
.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina Patra Niaga meningkatkan distribusi sebanyak 5,8 juta tabung LPG 3 kilogram (kg) yang didukung subsidi guna memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia selama liburan panjang akhir pekan ini.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (17/5/2026), menyampaikan bahwa penambahan yang bersifat opsional ini dialirkan secara bertahap ke berbagai wilayah dengan mempertimbangkan pola konsumsi dan kebutuhan masyarakat.
"Langkah ini dilakukan sebagai wujud komitmen Pertamina Patra Niaga dalam memastikan ketersediaan dan keandalan pasokan energi, khususnya LPG subsidi untuk masyarakat yang berhak," katanya.
Roberth menyebutkan bahwa penambahan distribusi dilakukan guna menghadapi kenaikan penggunaan LPG, terutama di kalangan rumah tangga, pada masa libur panjang.
"Pertamina Patra Niaga meningkatkan penyaluran LPG 3 kg secara nasional sebanyak 5,8 juta tabung. Tindakan ini kami lakukan agar kebutuhan masyarakat tetap tercukupi dan distribusi LPG subsidi berjalan dengan lancar di seluruh wilayah," ujar Roberth.
Ia menegaskan masyarakat diharapkan membeli LPG 3 kg sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan agar distribusi bisa merata dan tepat sasaran.
"LPG 3 kg adalah produk subsidi yang ditujukan kepada masyarakat kurang mampu, usaha mikro, nelayan target, serta petani target. Kami mengajak masyarakat berkecukupan untuk menggunakan LPG nonsubsidi Bright Gas agar bantuan energi lebih tepat sasaran," ujarnya.
Pertamina Patra Niaga terus bekerja sama dengan pemerintah daerah serta agen dan tempat penyimpanan LPG guna memastikan distribusi tambahan berjalan dengan baik selama masa liburan panjang.
"Khalayak bisa mendapatkan informasi mengenai layanan dan produk Pertamina melalui Pertamina Contact Center 135," kata Roberth.
Bursa Perdagangan Harga Migas Mendorong Penggunaan CNG
Sebelumnya, Badan Pengawas Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mulai memperkuat pemanfaatancompressed natural gas (CNG) dan mini-liquefied natural gas(LNG) sebagai alternatif sumber energi rumah tangga. Tindakan ini dilakukan karena tingkat ketergantungan yang besar terhadap impor.liquefied petroleum gasLPG nasional yang telah mencapai sekitar 81 persen dari kebutuhan dalam negeri.
Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugraha menyatakan bahwa kebutuhan energi rumah tangga saat ini masih didominasi oleh LPG yang mendapat subsidi. Keadaan ini dianggap menyebabkan beban impor dan subsidi energi terus meningkat setiap tahunnya.
"Jadi, bukan hanya LPG yang tersedia, tetapi juga pilihan menggunakan jaringan gas kota (".city gas) berbasis CNG dan LNG. Pilihan sumber energi ini juga mampu meningkatkan efisiensi distribusi gas serta mendukung tujuan pemerintah dalam mengalihkan penggunaan energi ke bentuk yang lebih aman, bersih, dan hemat," ujar Fathul Ahad (10/5/2026) pekan lalu.
Menurutnya, peningkatan kinerja stasiun induk CNG dan pembangunan infrastruktur mini LNG akan memberikan lebih banyak alternatif energi kepada masyarakat selain LPG. Tindakan ini juga dapat memperkuat ketahanan energi nasional serta mendukung perluasan variasi sumber energi rumah tangga.
Fathul melihat perkembangan CNG dan LNG untuk kebutuhan rumah tangga sesuai dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong kemandirian energi nasional serta pemanfaatan energi lokal.
"Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan bahwa CNG adalah gas yang berbeda dengan LPG, tetapi memiliki peran serupa sebagai sumber energi. Penggunaan CNG saat ini mulai diterapkan di sektor komersial seperti hotel dan restoran," katanya.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menetapkan target pengembangan jaringan gas bumi rumah tangga sebanyak 350 ribu sambungan rumah (SR) pada tahun 2029. Agar target ini tercapai, BPH Migas mendorong percepatan regulasi mengenai stasiun induk CNG dan terminal mini LNG agar investasi bisa lebih cepat masuk.
Sistem pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dianggap sangat penting dalam mendukung pengembangan infrastruktur gas, khususnya di daerah Indonesia Timur yang menghadapi tantangan geografis.
"Untuk memperluas cakupan jaringan gas dengan menggunakan CNG, dapat dilakukan dengan mengubah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi stasiun utama (".mother station). Sementara itu, untuk pendistribusian jargas nonpipa dapat menggunakan mini-LNG," ujar Fathul.
PT Gagas Energi Indonesia, perusahaan anak dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), menyambut baik langkah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam meninjau penggunaan CNG sebagai bagian dari campuran energi nasional. Perusahaan menganggap peninjauan ini sebagai kesempatan untuk memperluas pemanfaatan gas lokal secara bertahap.
PGN Gagas melihat pengembangan CNG sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi. Langkah ini bertujuan untuk menyediakan berbagai pilihan energi yang lebih beragam bagi masyarakat dan pelaku bisnis.
“Kami melihat ini bukan tentang mengganti satu jenis energi dengan yang lain, tetapi memperluas pilihan. Masyarakat dan pelaku bisnis memerlukan akses terhadap berbagai sumber energi yang handal, terjangkau, serta berbasis sumber daya lokal,” ujar Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Selama lebih dari sepuluh tahun, PGN Gagas telah menyediakan CNG untuk berbagai sektor, mulai dari industri, komersial, UMKM, hingga transportasi. Selama tahun 2025, distribusi gas alam melalui layanan CNG dan LNG mencapai sekitar 4.656.449 MMBTU.
Dari segi infrastruktur, perusahaan mengelola 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang berada di tujuh provinsi. Layanan ini melayani sekitar 2.200 kendaraan setiap harinya melalui program Gasku.
Untuk segmen nontransportasi, layanan Gaslink telah menjangkau lebih dari 600 pelanggan yang terdiri dari kalangan industri, komersial, dan UMKM, dengan total distribusi mencapai 4.067.002 MMBTU sepanjang tahun 2025.
"CNG adalah salah satu pilihan energi yang sudah tersedia dan dapat terus dikembangkan secara bertahap sesuai dengan arah kebijakan pemerintah," kata Santiaji.
PGN Gagas juga didukung dengan fasilitas kompresi gas, armadagas transport module(GTM), serta infrastruktur distribusi lain yang terhubung dengan jaringan PGN. Hal ini dinilai meningkatkan penggunaan gas alam dalam negeri secara maksimal.