Kesulitan dalam melihat melewati cerita yang telah terbentuk dalam pikiran dapat secara perlahan merusak hubungan.
9. Menganggap Kesunyian sebagai Keamanan, Bukan Sebagai Strategi
Ketenangan seringkali dianggap sebagai bentuk kendali dan cara untuk menjaga diri dari penolakan, ketidaknyamanan, atau kepekaan.
Namun, ketika diterapkan sebagai strategi jangka panjang dalam hubungan, hal ini sering kali lebih berisiko daripada menguntungkan.
Semakin kita berusaha menghindari atau menekan kekacauan di dalam diri, semakin besar arusnya dan semakin sulit untuk berhubungan dengan orang lain dari tempat yang tulus.
Saat kita membiarkan keheningan menggantikan ekspresi diri, kita berhenti menjadi terlihat dan dipahami.
Dan ketika kita berhenti terlihat, kita secara perlahan menghilang dari hubungan yang dulu memegang peranan penting bagi kita.