Iklan

Mengenal Budaya Indis: Jawa Bukan Belanda, Lalu Apa?

Wednesday, August 12, 2026, 7:32 AM WIB Last Updated 2026-08-12T12:05:16Z

Selain menyebabkan penderitaan, kolonialisme Belanda di Indonesia juga meninggalkan sebuah budaya campuran, perpaduan yang dikenal sebagai budaya Indis. Bagaimana bentuknya?

Artikel ini dimuat dalam Majalah Intisari edisi Juni 2000 dengan judul "Budaya Indis: Jawa Bukan Belanda Bukan" | Penulis: G. Sujayanto

---

Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini.

---

Intisari-Online.com - Penjajahan Belanda pada abad XVIII hingga pertengahan abad XX tidak hanya menghasilkan kekerasan, tetapi juga memicu terbentuknya kebudayaan khas, yaitu kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budayagado-gadocampuran budaya Barat dengan unsur-unsur budaya Timur.

Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Djoko Soekiman dalam disertasinya, budaya campuran ini seperti darah yang meresap ke dalam seluruh aspek kehidupan manusia pada masa itu,Budaya Hindia dan Pola Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa(1996), yang kemudian dirilis oleh Yayasan Bentang Budaya pada Januari 2000.

Sebelum kedatangan bangsa Belanda di kepulauan Indonesia, di Pulau Jawa telah terdapat para pendatang dari India, Tiongkok, Arab, dan Portugis. Awalnya orang-orang Belanda datang hanya untuk berdagang, namun akhirnya menjadi penguasa.

Awalnya, mereka membangun gudang-gudang untuk menyimpan rempah-rempah di Banten, Jepara, dan Jayakarta. Dengan modal yang besar, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mendirikan gudang penyimpanan serta kantor perdagangan.

Lingkungan sekitarnya dilengkapi dengan benteng pertahanan, sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal.

Bangunan semacam ini berfungsi sebagai tempat tinggal pada masa awal kedatangan orang Belanda di Pulau Jawa. Segala aktivitas perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di bangunan semacam ini.

Gubernur Jenderal Valckenier (1737-1741) merupakan pejabat tertinggi terakhir yang tinggal di dalam benteng. Setelah masa jabatannya, gubernur jenderal penggantinya memilih untuk tinggal di luar benteng. Bahkan ketika situasi di luar kota mulai aman, secara perlahan mereka berani tinggal dan membangun rumah di luar dinding kota.

Pos-pos pengawasan dengan benteng-benteng kecilnya dibangun di Ancol, Jakarta, Rijswijk, Noordwijk, Vijfhoek, dan Angke.

Selain itu, pejabat tinggi VOC membangun rumah-rumah istirahat dan taman yang luas, yang biasa dikenal sebagailandhuisdengan dukungan dari Belanda pada abad ke- XVIII. Ciri-cirinya masih sangat mirip dengan bangunan yang terdapat di Belanda.

Secara perlahan mereka membangun rumah dengan gaya transisi pada abad ke-18, seperti di Jepang, Citrap, dan Pondokgede. Ciri khasnya adalah ruangan-ruangan yang berukuran besar dan banyak.

Ini menunjukkan bangunan landhuisdihuni oleh keluarga besar yang terdiri dari anggota inti, beserta puluhan hingga ratusan budaknya. Gaya hidup semacam ini dilandhuizenitu tidak dikenal di negara Belanda.

Akhirnya, kota-kota awal seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang yang berada di muara sungai dianggap tidak sehat karena dibangun di atas bekas persawahan. Mereka akhirnya memindahkan tempat tinggalnya ke daerah pedalaman Jawa, yang dinilai lebih baik dan sehat.

Di sini mereka membangun rumah tinggal beserta fasilitasnya yang disesuaikan dengan kondisi alam dan lingkungan sekitar dengan memadukan unsur budaya setempat.

Perkembangan budaya baru ini pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup lajang para pegawai pemerintah Belanda. Larangan membawa isteri (kecuali pejabat tinggi) dan mengundang wanita Belanda ke Hindia Belanda mendorong terjadinya campuran darah yang menghasilkan anak-anak campuran serta memunculkan budaya dan cara hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.

Kata "Indis" berasal dari bahasa Belanda.Nederlandsch Indieatau Hindia Belanda, yaitu sebutan untuk wilayah jajahan Belanda di luar negeri yang secara geografis mencakup daerah yang dikenal sebagai Nederlandsch Oost Indie, agar berbeda dengan wilayah jajahan lain bernama Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curacao.

Konsep Indonesia di sini hanya mencakup wilayah budaya Jawa, yaitu tempat khusus di mana budaya Eropa (Belanda) bertemu dengan budaya Jawa sejak abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20.

Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa memperkuat pertemuan antara dua kebudayaan yang sangat berbeda. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan Timur (Jawa), yang memiliki perbedaan etnis serta struktur sosial, saling tercampur menjadi satu.

Lapisan masyarakat kelas atas merupakan pendukung utama budaya Indis. Dalam membangun rumah dengan gaya Indis, para pengusaha atau pedagang memiliki peran yang cukup signifikan, seperti mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta) dan Kotagede (Yogyakarta).

Pada masa Perusahaan Hindia Timur Belanda, secara umum struktur masyarakat dibagi menjadi beberapa kelompok. Masyarakat utama dikenal sebagaisignores, kemudian keturunannya disebut sinyo.

Yang secara langsung merupakan keturunan orang Belanda dengan penduduk asli "grad satu" disebut liplap, sedang "tingkat kedua" disebutgrobiak, dan "tahap ketiga" disebutkasoedik. Liplapbiasanya bekerja sebagai pedagang atau pengusaha, yang sangat diminati adalah menjadi pedagang budak karena memperoleh keuntungan besar.

Ada pun grobiaksebagian besar bekerja sebagai pelaut, nelayan, dan prajurit, sedangkantosoedikbidang minatnya berubah menjadi pemburu dan nelayan.

Telundak untuk santai

Rumah-rumah mewah yang dimiliki oleh pejabat tinggi VOC menjadi awal dari perkembangan kebudayaan Indis. Pembangunan rumah peristirahatan oleh para pemimpin perusahaan, misalnya, dimulai dengan mendapatkan sebidang tanah berupa hutan.

Awalnya mereka memperoleh hak kepemilikan dari penguasa tertinggi Hindia Belanda. Misalnya, rumah dan gereja kecil di Depok dibangun secara mandiri oleh Chastelijn, pemiliknya. Rumah dan kebun milik tuan tanah Materman (yang kini mengingatkan nama daerah Matraman) dibangun sendiri oleh tuan tanah tersebut.

Rumah tempat tinggal orang Belanda pada masa awal di Jawa memiliki tata letak khas yang mirip dengan bangunan di negara asalnya. Di sisi lain, rumah mewah dan perumahan di luar benteng dibangun dalam lingkungan alam dunia Timur, yaitu Jawa.

Sehingga hasil akhirnya berupa campuran bentuk, yaitu tipe rumah Belanda dengan struktur rumah tradisional Jawa. Rumah-rumah dengan gaya Indis.

Rumah mewah awalnya digunakan oleh orang-orang Belanda sebagai tempat tinggal di luar kota, yang selanjutnya juga dibangun di daerah-daerah baru di Batavia. Gaya bangunan rumah seperti ini serupa dengan rumah-rumah para pedagang kaya di kota-kota lama Baarn atau Hilversum, Belanda.

Ciri khas dari rumah-rumah Belanda di Batavia adalah memiliki telundak (sejenis teras) yang lebar. Telundak yang luas ini tidak hanya menjadi bagian dari struktur bangunan, tetapi juga memiliki makna dan fungsi tertentu sebagai alat komunikasi sosial. Telundak berperan sebagai tempat berkumpul yang ideal antara keluarga dan tetangga.

Lahan yang luas ini umumnya digunakan untuk bersantai dan menikmati udara segar di sore hari. Pada masa berikutnya, bangku ditempatkan di sudut-sudutnya. Sebuah pagar rendah dibangun untuk memisahkan dari trotoar jalan, yang kemudian dihilangkan agar mendapatkan ruang yang lebih besar.

Di sore atau malam hari, mereka berkumpul datang ke ruangan ini sambil merokok menggunakan pipacangkolongatau minum-minum, serta mengonsumsi camilan. Terkadang orang berbaring di kursi santai untuk memulihkan energi.

Berdasarkan catatan kuno, ruang yang berada di belakang ruang depan dikenal sebagaivoorhuis. Di dinding ruangan ini terpajang berbagai lukisan sebagai hiasan, selain itu juga terdapat pajangan piring-piring hias dan vas porselin. Di ruangan ini juga terdapat sebuahkerkstoelatau kursi untuk ibadah, khususnya untuk wanita rumah tangga.

Setiap hari Minggu, kursi yang indah dan berukir ini dibawa ke gereja oleh para budak perempuan bersama dengan kotak sirih, payung, kitab suci, dan sebagainya. Di dinding ruangan ini juga tergantung berbagai peralatan seperti senjata atau alat perang seperti senapan, pedang, perisai, tombak, dan lainnya. Pada masa itu, setiap penghuni rumah diwajibkan memiliki senjata untuk ikut menjaga keamanan.

Di dalam ruang zaalditempatkan peralatan rumah tangga seperti meja makan, lemari penyimpanan bumbu, dan meja minum. Lemari hias yang penuh dengan piring dan cangkir keramik juga ditempatkan di dalam atau di atas lemari, bahkan beberapa keramik tersebut ditempatkan pada rak-rak kayu,consol-consol, atau deurpilaster.

Hiasan utama pada ruang zaalini merupakan tangga yang biasa ditempatkan di sudut bagian depan rumah di Belanda, sedangkan di Batavia umumnya ditempatkan di sudut belakang.zaal.

 

Mengamati orang mandi

Di rumah berukuran besar terdapat bangunan tambahan yang digunakan sebagai gudang, tempat menyimpan kayu bakar, tangki air minum, beras, minyak, dan sebagainya. Umumnya, bangunan samping tersebut memiliki beberapa lantai, dengan lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal para pelayan. Kebiasaan menyediakan tempat tinggal bagi pelayan tidak dikenal di Belanda.

Para hamba ini tidak mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai. Keadaan serupa juga terjadi pada ruang-ruang tempat para pelayan tinggal di rumah utama milik para pemimpin Belanda yang juga jarang dipelihara kebersihannya.

Sebagai contoh, seorang budak yang tinggal di dalam rumah van Riemsdijk di Tijgergracht. Di dalam rumah tersebut tinggal tidak kurang dari 200 orang budak, yang terdiri dari anak-anak, orang tua, atau pemuda yang tinggalnya sangat padat.

Di dalam rumah van Riemsdijk terdapat pula struktur berbentuk bangunan kecil yang terbuka yang dikenal sebagaispeelhuisjeyang berada di tepi sungai yang khusus digunakan untuk berendam. Selanjutnya, van Riemsdijk memanfaatkannya sebagai ruang tunggu tamu dengan menghilangkan anak tangga yang mengarah ke arah sungai.

Sementara itu, terdapat dua bangunan kecil beratap yang berada di tepi sungai di depan kediaman Gubernur Jenderal Van der Parra di Jalan Veteran saat ini. Di dalam ruangan bangunan kecil beratap ini ditempatkan satu set kursi untuk bersantai, bahkan juga digunakan sebagai tempat menerima tamu-tamunya. Pintu dekatnya diletakkan di sebelahwastrap(tempat membersihkan kaki sebelum memasuki tangga). Ruangan bagian dalam dibuat sedemikian rupa agar tampak menarik.

Dengan demikian, Tuan Gubernur Jenderal dapat pada pagi hari mengamati setiap orang yang sedang berendam di sungai. Van der Parra tidak tinggal bersama istrinya di Batavia dan tidak selalu pergi ke sungai sepanjang hari, mungkin bangunan ini hanya digunakan sebagai tempat untuk berganti pakaian.

Mungkin juga dimaksudkan sebagai hidrohobi, sebagai petunjuk bahwa ia pernah tinggal di Belanda. Orang yang lahir di Belanda sebenarnya tidak menyukai kebiasaan mandi setiap hari.

Makan sup kura-kura dan daging rusa

Gaya hidup mewah masyarakat Indis terlihat dari keterangan Rooda yang tinggal di Pesanggrahan Tjiampea dekat Bogor. Pada awal abad ke-19, ia mencatat singkat mengenai kehidupan para tuan tanah pemilik pesanggrahan tersebut:

"... Pada pagi hari pukul 05.30 kami dibangunkan oleh bunyi lonceng. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, para tamu segera mengenakan sarung dan kebaya yang tipis. Kami berjalan menuju serambi belakang untuk bersantai sambil minum kopi atau teh disertai manisan dan buah-buahan.

Setelah mandi, para pria berkuda atau naik kereta berkeliling kebun. Selanjutnya mereka membaca surat-surat, koran, menulis, atau membaca. Makan pagi yang mewah dan lezat telah disajikan. Jenis hidangan seperti ini di Eropa biasanya disajikan untuk makan siang.

Sambil menikmati hidangan, telinga kami ditemani suara gamelan dan musik Eropa yang indah. Para wanita kemudian pergi ke kamar mandi, sedangkan para pria berjalan menuju meja biliar. Di tempat ini, orang-orang mendengar alunan organ yang merdu yang diselingi dengan nyanyian piano sambil merokok cerutu, berbicara santai, dan menikmati anggur pagi.

Kira-kira pukul 13.00 adalah saat orang-orang menyantap makanan dengan piring lengkap, yang mencakup berbagai jenis masakan Indis. Contohnya kare dari sarang burung atau sup kura-kura, nasi, sayuran, buah-buahan, berbagai jenis daging sapi, kijang, ikan, bumbu-bumbu, acar, nanas, mangga, dan beragam buah-buahan; mentimun, serta berbagai macam manisan yang direndam dalam minuman anggur. Pelayannya adalah para budak dan pembantu perempuan muda.

Makan siang kali ini diiringi oleh lagu-lagu musik Eropa. Sementara itu, pelayanan dari tuan rumah sangat ramah; tidak terkesan formal dan penuh dengan antusiasme sehingga hidangan selalu menjadi kenangan yang indah. Setelah makan, beberapa tamu memilih untuk beristirahat sejenak, sementara yang lainnya minum teh bersama kue-kue. Berikutnya adalah acara perjalanan keliling dengan naik kuda atau kereta kuda.

Setelah puas berkeliling, mereka diberi kopi, kemudian para tamu muda menari sementara yang lebih tua bermain kartu di meja permainan. Pukul 22.00, orang-orang berkumpul untuk makan malam. Baru pada tengah malam, masing-masing pergi ke kamarnya masing-masing .... "

Bukan mikromosmos

Pola pikir masyarakat Indonesia berakar pada dua budaya yang berbeda, yaitu Belanda dan Jawa yang sangat berbeda satu sama lain. Untuk memahaminya, perlu diketahui adanya suatu pemahaman tentang situasi atau fenomena kekuasaan kolonial dalam berbagai aspek dan proporsinya.

Sebagai contoh, dalam pembangunan rumah tempat tinggal dengan susunan tata ruangnya. Makna simbolis dari bagian tertentu dalam rumah berkaitan erat dengan perilaku nyata penghuninya.

Di kalangan suku Jawa, misalnya, tidak ada ruang khusus yang dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin, generasi, atau hubungan keluarga, bahkan antara anggota dan non-anggota penghuni rumah, fungsi ruang tidak dibagi atau dipisahkan secara jelas.

Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan sistem simbolis secara umum, khususnya gaya tinggal penghuninya. Betapa tidak nyamannya penduduk asli Jawa yang hidup secara tradisional di desa, kemudian pindah untuk tinggal di dalam bangunan rumah di dalam blok atau kompleks dengan suasana rumah bermodel Barat yang modern.

Perabot rumah tangga yang semua terasa asing, serta pembagian ruang dalam rumah yang memiliki fungsi khusus guna menjaga privasi. Semua hal tersebut membuat orang asli semakin merasa tidak nyaman tinggal di dalam rumah yang terasa asing itu.

Pandangan bahwa rumah merupakan model alam mikrokosmos berdasarkan konsep pikiran Jawa tidak ditemukan dalam pemikiran Eropa.

Jelas, tempat tinggal orang Belanda tidak terkait dengan kosmos dan tidak memiliki makna ritual seperti pandangan serta keyakinan Jawa.

Memang, orang Eropa mengenal peletakan batu pertama dan pemasangan bendera di puncak bangunan yang sedang dibangun disertai pesta - minum bir, tetapi hal tersebut merupakan warisan budaya lama mereka. Kegiatan itu hanyalah tiruan dari adat istiadat lama yang maknanya sudah kabur.

Pada orang Jawa menaikkan molo sebuah rumah tinggal dengan selamatan, melekan(malam tidur), meletakkan sehelai kain anti bala,sajendan memilih hari yang baik, memiliki makna simbolis tertentu. Bagi masyarakat Jawa meninggalkan kebiasaan tradisional seperti itu sangat sulit karena adanya keyakinan tentang kekuatan supranatural yang sulit dijelaskan.

Gaya hidup dan struktur rumah penduduk Indis pada tahap awal memiliki ciri khas budaya Belanda. Hal ini terjadi karena para pendatang dari bangsa Belanda yang pertama kali datang ke Indonesia membawa budaya asli dari negara mereka.

Pengaruh budaya Belanda yang sangat besar secara perlahan mulai berkurang, terutama setelah generasi keturunan mereka yang lahir dari pernikahan dengan penduduk Jawa semakin meningkat jumlahnya.

Perkawinan antara mereka menghasilkan masyarakat Indo. Mereka menyadari pentingnya mempertahankan budaya Belanda agar tetap menjadi yang teratas sebagai upaya menjaga martabat sebagai bangsa yang berkuasa.

Masyarakat Indo dan para priyayi baru masih memandang pentingnya tetap ada budaya masa lalu yang dihargai. Mereka merasa perlu mengadopsi budaya Barat untuk meningkatkan karier, jabatan, serta status dalam masyarakat kolonial.

Hal semacam ini terlihat, misalnya, dari cara mereka berinteraksi, dalam kegiatan sehari-hari, seperti menghargai waktu, metode dan disiplin kerja, dan lain sebagainya.

Kekuatan si "jago" di atas rumah Peran penting si "jago" di atas rumah Arti penting si "jago" yang berada di atas rumah Makna dari si "jago" di atas rumah Tantangan si "jago" di atas rumah Fungsi utama si "jago" di atas rumah Keberadaan si "jago" di atas rumah Peranan si "jago" dalam situasi tertentu Pentingnya posisi si "jago" di atas rumah Tanggung jawab si "jago" di atas rumah

Di sisi lain, dampak dari pertemuan dan percampuran peradaban Jawa dengan Eropa (Belanda) menghasilkan gaya budaya yang campuran,gado-gadoDi mata masyarakat Jawa, pendapat budaya Indis dianggap kasar atau tidak Jawa. Sementara itu, di pandangan orang Belanda, budaya tersebut dianggap rendah dan aneh.

Banyak kota di Jawa memiliki nama jalan atau pemukiman yang menggunakan nama orang atau bahasa Belanda (Eropa), yang sering kali tidak dikenal oleh masyarakat sekarang.

Di sisi lain, hiasan di bagian atap rumah menjadi salah satu ciri khas budaya Hindia. Di Jawa, hiasan pada bagian atap rumah tidak terlalu umum, kecuali pada bangunan-bangunan yang digunakan untuk peribadahan (masjid, gereja, pura, dan candi). Pada bangunan rumah Eropa, hiasan atap mendapatkan perhatian khusus dan memiliki makna tertentu, baik dari segi keindahan, status sosial, maupun keyakinan.

Banyak rumah penduduk di Demak, Jawa Tengah, memiliki atap yang dihiasi dengan barisan lempengan terakota yang dibentuk menyerupai tokoh-tokoh wayang, berjejer dengan gambar gunungan tepat di tengah. Setiap lempengan terakota ini didekorasi dengan mozaik dari pecahan cermin, sehingga pada siang hari memantulkan cahaya yang mengkilap. Hiasan atap rumah-rumah di Demak ini jelas hanya bertujuan sebagai hiasan belaka, tanpa memiliki makna simbolis tertentu.

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia sejak awal abad ke-16 berdampak pada berbagai aspek kebudayaan, termasuk dalam hal hiasan atap bangunan rumah. Di Belanda yang memiliki iklim yang sangat ekstrem, penunjuk arah angin dahulu merupakan alat yang sangat penting.

Pada Zaman Pertengahan, tidak semua orang memiliki kebebasan untuk membuat secara sembaranganwindvaan(petunjuk arah angin) karena adanya aturan-aturan tertentu yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, baik mengenai bentuk maupun wujudnya.

Misalnya seorang ridder(duke) di atas puncak istananya denganwindvaanberbentuk seperti bendera, sedangkan untukbaanderheer(pejabat biasa) menggunakan alat penunjuk berbentuk persegi empat. Pembantunya menggunakan tongkat denganwindvaan berhiaskan mahkota.

Di Eropa saat ini, khususnya di Belanda, hiasan puncak berupa penunjuk angin sering kali menampilkan berbagai jenis usaha atau pekerjaan yang dimiliki oleh pemiliknya.

Saat kekuasaan Hindia Belanda jatuh kepada pasukan Jepang pada tahun 1942, perkembangan budaya Indis juga terhenti. Gaya hidup mewah para penduduk Indis terganggu oleh Perang Dunia II yang sedang berlangsung dan mengurangi semangat hidup mereka. Kesulitan hidup selama masa perang juga menghentikan segala aktivitas seni.

Meskipun masih banyak bangunan rumah dengan gaya Indis yang berdiri tegak hingga saat ini, gaya hidup para penghuninya yang mencerminkan budaya Indis di Indonesia telah berakhir.

Namun, sebagai hasil dari kebudayaan, beberapa akar budaya Indis masih bertahan di tengah unsur-unsur budaya yang baru. Peradaban Indis tidak lagi menjadi sumber kebanggaan sebagai identitas kelompok masyarakat dan sangat ditentang pada masa lalu serta revolusi fisik, tetapi telah menyatu.

Karena belum ada nilai-nilai yang baru, beberapa unsur peradaban yang umum dianut dan dihasilkan oleh kalangan terpelajar, baik priyayi pribumi maupun golongan Indo, serta para pegawai pemerintahan dari masa Hindia Belanda, masih tetap berlangsung.

Sementara itu di Belanda, masyarakat yang lahir atau pernah tinggal di Indonesia tetap mempertahankan budaya Indis. Pasar malam Tongtong di Den Haag, Restoran Indische dengan hidangan yang disajikanIndische rijsttafelseperti soto, nasi goreng, sate ayam, wedang ronde, sekoteng, dan kini banyak dikunjungi oleh orang. (G. Sujayanto)

Komentar

Tampilkan