Iklan

Kampung Keramik Dinoyo, Wisata Liburan Sekolah yang Menarik

Monday, June 15, 2026, 11:08 PM WIB Last Updated 2026-06-16T00:53:44Z
Kampung Keramik Dinoyo, Wisata Liburan Sekolah yang Menarik
Ringkasan Berita:
  • Informasi tempat wisata Kampung Keramik Dinoyo yang terletak di Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang
  • Area tersebut telah dikenal sebagai pusat pengrajin keramik sejak beberapa puluhan tahun yang lalu.
  • Siono Nur Rizky, pengrajin dan pemilik toko di kawasan Kampung Keramik Dinoyo mengatakan, masih terdapat banyak kunjungan yang datang mulai dari siswa TK, sekolah dasar hingga mahasiswa.

, KOTA MALANG- Menginjak musim liburan sekolah tahun 2026, para orang tua tidak perlu khawatir mencari lokasi wisata di Kota Malang.

Di Kota Malang terdapat banyak sekali objek wisata yang menjadi tujuan utama.

Bukan hanya sekadar berwisata, tetapi ada pula yang mengusung konsep wisata yang bersifat edukatif.

Salah satu di Desa Keramik Dinoyo Kota Malang.

Kampung Wisata Keramik Dinoyo yang berada di Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini dianggap sangat ikonik.

Area tersebut telah dikenal sebagai pusat pengrajin keramik sejak beberapa puluhan tahun lalu, serta menjadi tempat favorit bagi orang tua untuk membawa anak-anak mereka menghabiskan liburan dengan aktivitas yang bermanfaat dan penuh kreativitas.

Siono Nur Rizky, pengrajin dan pemilik toko di kawasan Kampung Keramik Dinoyo mengatakan bahwa masih banyak kunjungan yang datang mulai dari siswa TK, sekolah dasar hingga mahasiswa.

"Masih banyak orang yang datang ke sini, mereka juga belajar membuat keramik," jelas Siono kepada , Sabtu (13/6/2026).

Seorang pria berusia 60 tahun menjelaskan bahwa bagi masyarakat umum atau para wisatawan yang ingin datang dan menyaksikan langsung proses pembuatan keramik, tidak diperlukan persyaratan khusus.

Pengunjung dapat langsung pergi ke tempat tersebut. Namun, aturan yang berbeda berlaku untuk kelompok akademik.

"Untuk mahasiswa, biasanya ada kebutuhan wawancara atau penelitian, maka harus membawa surat keterangan resmi dari universitas atau fakultasnya," jelas Siono kepada .

Siono mengatakan kegiatan pariwisata juga didukung oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.

Selain mahasiswa, pengunjung dan pelanggan kebanyakan terdiri dari ibu-ibu serta sesekali turis asing.

"Mayoritas ibu-ibu, biasanya membeli soufenir untuk acara pernikahan juga," katanya.

Siono juga memanfaatkan media digital untuk mencapai pasar yang lebih luas.

"Alhamdulillah di tempat saya masih termasuk banyak (pembeli) karena saya rutin membagikan video-video di TikTok," katanya.

"Banyak pengunjung yang saya tanyai mengetahui lokasi ini dari mana, kebanyakan menjawab melalui TikTok," tambahnya.

Meskipun banyak pengunjung, Siono dan beberapa pengrajin lainnya harus berpikir keras di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah.

Kenaikan harga bahan baku serta kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang mencapai sekitar 25 persen menjadi tantangan besar yang menyebabkan penurunan jumlah pengunjung wisatawan.

Ia menyampaikan bahwa sebelum terjadinya penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG, situasi penjualan serta kunjungan tergolong stabil.

Namun, dampak berantai dari kenaikan pos-pos tersebut mulai terlihat pada pendapatan dan jumlah pengunjung harian.

"Biaya meningkat, sehingga pengunjung sedikit berkurang dibandingkan sebelum kenaikan harga," keluh Siono.

"Yang paling terasa kenaikannya adalah bahan baku, kemudian LPG untuk bahan bakar pembakaran keramik, kenaikannya mungkin sekitar 25 persen," kata Shiono saat diwawancarai di rumah produksinya.

Mengenai barang yang dijual, kerajinan keramik di Desa Keramik Dinoyo menawarkan variasi harga yang luas, tergantung pada jenis, ukuran, serta tingkat kesulitan pembuatannya.

Produk pesanan khusus, seperti yang berasal dari Bali, dijual dengan harga mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 10.000 per unit.

Produk biasa yang tersedia dalam galeri dijual dengan harga mulai dari Rp 5.000 hingga mencapai Rp 5 juta untuk barang premium.

Saat ini, barang yang paling diminati oleh pembeli adalah suvenir, cangkir (mug), piring hias, serta vas bunga.

Siono mengatakan bahwa pesanan vas bunga biasanya mengalami peningkatan yang signifikan menjelang dan selama bulan Ramadan.

Tren pasar terkini juga mencerminkan permintaan yang besar dari konsumen dan pedagang berasal dari Bali.

Sementara itu, salah seorang pengunjung, Tika, mengatakan bahwa ia sengaja menyisihkan waktunya untuk datang langsung ke Kampung Keramik Dinoyo guna mencari hiasan unik untuk kantornya.

Ia tertarik pada tren penggunaan hiasan yang terbuat dari tanah liat dan keramik yang kembali diminati di media sosial belakangan ini.

"Kami sedang mencari sesuatu yang mirip dengan pot bunga, tetapi dia terbuat dari keramik. Bentuknya unik dan lucu seperti yang ada sekarang," kata Tika saat diwawancarai di galeri keramik milik Siono.

Tika menambahkan, ia mengetahui pusat kerajinan ini melalui rekomendasi dari kerabat dekatnya.

Berdasarkan data tersebut, ia ingin menguji sendiri keragaman dan kekhasan bentuk produk yang dihasilkan oleh para pengrajin lokal asli Malang.

"Saya tahu tempat ini dari teman. Teman saya menyarankan saya datang ke sini, katanya di sini barang-barangnya menarik dan unik, jadi saya datang," tambah perempuan yang baru pertama kali mengunjungi pusat keramik tersebut.

Saat tiba di tempat tersebut, ia mengakui cukup terkejut melihat beragam produk yang ditawarkan.

Menurutnya, variasi produk keramik yang tersedia sangat banyak dan beragam, sehingga memberikan banyak pilihan bagi para konsumen yang menginginkan barang-barang dengan nilai estetika yang tinggi.

"Ah, banyak sekali pilihannya. Bukan hanya pot bunga, ada juga piring yang barangnya menggemaskan, unik-unik bentuknya," kata karyawan bank itu.

Meskipun ini kali pertama ia berkunjung dan hanya berencana membeli beberapa barang dalam jumlah sedikit untuk koleksi pribadinya, Tika merasa sangat puas dengan variasi desain yang ditawarkan oleh para pengrajin Kampung Dinoyo.

Komentar

Tampilkan