Iklan

Otak Terjajah oleh Video Pendek

Wednesday, May 20, 2026, 1:45 PM WIB Last Updated 2026-05-20T10:14:15Z

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

.CO.ID, JAKARTA -- Ia tiba tanpa izin, tanpa pembukaan, langsung duduk di ruang tamu pikiran kita. Namanya video pendek. Durasinya belasan atau beberapa puluh detik, namun dampaknya bisa lebih lama dari khutbah Jumat yang terlalu panjang.

Kita menganggapnya sebagai hiburan biasa, namun menurut sebuah studi mendalam, video pendek yang terus-menerus ditonton sedang mengubah cara kerja otak kita secara diam-diam, terstruktur, dan tanpa ampun.

Jurnal ilmiah Frontiers in Human Neuroscience (edisi 27 Juni 2024) merilis sebuah studi penting dengan judul yang jelas: "Penggunaan video pendek ponsel berdampak negatif terhadap fungsi perhatian: sebuah studi EEG."

Penelitian ini dilakukan oleh Tingting Yan, Conghui Su, Weichen Xue, Yuzheng Hu, dan Hui Zhou dari Universitas Zhejiang, Tiongkok. Bukan sekadar pendapat dari pengguna internet, tetapi penelitian laboratorium yang menggunakan kabel, gelombang otak, serta data statistik yang dipasang di kepala.

Metode yang digunakan tidak main-main. Sebanyak 48 peserta muda (rata-rata usia 21,8 tahun) diuji dengan Attention Network Test (ANT) sambil aktivitas otaknya direkam menggunakan EEG. Alat ini mampu membaca gelombang listrik otak secara langsung.

Mereka juga dinilai tingkat kecenderungan kecanduan terhadap video pendek menggunakan kuesioner khusus (MPSVATQ) serta kemampuan pengendalian diri mereka melalui skala psikologis (SCS). Singkatnya: bukan hanya bertanya "sering menonton?", tetapi diamati langsung bagaimana otak bekerja saat berpikir.

Hasilnya? Bukan hanya "sedikit terganggu", tetapi ada hubungan yang jelas: semakin tinggi kecenderungan terhadap kecanduan video pendek, semakin rendah aktivitas theta di area prefrontal otak.

Theta, wilayah yang bertanggung jawab untuk pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan kemampuan menahan gangguan, semakin melemah. Dengan kata lain, "direktur utama" di otak mereka mulai mengalami penurunan, sementara "divisi hiburan" naik pangkat menjadi komisaris.

Lebih mengejutkan lagi, penurunan ini tidak selalu terlihat dari luar. Dalam tingkah laku, seseorang mungkin tampak normal. Mereka masih mampu menjawab pertanyaan, masih bisa bekerja, masih dapat berbicara seperti biasa seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Namun di balik layar, otak mereka kehilangan kemampuan untuk bertahan terhadap gangguan. Mereka mudah teralihkan perhatiannya, cepat merasa bosan, dan kesulitan dalam menjalani aktivitas yang memerlukan konsentrasi lama. Seperti atlet yang masih mampu berlari, tetapi paru-parunya sudah bocor.

Pada titik ini, video pendek bukan hanya sekadar hiburan. Ia berperan sebagai "pelatih pikiran" yang secara diam-diam mengajarkan kita untuk menjadi tidak sabar.

Video pendek mengajarkan otak untuk beradaptasi dengan kehidupan dalam bagian-bagian kecil, bukan dalam cerita yang panjang. Ia melatih kita untuk mencari pengalaman instan, bukan pemahaman yang mendalam.

Dan yang paling berbahaya adalah: ia membuat kita merasa segala sesuatu itu wajar.

 

Namun, seperti semua kejadian tragis, selalu terdapat jalan keluar — meskipun sering kali tersembunyi di balik kenyamanan yang menipu. Jalan keluarnya bukan dengan membenci teknologi, apalagi mengutuk era saat ini. Hal itu terlalu mudah, dan biasanya hanya menghasilkan status Facebook yang panjang namun tidak berdampak apa pun.

Solusi yang sebenarnya justru lebih tenang: menyerahkan kembali kendali kepada diri sendiri.

Kita harus menyadari bahwa setiap kali kita menggulung puluhan video pendek adalah sebuah pilihan, bukan sekadar reaksi. Setiap video yang kita tonton merupakan "latihan pikiran" bagi otak kita — apakah kita sedang melatih konsentrasi, atau justru melatih gangguan perhatian.

Disiplin tidak berarti melarang hiburan, tetapi mengetahui kapan harus berhenti. Batasan bukanlah musuh dari kebebasan, melainkan pagar yang menjaga kebebasan agar tidak berubah menjadi ketergantungan.

Pada akhirnya, algoritma hanya berjalan sejauh kita mempercayainya. Ia tidak memiliki kekuasaan mutlak. Kita yang memberikannya kekuatan tersebut, perlahan dan bertahap, setiap kali jari kita bergerak tanpa sadar.

Maka jika saat ini kita merasa sulit untuk berkonsentrasi, mudah terganggu, dan cepat merasa bosan, mungkin masalahnya bukan karena dunia yang terlalu ramai — melainkan karena diri kita sendiri yang terlalu sering menyerah pada keinginan.

Dan itulah pelajaran paling menyakitkan namun jujur: video pendek tidak pernah benar-benar mengambil waktu kita. Kita sendirilah yang memberikannya, dengan rela.

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 17/5/2026

Komentar

Tampilkan