Iklan

Air dari Perspektif Serageldin, Gleick, Buiter, dan Fitrah

Saturday, June 13, 2026, 5:27 PM WIB Last Updated 2026-06-13T07:06:33Z

.CO.ID, JAKARTA --Pada abad ke-20, dunia dihebohkan oleh persaingan dalam perebutan minyak. Negara-negara besar membangun armada militer, menggulingkan pemerintah, dan membentuk konsorsium global untuk memastikan pasokan energi fosil. Minyak menjadi elemen penting dalam geopolitik modern. Siapa yang menguasai minyak, maka ia memiliki pengaruh signifikan terhadap perekonomian global.

Namun, memasuki abad ke-21, secara perlahan muncul kesadaran baru bahwa ada sesuatu yang mungkin jauh lebih penting daripada minyak. Sesuatu yang lebih mendasar daripada emas, saham, atau teknologi canggih. Sesuatu yang diam-diam menjadi fondasi seluruh peradaban manusia sejak awal sejarah: air.

Dulu, banyak orang hanya melihat air sebagai masalah lingkungan, seperti urusan sungai, bendungan, irigasi, atau sanitasi. Namun, sejumlah pemikir mulai menyadari bahwa air sebenarnya sedang menjadi pusat persaingan ekonomi dan geopolitik di dunia modern. Salah satu tokoh yang paling dikenal dalam wacana ini adalah Ismail Serageldin (Wakil Presiden Bank Dunia, kemudian memimpin Bibliotheca Alexandria di Mesir). Ia pernah mengeluarkan pernyataan yang sangat menantang:

Perang-perang pada abad mendatang akan dipicu oleh sumber daya air.

Saat pernyataan tersebut muncul di awal tahun 1990, banyak orang merasa pernyataan itu terlalu berlebihan.

Dunia pada masa itu masih sibuk memikirkan globalisasi, liberalisasi perdagangan, serta antusiasme setelah Perang Dingin. Namun, tiga dekade kemudian, peringatan Serageldin terasa semakin jelas. Lihatlah peta dunia saat ini.

Mesir dan Ethiopia berselisih terkait bendungan di Sungai Nil. India dan Pakistan mengalami ketegangan lama karena Sungai Indus. Turki menguasai hulu Sungai Tigris dan Euphrates. Gaza menghadapi krisis air yang berlarut. Afrika mengalami persaingan akibat kekeringan. Bahkan negara-negara maju mulai menghadapi tekanan berat terhadap cadangan air mereka. Dunia mulai menyadari bahwa air bukan hanya kebutuhan dasar.

Air merupakan kekuatan geopolitik. Pandangan ini kemudian diperkuat oleh Peter H. Gleick melalui artikelnya yang sangat berpengaruh, berjudul Water and Conflict: Fresh Water Resources and International Security, yang dipublikasikan dalam International Security.

Jika Serageldin memberikan peringatan penting, maka Gleick menjelaskan mekanismenya secara terstruktur. Ia menunjukkan bahwa air dapat berubah menjadi: pemicu perselisihan, alat penghancur, sasaran konflik, bahkan korban dari perang. Konsep ini sangat berkaitan dengan perang zaman sekarang.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana infrastruktur air dapat rusak akibat konflik. Bendungan bisa digunakan sebagai alat tekanan politik. Pasokan air dapat diputus agar melemahkan masyarakat sipil. Sungai yang melintasi batas negara berubah menjadi sumber ketegangan geopolitik. Air secara perlahan beralih dari sumber kehidupan menjadi alat kekuasaan.

Leonardo da Vinci menyebut air sebagai penggerak seluruh alam, sedangkan W H Auden mengingatkan bahwa ribuan orang mungkin hidup tanpa cinta, tetapi tidak ada yang bisa hidup tanpa air. Lao Tzu pernah berkata bahwa tidak ada yang lebih lembut daripada air, namun tidak ada yang mampu mengalahkan air. Dalam nada yang lebih spiritual, Jalaludin Rumi melihat manusia bukan hanya sekadar tetesan air di lautan, melainkan seluruh samudera dalam satu tetes air.

Namun pada era modern, nada reflektif tersebut berubah menjadi nada peringatan. Ismail Serageldin memperingatkan bahwa perang abad berikutnya akan berkaitan dengan air, Peter H. Gleick menjelaskan bagaimana air bisa menjadi alat persaingan dan sarana pengaruh, sementara Willem Buiter menganggap air sebagai aset fisik yang paling penting di masa depan. Di tengah semua ini, Vandana Shiva mengingatkan dunia bahwa air bukan hanya barang dagangan, tetapi merupakan kehidupan itu sendiri.

Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari teks tersebut: 1. Inilah ironi besar dari peradaban modern. Sesuatu yang seharusnya menjadi berkah bersama justru mulai diperebutkan seperti senjata strategis. Namun, kisah tentang air tidak hanya terbatas pada politik dan konflik. Dunia keuangan global juga mulai memandang air sebagai wilayah ekonomi baru. Di sinilah nama Willem Buiter muncul. Pada tahun 2011, ekonom ternama dari Citigroup ini memberikan analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya, pasar air suatu saat akan melebihi minyak, pertanian, bahkan logam mulia. 2. Ini adalah ironi besar dalam peradaban modern. Sesuatu yang seharusnya menjadi berkah bagi semua justru mulai diperebutkan seperti senjata strategis. Namun, cerita mengenai air tidak hanya berhenti pada geopolitik dan konflik. Dunia finansial global juga mulai melihat air sebagai bidang ekonomi yang baru. Di sini muncul nama Willem Buiter. Tahun 2011, ekonom papan atas dari Citigroup ini membuat analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya, pasar air nantinya akan melampaui minyak, pertanian, bahkan logam mulia. 3. Inilah ironi besar dari kemajuan peradaban modern. Sesuatu yang semestinya menjadi anugerah bersama justru mulai diperlombakan seperti senjata strategis. Namun, cerita tentang air tidak hanya terkait dengan politik dan perang. Dunia keuangan global juga mulai melihat air sebagai wilayah ekonomi baru. Di sinilah nama Willem Buiter muncul. Pada 2011, ekonom ternama dari Citigroup ini memberikan analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya, pasar air suatu hari akan melebihi minyak, pertanian, bahkan logam mulia. 4. Ini adalah ironi besar dalam era modern. Sesuatu yang seharusnya menjadi berkah bersama justru mulai diperebutkan seperti senjata strategis. Namun, kisah tentang air tidak hanya berakhir pada geopolitik dan konflik. Dunia finansial global juga mulai memandang air sebagai bidang ekonomi yang baru. Di sinilah muncul nama Willem Buiter. Pada 2011, ekonom terkenal dari Citigroup ini menyampaikan analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya, pasar air akan melampaui minyak, pertanian, bahkan logam mulia. 5. Berikutnya adalah ironi besar dalam peradaban modern. Sesuatu yang seharusnya menjadi berkah bersama justru mulai diperjuangkan seperti senjata strategis. Namun, cerita mengenai air tidak hanya terkait dengan politik dan perang. Dunia keuangan global juga mulai melihat air sebagai area ekonomi baru. Di sinilah nama Willem Buiter muncul. Pada 2011, ekonom hebat dari Citigroup ini memberikan analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya, pasar air akan melebihi minyak, pertanian, bahkan logam mulia.

Pernyataan tersebut terdengar ekstrem. Namun, logikanya sebenarnya sederhana. Minyak masih memiliki alternatif, seperti energi matahari, angin, dan nuklir. Logam bisa dipulihkan kembali. Namun, air? Tidak ada pengganti biologis untuk air. Manusia bisa hidup tanpa ponsel pintar. Manusia bisa hidup tanpa mobil. Bahkan manusia bisa hidup tanpa listrik modern. Tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa air. Oleh karena itu, Buiter memandang air sebagai: aset terakhir, aset utama masa depan.

Dan mungkin ini adalah titik paling menimbulkan kekhawatiran dalam peradaban modern. Ketika air mulai dianggap sebagai aset ekonomi, maka logika pasar secara perlahan masuk ke inti kehidupan manusia. Air mulai diperdagangkan. Hak atas air mulai dijual belikan. Pengusahaan air semakin meluas. Perusahaan besar internasional memasuki sektor sumber daya air. Bahkan, pasar berjangka air mulai muncul dalam dunia keuangan.

Air secara perlahan bergerak dari hak dasar menjadi alat investasi. Di sinilah muncul masalah etika. Karena ketika air dianggap sepenuhnya sebagai barang dagangan, akses terhadap kehidupan mulai bergantung pada kemampuan finansial. Orang kaya dapat memperoleh air berkualitas. Sementara orang miskin kesulitan mendapatkan air bersih. Krisis air akhirnya berubah menjadi krisis ketidakadilan.

Di banyak situasi, lembaga keuangan internasional bahkan mendorong pengalihan sektor air ke pihak swasta sebagai bagian dari reformasi ekonomi negara-negara berkembang. Alasannya terdengar masuk akal: efisiensi, investasi, dan pembaruan infrastruktur. Namun, kenyataan di lapangan sering kali lebih kompleks.

Peristiwa Cochabamba di Bolivia pada tahun 2000 menjadi ikon internasional perlawanan terhadap pengalihan air ke sektor swasta. Harga air meningkat secara signifikan. Masyarakat kesal. Demonstrasi besar meletus. Dunia mulai mempertanyakan: apakah air layak diperlakukan sebagai barang komersial biasa?

Pertanyaan tersebut sebenarnya sangat mendasar. Karena air berbeda dari barang lainnya. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Mungkin karena itulah persaingan atas air di abad modern semakin menjadi hal yang sensitif. Karena ketika air mengalami gangguan: pertanian dan perikanan terganggu, pasokan pangan terganggu, kesehatan terganggu, ekonomi terganggu, serta stabilitas sosial juga ikut terganggu. Air berada di tengah-tengah kehidupan.

Kita sering kali lupa bahwa seluruh peradaban manusia berkembang di sekitar air. Sungai Nil menjadi tempat lahirnya Mesir kuno. Peradaban Mesopotamia tumbuh di antara sungai Tigris dan Euphrates. Peradaban India muncul di sekitar Sungai Indus. Kota-kota besar di dunia hampir selalu berdiri dekat sungai atau laut.

Sejak awal sejarah, manusia selalu mencari air sebelum membangun peradaban. Karena air bukan hanya elemen alam. Air merupakan sumber kehidupan. Namun peradaban modern justru semakin lupa akan hal itu. Sungai dianggap sebagai sumber industri. Danau dilihat sebagai aset ekonomi. Hutan ditebang tanpa mempertimbangkan siklus hidrologi. Kota dibangun dengan beton tanpa menyisakan ruang penyerapan air. Pertanian modern menguras air tanah secara besar-besaran. Akibatnya, manusia modern menciptakan paradoks sendiri: teknologi semakin canggih, tetapi krisis air semakin parah.

Di berbagai kota besar, air tanah terus menurun. Sungai terkontaminasi oleh limbah. Danau semakin menyusut. Kekeringan semakin sering terjadi. Banjir semakin parah. Selanjutnya muncul perang dan konflik yang semakin merusak infrastruktur air.

Peristiwa Gaza menunjukkan bagaimana air bisa menjadi alat tekanan dalam situasi kemanusiaan. Sistem sanitasi rusak. Akses terhadap air bersih terbatas. Infrastruktur air hancur. Penyakit semakin meningkat. Di tempat lain, bendungan digunakan sebagai alat tawar-menawar politik. Sungai yang melintasi batas negara sering menjadi sumber ketegangan diplomatik.

Ramalan Serageldin perlahan mulai menemukan bentuk nyata. Namun, mungkin masalah terbesar bukan hanya kekurangan air. Masalah terbesar adalah pandangan manusia terhadap air itu sendiri.

Peradaban modern telah terlalu lama memandang alam hanya sebagai objek yang bisa dieksploitasi. Air dianggap sebagai sumber daya ekonomi. Tanah dilihat sebagai aset pasar. Hutan dianggap sebagai cadangan komersial.

Meskipun manusia sendiri bergantung pada keseimbangan ekologi tersebut. Ketika sungai tercemar, manusia sedang membahayakan dirinya sendiri. Ketika air dieksploitasi secara berlebihan, manusia sedang memperdagangkan hak untuk hidup. Dan ketika air digunakan sebagai alat perang, manusia sedang menyerang dasar dari kehidupan itu sendiri.

Dari sudut pandang fitrah, air memiliki posisi yang jauh lebih mulia dibanding hanya sebagai barang ekonomi. Al-Qur'an menyebutkan: "Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup" (QS Al-Anbiya:30).

Ayat ini bukan hanya sekadar data biologis. Ia menyimpan pandangan dunia yang sangat mendalam: bahwa air merupakan dasar dari segala kehidupan yang dianugerahkan Allah bagi seluruh makhluk. Bukan hanya untuk kalangan ekonomi tertentu. Bukan hanya untuk negara yang kuat. Bukan hanya untuk perusahaan global. Tapi untuk kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam nilai-nilai fitrah, air tidak boleh hanya dianggap sebagai alat pasar atau sarana dominasi geopolitik. Air seharusnya ditempatkan sebagai amanah bersama yang dijaga dengan: keadilan, tanggung jawab lingkungan, keseimbangan, dan kasih sayang antar sesama manusia. Pengelolaan air dapat dilakukan secara profesional. Penggunaan teknologi modern diperbolehkan. Air juga bisa menjadi bagian dari sistem ekonomi.

Namun, air tidak boleh kehilangan sifat kemanusiaannya. Karena ketika manusia mulai menganggap air hanya sebagai barang dagangan, maka sesungguhnya manusia sedang berjalan menjauhi alamiah hidupnya sendiri.

Dan mungkin di situlah pelajaran terbesar dari Serageldin, Gleick, Buiter, serta nilai-nilai fitrah: bahwa masa depan umat manusia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat menguasai air, tetapi oleh siapa yang paling cerdas menjaga air sebagai anugerah kehidupan bersama.

Air adalah titik kumpul: ekologi, geopolitik, pangan, ekonomi, spiritualitas, bahkan masa depan peradaban. Dan sungguh menarik, semakin modern dunia, semakin jelas bahwa hal-hal paling mendasar justru yang paling menentukan kehidupan: air, tanah, benih, udara, serta kejujuran manusia dalam mengelolanya. Serageldin melihat air sebagai geopolitik. Gleick melihat air sebagai keamanan. Buiter melihat air sebagai aset ekonomi. Sementara itu, perspektif fitrah melihat air sebagai amanah kehidupan.

Saat air berubah dari anugerah menjadi barang dagangan, maka sesungguhnya manusia sedang mengalihkan kehidupan dari fitrah menuju penguasaan. Peradaban yang menjual air secara berlebihan pada akhirnya sedang menjual syarat dasar kehidupan manusia itu sendiri.

Komentar

Tampilkan