
Siapa sangka, hewan yang selama ini lebih dikenal dalam pengobatan tradisional justru menjadi dasar dari sebuah studi untuk mengatasi masalah jerawat.
Di tangan sekelompok mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), air liur lintah diteliti sebagai sumber senyawa aktif yang berpotensi menjadi antibiotik alami untuk mengatasi bakteri penyebab jerawat.
Gagasan yang cukup unik membawa tim mahasiswa Farmasi UMB mendapatkan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Melalui penelitian bertajuk "Eksplorasi dan Karakterisasi Senyawa Bioaktif Saliva Lintah (Hirudinaria manillensis) serta Pengujian Nanoemulgel sebagai Antibakteri Cutibacterium acnes", mereka berusaha mengungkap potensi yang selama ini tersembunyi dalam air liur lintah.
Ketua tim, Vera Izzatul Oktaviani menyatakan, gagasan penelitian ini awalnya muncul dari diskusi mengenai tingginya angka kasus jerawat, khususnya pada kalangan remaja dan orang dewasa muda.
Di tengah maraknya penelitian yang menggunakan bahan alami, timnya lebih tertarik mengeksplorasi sesuatu yang belum banyak diteliti.
"Di antara berbagai bahan alami, kami memilih air liur lintah, karena memiliki kandungan bioaktif yang unik dan belum banyak dieksplorasi sebagai pengobatan jerawat. Justru karena masih jarang diteliti, kami melihat kesempatan besar untuk menciptakan inovasi baru yang memiliki nilai ilmiah dan manfaat kesehatan," katanya, Jumat (5/6/2026).
Minat tersebut selanjutnya mendorong tim untuk mempelajari berbagai literatur ilmiah.
Berdasarkan penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa air liur lintah mengandung beberapa biomolekul aktif yang mampu memberikan dampak biologis tertentu.
Potensi ini kemudian ingin mereka uji terhadap Cutibacterium acnes, bakteri yang berperan dalam timbulnya jerawat.
Tidak hanya mengeksplorasi kandungan air liur lintah, tim juga menggabungkannya dengan teknologi nanoemulgel. Teknologi ini dipilih untuk membantu penyerapan senyawa aktif agar bekerja lebih efektif pada kulit.
Namun, proses menuju pendanaan nasional tidak berjalan mudah. Merancang penelitian dengan objek yang tidak biasa memerlukan usaha lebih besar untuk meyakinkan para penilai bahwa gagasan tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Menurut Vera, tantangan terbesar terjadi pada tahap penyusunan proposal. Tim perlu terus-menerus memperkuat konsep penelitian, meninjau berbagai sumber rujukan, serta memastikan gagasan yang diajukan memiliki unsur inovasi sekaligus dapat diwujudkan secara realistis.
"Waktu yang cukup kami gunakan untuk memperkuat dasar ilmiah dari penelitian ini. Kami perlu memastikan bahwa gagasan yang kami ajukan tidak hanya orisinal, tetapi juga layak dilaksanakan serta mampu memberikan kontribusi yang nyata," ujarnya.
Namun, usaha keras tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pengumuman kelulusan pendanaan diumumkan. Rasa terima kasih, haru, dan kebanggaan bersatu dalam diri seluruh anggota tim.
"Kami sangat berterima kasih karena usaha yang telah kami lakukan akhirnya membuahkan hasil. Pendanaan ini menjadi semangat bagi kami untuk menunjukkan bahwa penelitian yang kami ajukan mampu menghasilkan manfaat," ujar Vera.
Di balik keberhasilan tersebut, ada peran dari dosen pembimbing Najwi Hasani, yang mendampingi proses penyusunan proposal hingga lolos seleksi tingkat nasional.
Menurutnya, penelitian ini memiliki keunggulan karena berani mengangkat objek yang belum umum digunakan dalam studi kesehatan kulit.
Menurut Najwi, air liur lintah memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan dalam dunia farmasi. Meskipun demikian, potensi ini masih membutuhkan beberapa penelitian lanjutan agar dapat dipastikan keselamatannya dan efektivitasnya.(/Muhammad Syaiful Riki)