Perusahaan Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) menunjukkan kinerja yang baik pada kuartal pertama tahun 2026. Meskipun terjadi perubahan di pasar modal dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap saham yang berbasis komoditas, perusahaan jasa pertambangan ini dinilai mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat posisi keuangannya.
Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, menganggap laporan keuangan kuartal pertama tahun ini menunjukkan tanda-tanda positif mengenai kualitas dasar perusahaan.
"Pada kondisi pasar yang tidak stabil, para investor cenderung lebih memperhatikan aspek dasar daripada perubahan harga saham dalam jangka pendek. Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026, terlihat bahwa MINE tidak hanya mengalami pertumbuhan operasional, tetapi juga berhasil memperkuat struktur keuangannya," katanya.
Selama bulan Januari hingga Maret 2026, MINE mencatatkan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar, meningkat sebesar 18,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu senilai Rp572,8 miliar. Laba operasional tercatat sebesar Rp87,98 miliar, sementara laba selama periode tersebut mencapai Rp61,95 miliar.
Berdasarkan pendapat Alfred, keunggulan utama tidak hanya terletak pada pertumbuhan pendapatan, tetapi juga pada kualitas pertumbuhan yang terlihat dari meningkatnya likuiditas serta perbaikan struktur modal.
Posisi kas dan setara kas Perseroan meningkat menjadi Rp346,07 miliar pada akhir Maret 2026, dibandingkan dengan Rp169,32 miliar pada akhir 2025. Peningkatan ini dianggap memperkuat fleksibilitas keuangan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan operasional serta mengelola kewajiban.
"Likuiditas yang baik merupakan faktor krusial dalam industri jasa pertambangan karena memerlukan modal kerja dan investasi dalam bentuk aset tetap yang cukup besar. Peningkatan dana tunai yang signifikan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga stabilitas keuangan," katanya.
Dari segi modal, MINE juga mencatat peningkatan setelah melunasi pinjaman bank jangka pendek yang masih tercatat hingga akhir 2025. Tindakan ini memicu penurunan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) menjadi sekitar 0,67 kali dari sekitar 0,87 kali pada akhir tahun sebelumnya.
"Penurunan tingkat utang menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pendanaan berbasis hutang semakin bisa dikendalikan. Struktur modal yang lebih baik memberi ruang yang lebih luas bagi perusahaan untuk menghadapi ketidakpastian di pasar," ujar Alfred.
Kemampuan operasional tetap terjaga. EBITDA kuartal pertama tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp210,6 miliar dengan margin EBITDA sekitar 31 persen. Angka ini menunjukkan kemampuan bisnis utama Perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang kuat.
Dari segi penilaian, Alfred menganggap saham MINE masih tergolong murah. Dengan harga saat ini, saham MINE diperdagangkan dengan rasio price to earnings (PE) tahunan sekitar 3,6 kali dan rasio price to book value (PBV) sebesar 0,9 kali.
"Nilainya masih sangat menarik bagi perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang kuat. Selain itu, potensi yield dividen untuk tahun buku 2026 juga menarik dan berpotensi melebihi 8 persen," katanya.
Ia menyampaikan, kombinasi pertumbuhan bisnis, peningkatan likuiditas, pengurangan utang, serta kemampuan laba yang stabil menunjukkan kesehatan dasar MINE yang semakin baik. Kemampuan perusahaan dalam memberikan dividen meskipun baru setahun terdaftar di bursa juga menjadi tanda positif bagi para investor.
"Ketika perusahaan mampu mempertahankan keuntungan sekaligus memperkuat posisi keuangannya, tingkat risikonya menjadi lebih baik. Hal-hal tersebut biasanya menjadi fokus para investor dalam mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk tumbuh secara berkelanjutan dalam jangka panjang," ujarnya.