Iklan

IHSG Melemah 1,17% Akibat Tekanan Sentimen Perang Global

Friday, April 17, 2026, 1:21 AM WIB Last Updated 2026-04-17T12:43:42Z

, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka turun pada perdagangan hari ini, Senin (13/4/2026). Pasar saham dalam negeri masih terpengaruh oleh sentimen perang global, di mana negosiasi damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran tidak mencapai kesepakatan.

Melansir IDX MobilePukul 09.01 WIB, IHSG turun sebesar 1,17% atau 86,98 poin menjadi 7.317,52. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 390 saham dibuka melemah, 407 saham tidak mengalami perubahan, dan hanya 162 saham yang dibuka menguat.

Melemahnya indeks komposit sejalan dengan penurunan saham-saham big caps yang memiliki bobot terbesar dalam IHSG, yang secara bersamaan mengalami koreksi. Di antaranya adalah saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang dibuka turun 1,87% menjadi Rp6.575, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mengalami penurunan 1,29% ke Rp5.725, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) turun 1,29% menjadi Rp3.070, saham PT Chadra Asri Pacific Tbk. (TPIA) melemah 2,88% ke Rp5.900, serta saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang dibuka turun 0,88% ke Rp3.360.

Samuel Sekuritas Indonesia dalam laporan harian mereka memperkirakan IHSG akan mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, sesuai dengan suasana hati negatif dari pasar regional dan global.

Di akhir pekan Jumat (10/4), pasar Amerika Serikat (AS) mengakhiri perdagangan dengan kecenderungan melemah. Dow turun sebesar 0,56%, S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,11%, sedangkan Nasdaq ditutup menguat 0,35%.

Indeks S&P 500 sedikit turun pada hari Jumat, tetapi masih mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak November dengan pasar mengamati gencatan senjata antara AS dan Iran yang masih rapuh," demikian disebutkan dalam laporan riset tersebut, Senin (13/4/2026).

Di sisi lain, yield obligasi pemerintah AS jangka 10 tahun meningkat sebesar 0,97%, sedangkan Indeks Dolar AS turun 0,17% menjadi 98,65.

Pasaran komoditas secara umum ditutup dengan penurunan pada hari Jumat lalu. Harga minyak mentah WTI turun sebesar 1,33% menjadi US$96,57 per barel, sedangkan Brent merosot 0,75% ke posisi US$95,20 per barel. Batu bara juga mengalami penurunan sebesar 1,89% menjadi US$129,90 per ton, sementara minyak kelapa sawit mentah (CPO) naik 0,86% ke MYR 4.538 per ton.

Di sisi lain, sebagian besar pasar Asia mengalami penguatan. Hang Seng meningkat 0,55%, Nikkei melonjak 1,84%, dan Shanghai naik 0,51%. Di Indonesia, IHSG pada penutupan Jumat bertambah 2,07% menjadi 7.458,50, dengan asing mencatat net buy sebesar Rp193,8 miliar, terdiri dari net buy Rp239,8 miliar di pasar reguler dan net sell Rp46,0 miliar di pasar negosiasi. Meski demikian, beberapa indeks pasar Asia seperti Korea Composite Price Index (KOSPI) dan Nikkei pagi ini dibuka melemah.

Pagi ini, KOSPI turun sebesar 1,20% dan Nikkei mengalami penurunan 0,73% saat dibuka. Hari ini, kami memprediksi IHSG akan mengalami penurunan mengikuti sentimen negatif dari pasar regional maupun global," tulis Samuel Sekuritas.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas dalam laporan harian mereka menyampaikan bahwa perkembangan gencatan senjata antara AS dan Iran masih akan menjadi perhatian utama pasar global, yang juga akan memengaruhi sentimen IHSG.

"Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan, yang berisiko mengancam gencatan senjata selama dua minggu yang rentan. Menurut perwakilan AS, Iran menolak persyaratan untuk berkomitmen tidak akan mengembangkan senjata nuklir," tulis Phintraco Sekuritas.

Meskipun terdapat sentimen global, Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG secara teknis berpotensi mencoba menembus level 7.500 hingga 7.600.

"BEI mengumumkan akan melakukan pencabutan daftar terhadap 18 perusahaan tercatat yang berlaku efektif pada 10 November 2026. Sebelum pencabutan, perusahaan tersebut harus melakukan pembelian kembali saham dari 11 Mei hingga 9 November 2026. Investor diperkirakan akan memperhatikan saham-saham yang memiliki potensi pembagian dividen dengan yield yang relatif tinggi," tulis sekuritas.

Disclaimer: berita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Komentar

Tampilkan