Kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan akan kembali mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (7/7), setelah sebelumnya berakhir melemah 32 poin menjadi Rp 17.995 per dolar AS pada perdagangan Senin (6/7).
Ahli Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh suasana negatif di dalam negeri.
"Untuk perdagangan (7/7), mata uang Rupiah mengalami fluktuasi tetapi ditutup melemah dengan kisaran Rp 17.990 hingga Rp 18.050," kata Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (7/7).
Ibrahim menyebutkan bahwa pasar merespons secara negatif setelah Fitch Ratings dalam laporan terbaru mereka mengungkapkan ketidakstabilan kondisi ekonomi makro Indonesia. Lembaga peringkat tersebut memperhatikan beberapa indikator, mulai dari penurunan nilai tukar rupiah, pengurangan cadangan devisa, hingga arus modal yang keluar secara besar-besaran.
Namun, fokus utama Fitch berada pada penurunan kepercayaan investor yang dipicu oleh semakin buruknya tata kelola ekonomi.
Menurut Ibrahim, tekanan ini memperkuat kecemasan para pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. Fitch bahkan mengingatkan bahwa tekanan yang terus-menerus berisiko meningkatkan beban utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus menaikkan potensi risiko penurunan peringkat kredit negara Indonesia.
"Pada Maret 2026, Fitch tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di tingkat BBB, tetapi mengubah prospeknya (outlook) menjadi negatif," katanya.
Selain opini dari Fitch Ratings, pasar juga terpengaruh oleh penurunan kinerja perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 1,61 miliar pada Mei 2026.
Pencapaian ini mengakhiri keuntungan perdagangan yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut dan semakin memperparah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia terus mengambil langkah-langkah stabilisasi di pasar keuangan. Bank sentral memperkuat intensitas intervensi agar mekanisme pasar tetap berjalan lancar. Intervensi dilakukan secara terus-menerus melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar primer.
Selain itu, Bank Indonesia juga memperkuat kerja sama dan komunikasi dengan perusahaan serta pelaku pasar sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan dalam situasi yang semakin menghadapi tekanan dari faktor dalam negeri maupun internasional.