Oleh: Rofiq Ali Muhsin*
Dalam beberapa bulan terakhir, ruang publik kita kembali dipenuhi kabar yang memprihatinkan. Tawuran antarremaja, perundungan di sekolah, penyalahgunaan media sosial, hingga berbagai bentuk kenakalan murid silih berganti menghiasi pemberitaan. Hampir setiap kali peristiwa itu terjadi, arah tudingan nyaris selalu sama: sekolah. Guru dianggap gagal mendidik, kepala sekolah dinilai tidak mampu membina, bahkan mutu pendidikan ikut dipertanyakan. Seolah-olah setiap perilaku seorang murid sepenuhnya merupakan cerminan keberhasilan atau kegagalan sekolah.
Namun, benarkah demikian?
Cara pandang seperti inilah yang membuat sekolah sering menjadi “tertuduh utama” setiap kali terjadi penyimpangan perilaku murid. Padahal, pendidikan tidak pernah berlangsung hanya di dalam pagar sekolah. Ia dimulai di rumah, bertumbuh di sekolah, lalu terus dibentuk oleh lingkungan sosial dan ruang digital yang setiap hari diakses anak-anak. Karena itu, menempatkan sekolah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab bukan hanya tidak adil, tetapi juga menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Jika seorang murid meraih prestasi membanggakan, kita jarang mengatakan bahwa keberhasilan itu sepenuhnya milik sekolah. Kita mengakui adanya peran keluarga yang mendampingi, guru yang membimbing, lingkungan yang mendukung, bahkan usaha keras anak itu sendiri. Namun ketika seorang murid melakukan pelanggaran atau terlibat kenakalan, mengapa sekolah justru menjadi pihak pertama yang disalahkan?
Pertanyaan inilah yang seharusnya mengantarkan kita pada cara pandang baru tentang pendidikan.
Keberhasilan pendidikan tidak pernah dibangun oleh satu institusi. Ia lahir dari sinergi tiga pilar utama, yaitu keluarga sebagai fondasi nilai dan karakter, sekolah sebagai ruang pengembangan potensi, serta masyarakat bersama pemerintah sebagai lingkungan yang menopang tumbuh kembang anak.
Pilar pertama adalah keluarga. Rumah merupakan sekolah pertama bagi setiap anak, sedangkan orang tua adalah guru pertama yang dikenalnya. Jauh sebelum mengenal buku pelajaran, seorang anak telah belajar tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, sopan santun, dan kasih sayang dari kehidupan sehari-hari di rumah.
Yang membentuk karakter anak bukan semata-mata nasihat, melainkan keteladanan. Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Karena itu, nilai-nilai yang ingin dibangun sekolah akan jauh lebih mudah tumbuh apabila telah lebih dahulu hidup di dalam keluarga.
Sebaliknya, sekolah akan menghadapi tantangan yang tidak ringan apabila nilai yang diajarkan di kelas bertolak belakang dengan pengalaman yang diterima anak di rumah. Tidak mengherankan apabila berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan belajar maupun perkembangan karakter anak.
Namun keluarga saja tentu tidak cukup. Anak juga membutuhkan ruang untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi. Di sinilah sekolah mengambil peran.
Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan. Di era ketika informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui internet dan kecerdasan buatan, peran guru telah berkembang menjadi pembimbing, fasilitator, sekaligus pembentuk karakter. Guru membantu murid belajar berpikir kritis, bekerja sama, menghargai perbedaan, menyelesaikan persoalan, dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Guru memang memiliki peran yang sangat besar. Namun guru tidak memiliki murid selama dua puluh empat jam. Jika seorang anak berada di sekolah sekitar tujuh hingga delapan jam setiap hari, maka sebagian besar waktunya justru dihabiskan bersama keluarga dan lingkungan tempat ia tumbuh. Sulit mengharapkan sekolah memperbaiki seluruh persoalan perilaku anak apabila dua ruang pendidikan lainnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sekolah juga harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Murid akan berkembang secara optimal ketika mereka merasa dihargai, dipercaya, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh. Pendidikan yang baik tidak hanya melahirkan murid yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang tangguh, peduli, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Meski demikian, keluarga dan sekolah tetap belum cukup. Ada pilar ketiga yang sering luput dari perhatian, yakni masyarakat bersama pemerintah.
Anak-anak tidak hidup hanya di rumah dan sekolah. Mereka juga hidup di lingkungan sosial, di ruang digital, di media sosial, di tempat ibadah, di lapangan bermain, bahkan di jalanan. Semua itu merupakan ruang belajar yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Bayangkan seorang murid yang setiap hari diajarkan kejujuran di rumah dan sekolah, tetapi menyaksikan praktik ketidakjujuran sebagai sesuatu yang lumrah di sekitarnya. Atau seorang anak yang diajarkan sopan santun, tetapi setiap hari mengonsumsi konten digital yang dipenuhi caci maki, kekerasan verbal, dan ujaran kebencian. Dalam situasi seperti itu, pendidikan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran.
Karena itu, masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak. Demikian pula pemerintah berkewajiban menghadirkan kebijakan, layanan, perlindungan, dan fasilitas pendidikan yang memungkinkan setiap anak berkembang secara optimal.
Ketiga pilar tersebut tidak dapat dipisahkan. Ketika salah satunya melemah, dua pilar lainnya akan bekerja jauh lebih berat.
Sayangnya, yang masih sering terjadi justru budaya saling menyalahkan. Guru mengeluhkan kurangnya dukungan keluarga. Orang tua merasa sekolah belum maksimal membimbing anaknya. Masyarakat menganggap pendidikan adalah urusan sekolah. Sementara pemerintah terus didorong untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan.
Padahal, pendidikan tidak membutuhkan pihak yang saling mencari kambing hitam. Pendidikan membutuhkan kolaborasi.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, kolaborasi tersebut menjadi semakin mendesak. Anak-anak hari ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi, pengaruh media sosial, dan perkembangan kecerdasan buatan yang mengubah cara mereka belajar, berkomunikasi, bahkan memandang kehidupan. Tidak ada satu lembaga pun yang mampu menghadapi seluruh tantangan itu sendirian.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Keberhasilan seorang murid bukan hanya prestasi sekolah. Sebaliknya, kegagalan seorang murid juga bukan semata-mata kegagalan sekolah. Pendidikan adalah kerja bersama yang menuntut keterlibatan semua pihak.
Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Mengapa sekolah gagal mendidik murid?” dan mulai bertanya, “Apa yang sudah kita lakukan bersama untuk mendidik anak-anak kita?”
Sebab, setiap anak sesungguhnya sedang dibentuk oleh tiga ruang sekaligus: rumah, sekolah, dan masyarakat. Jika salah satunya rapuh, dua lainnya akan bekerja lebih keras. Namun jika ketiganya saling menguatkan, pendidikan tidak hanya melahirkan murid yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter, berintegritas, dan siap menghadapi kehidupan. Dan mungkin, di situlah makna keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.
* Kepala SMKN 5 Madiun
