Iklan

Ibunda Viknes: Anak Saya Gagal ke Amerika, Tapi DBL Bentuk Mentalnya hingga Mendunia

Monday, July 6, 2026, 8:03 AM WIB Last Updated 2026-07-06T12:46:43Z

, MEDAN -Nama Viknes Waren akhir-akhir ini menjadi topik pembicaraan setelah tampil sebagai model di panggung mode internasional. Di balik keberhasilannya, terdapat kisah menarik tentang bangkit dari kegagalan. Bukan sekali, melainkan dua kali.

Ya, sebelum terkenal di dunia mode internasional, lulusan SMA Budi Mulia 2 Yogyakarta ini pernah mengejar impian menjadi pemain basket dan hampir masuk ke dalam tim basket elit pelajar Honda DBL Indonesia All-Star, sebelum cedera menghentikan jalannya.

Peluang Viknes Waren untuk berangkat ke Amerika Serikat bersama tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 hilang karena cedera pergelangan kaki. Padahal, saat itu mantan siswa SMA Budi Mulia 2 Yogyakarta tersebut tampil mengesankan sejak Honda DBL DI Yogyakarta 2018 dan akhirnya mendapatkan kesempatan kembali melalui jalur wild card di DBL Camp.

 

Bagi banyak orang, kegagalan bisa menjadi akhir dari sebuah impian. Namun bukan bagi ibu Nour Malasari, yang akrab dipanggil Mami Megha.

Menurut Mami Megha, kegagalan putranya tidak masuk skuad DBL Indonesia All-Star justru menjadi salah satu titik penting yang membentuk perjalanan hidup Viknes hingga akhirnya menjadi model internasional yang berkarya di Eropa.

"Benar, Viknes gagal pergi ke Amerika melalui DBL karena cedera. Namun bagi saya, yang paling berharga bukanlah itu. Yang ia bawa hingga saat ini adalah nilai-nilai yang ia pelajari selama bermain basket dan dalam DBL," kata Mami Megha.

Viknes memang belum berhasil mewujudkan impiannya melalui jalur basket. Namun, menurut Mami Megha, pengalaman sebagai atlet mahasiswa telah membentuk kepribadian yang menjadi bekal utama ketika Viknes memasuki dunia mode global yang sangat kompetitif.

Ia mengakui masih mengingat ucapan salah satu agensi model yang pertama kali menaungi Viknes.

"Mereka mengatakan kepada saya, Viknes bukan hanya tampan. Dia seorang pejuang. Dia disiplin. Dia sopan. Dan tidak pernah mengeluh," kenangnya.

Untuk Ibu Megha, keempat karakter tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.

 

Ia menyaksikan sendiri bagaimana latihan yang berat dan disiplin dari para pelatih, serta proses panjang mengikuti kompetisi basket pelajar, termasuk DBL, membentuk mental putra bungsunya.

"Jika sekarang dia mampu bertahan di Eropa, bagi saya itu disebabkan oleh DBL dan basket. Di sanalah mentalnya benar-benar diuji," katanya.

Menurut Ibu Megha, bola basket telah mengajarkan Viknes untuk menghargai proses, menerima kekalahan, serta terus bangkit saat menghadapi tekanan.

Ciri khas itulah yang akhirnya membantunya beradaptasi di dunia mode global, sebuah lingkungan yang mengharuskan disiplin tinggi, ketahanan psikologis, serta kemampuan bekerja dalam kondisi penuh tekanan.

"Bagi saya, basket bukan hanya sebuah olahraga. Basket merupakan tempat pembentukan karakter," katanya.

Ibu Megha mengakui bahwa ia tidak pernah menyesal atas kegagalan putranya dalam memasuki DBL Indonesia All-Star.

Karena, di balik kegagalan itu, ia melihat Tuhan sedang membuka jalan yang jauh lebih luas.

"Saya selalu mengatakan kepada Viknes, bahwa jika Allah memberikan suatu kesulitan, pasti ada dua kemudahan. Jangan memandang ujiannya, tetapi lihatlah hadiah yang sedang Allah persiapkan," katanya.

Beberapa tahun setelahnya, pernyataan tersebut diuji kembali.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Viknes memutuskan untuk mengejar impian barunya. Ia menolak beberapa tawaran beasiswa basket dan memilih belajar bahasa Prancis selama hampir setahun agar bisa melanjutkan studi di Rennes, Prancis. Ikut serta dengan kakak perempuannya (Chintia Jaya Malini) yang menikahi seorang dosen di Rennes.

Segala persiapan telah selesai, mulai dari administrasi hingga pengajuan visa. Namun, ketika hari keberangkatan tinggal menghitung hari, wabah COVID-19 menyebar ke seluruh dunia. Prancis memberlakukan karantina wilayah dan semua rencana yang telah dirancang dengan matang kembali rusak.

Kali kedua, Viknes harus menghadapi kenyataan bahwa impiannya gagal.

 

Di tengah masa menunggu tersebut, jalannya hidupnya berubah. Saat lebih sering berada di Jakarta bersama saudara kandungnya yang kedua, Shania Sree Maharani, seorang model, Viknes mendapat perhatian dari sebuah agensi. Pemilik agensi bernama Persona Management, Andhika Dharma Permana memiliki ketajaman pandangan. Ia melihat adanya potensi luar biasa pada diri Viknes.

Ceritanya, Andhika Dharma Permana melihat bahwa Viknes memiliki potensi yang luar biasa. "Ia yang menawarkan Viknes melalui saudaranya. Ketika saudaranya menawarkan Viknes, ia langsung menolak," kenang sang ibu.

"Aku adalah seorang pemain basket. Tidak mungkin menjadi model," kira-kira seperti itu keyakinan Viknes. Baginya, berjalan di atas panggung terasa sangat jauh dari identitas yang selama ini ia bentuk.

Ibu Megha juga tidak memaksa. Demikian pula dengan kakaknya. Ia hanya berkata, "lebih baik mencoba daripada hanya duduk diam."

 

Viknes awalnya enggan. Andhika berusaha meyakinkannya. Salah satu ajakannya adalah meminta Viknes hanya berfoto. Sebagai model foto. Tidak perlu menjadi seorang pemain iklan.

Sesi pemotretan pertama memberikan pendapatan jutaan rupiah. "Bagi anak yang baru lulus SMA pada saat itu, uang sebanyak itu membuatnya sangat senang," ujar Mami Megha.

Dari sana, Viknes mulai tertarik pada dunia modeling. Ia kemudian mengikuti Jakarta Fashion Week (JFW). Berhasil. Selanjutnya datang tawaran kontrak dari agensi internasional.

Anak yang sebelumnya gagal berangkat ke Amerika Serikat bersama DBL Indonesia All-Star, kemudian tidak bisa melanjutkan studinya ke Prancis karena wabah, kini justru telah melakukan perjalanan keliling dunia sebagai model profesional. Ia tampil di berbagai panggung internasional, termasuk Milan Fashion Week, serta mengembangkan karier di Eropa.

 

Bagi Ibu Megha, perjalanan putranya merupakan bukti bahwa setiap kegagalan yang pernah dialami bukanlah akhir dari segalanya.

"Sekarang saya mulai memahami. Dulu mungkin Viknes gagal pergi ke Amerika melalui basket, lalu gagal ke Prancis karena wabah penyakit. Namun ternyata Allah telah menyiapkan jalan lain yang membuat dia bisa melihat dunia dengan cara yang sama sekali tidak pernah kami bayangkan," katanya.

Ibu Megha mengakui pernah mendengar berbagai pendapat negatif saat Viknes memutuskan untuk terjun ke dunia model. Banyak orang meragukan pilihannya, bahkan mengaitkan profesi model laki-laki dengan berbagai prasangka.

 

Namun, sebagai seorang ibu, ia tidak pernah terjebak dalam kecemasan tersebut. Ibu Megha percaya bahwa karakter yang dibentuk selama bertahun-tahun sebagai atlet basket telah menjadi dasar yang kokoh bagi putranya.

"Saya paham bagaimana dia tumbuh. Sejak kecil, hidupnya dihabiskan dalam dunia basket. Pelatih-pelatih basket itu membentuk mental yang luar biasa pada mereka. Dia diajarkan disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan tidak pernah merasa kesal. Oleh karena itu, saya tidak pernah merasa cemas," ujarnya.

Komentar

Tampilkan