Iklan

Mendagri Tito: SARA Tak Lagi Jadi Masalah Masyarakat

Monday, June 1, 2026, 12:47 PM WIB Last Updated 2026-05-31T23:32:25Z
Ringkasan Berita:
  • Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan bahwa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) tidak lagi menjadi isu yang mengganggu masyarakat Indonesia pada masa kini.
  • Bukti ini terlihat dari banyaknya pemimpin daerah yang berasal dari kelompok minoritas dan justru diandalkan memimpin wilayah yang mayoritas.
  • Menurut Tito, masyarakat yang rasional tidak menganggap penting urusan agama, tetapi lebih khawatir dengan hal-hal yang bersifat praktis dan kesejahteraan.

, JAKARTA- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tidak lagi menjadi isu yang mengganggu masyarakat Indonesia pada masa kini.

Zaman sekarang atau masa kini sering disebut dengan istilah era kiwari dalam bahasa Sunda.

Istilah era mengacu pada suatu masa tertentu, sementara kiwari berarti saat ini atau sekarang.

Frasa zaman sekarang ini sering dipakai untuk membandingkan situasi masa lalu dengan keadaan saat ini yang sedang berlangsung.

Bukti ini terlihat dari banyaknya pemimpin daerah yang berasal dari kelompok minoritas dan justru diandalkan memimpin wilayah yang mayoritas penduduknya berbeda.

Hal tersebut disampaikan Tito melalui pidatonya dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di GPIB Paulus Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (30/05/2026) malam.

   

"Apa maksudnya? Masyarakat kita yang rasional tidak menganggap masalah urusan agama, tetapi lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat praktis, seperti kesejahteraan," kata Tito.

Tito memberikan contoh nyata yang terjadi di Maluku Utara.

Ia menyoroti bagaimana Gubernur Sherly Tjoanda yang berasal dari latar belakang etnis Tionghoa berhasil meraih simpati masyarakat, meskipun tinggal di tengah komunitas yang mayoritas beragama Islam.

Sebagai contoh, terdapat seorang pemimpin daerah yang merupakan minoritas, keturunan Tionghoa, dan perempuan. Ia bisa terpilih di masyarakat mayoritas Muslim yang mencapai 90 persen, misalnya di Maluku Utara," ujar mantan Kapolri tersebut.

Menurut Tito, fenomena ini menunjukkan bahwa tujuan utama pembentukan suatu negara tidak didasarkan pada kesamaan latar belakang identitas.

Namun untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduknya.

Ia mengingatkan kembali filosofi terbentuknya sebuah negara yang seharusnya menempatkan kepentingan bersama di atas segala perbedaan.

"Dan inilah lahirnya negara, konsep lahirnya negara menurut Rousseau adalah untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran. Ini bukan urusan etnis, ras, agama, atau hal-hal lainnya," tambahnya.

Komentar

Tampilkan