Iklan

Hutan Lindung Kuansing Kembali Dirusak PETI, Air Sumur Warga Menghitam

Wednesday, July 8, 2026, 7:19 PM WIB Last Updated 2026-07-08T00:22:51Z
Hutan Lindung Kuansing Kembali Dirusak PETI, Air Sumur Warga Menghitam

, KUANSING– Wilayah hutan lindung yang seharusnya menjadi penghalang terakhir menjaga keseimbangan ekosistem di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) kembali tidak mampu menghadapi serbuan aktivitas penambangan emas ilegal.

Di balik kerumunan pohon, para pelaku diduga melakukan penambangan emas secara ilegal yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang mulai terasa oleh masyarakat.

Warga yang tinggal di sekitar hutan lindung mengeluhkan air sumur mereka yang menjadi keruh. Padahal, warga sekitar memanfaatkan air sumur tersebut untuk kebutuhan makan dan minum.

Laporan dugaan pencemaran tersebut kemudian disampaikan oleh masyarakat melalui layanan Call Center Polri 110 pada hari Senin (6/7/2026) kemarin sekitar pukul 12.46 WIB.

Tidak memerlukan waktu lama, laporan telah diterima oleh Petugas Pelayanan SPKT Polres Kuansing dan segera disampaikan kepada Polsek Kuantan Tengah.

Respons cepat menjadi awal dari penggerebekan ke wilayah hutan lindung yang berada di jalur masuk melalui SD Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya.

Kepala Sektor Kuantan Tengah AKP Linter Sihaloho, Selasa (7/7/2026), menyampaikan bahwa personel yang diterjunkan adalah tim gabungan dari personel Pamapta Polres Kuansing, piket Reskrim, dan Intelkam.

"Tim harus melewati jalur sempit menuju tempat yang dilaporkan oleh warga. Lokasi cukup jauh dari jalan beton dan pemukiman," kata AKP Linter Sihaloho.

Saat tiba di tempat kejadian, kondisi sudah sepi. Diduga pelaku telah lebih dulu pergi dari area setelah mengetahui kedatangan petugas.

Namun, bekas aktivitas pertambangan ilegal menurut AKP Linter masih terlihat jelas.

Petugas menemukan tujuh unit perahu karet, alat bantu yang umum digunakan dalam kegiatan PETI, tergeletak di lokasi dalam keadaan tidak berfungsi.

"Kegiatan PETI di sana masih terlihat baru, lokasinya tersembunyi di tengah hutan. Beberapa waktu lalu, tempat ini pernah diberantas, tetapi pelaku secara diam-diam kembali melakukan aktivitasnya," kata AKP Linter.

Untuk mencegah peralatan digunakan kembali, polisi langsung merusak seluruh alat dan perangkat hingga tidak dapat berfungsi lagi.

Pemeriksaan kemudian diperluas ke wilayah sekitar. Di balik semak-semak, petugas menemukan dua unit mesin robin yang sengaja disembunyikan oleh pelaku.

Kedua mesin tersebut segera dihancurkan dengan cara dirobek dan dibakar di tempat kejadian sebagai bentuk tindakan keras terhadap alat-alat yang digunakan dalam kejahatan lingkungan.

Tidak hanya itu, satu unit mesin robin lainnya berhasil ditemukan sebagai barang bukti dan dibawa ke Polres Kuansing guna keperluan penyelidikan. Kini polisi terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa pemilik peralatan tersebut serta berusaha menangkap pelaku yang telah kabur," kata AKP Linter.

AKP Linter Sihaloho menekankan bahwa setiap laporan dari masyarakat akan segera ditangani sebagai bentuk komitmen Polri dalam mengatasi PETI yang terus mengancam kelestarian lingkungan.

Kami menghargai perhatian masyarakat yang telah memberikan laporan mengenai dugaan aktivitas PETI. Setiap informasi yang diterima melalui Call Center 110 akan kami tangani dengan cepat dan profesional. Polres Kuansing berkomitmen untuk terus menegakkan hukum terhadap kegiatan pertambangan emas tanpa izin karena selain melanggar aturan, juga menyebabkan kerusakan lingkungan serta berdampak pada kehidupan masyarakat," tegas AKP Linter Sihaloho.

Ia menegaskan bahwa kegiatan PETI tidak hanya melanggar peraturan hukum, tetapi juga menyebabkan dampak berat terhadap ekosistem.

Kekeruhan air sumur warga menjadi salah satu tanda yang tidak boleh dianggap remeh, mengingat sumber air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

"Kami mengajak masyarakat untuk tidak terlibat dalam kegiatan pertambangan ilegal serta tetap aktif memberikan informasi jika mengetahui adanya PETI maupun tindak pidana lainnya," katanya.

(/Guruh Budi Wibowo)

Komentar

Tampilkan