
, JAKARTA - Kedatangan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Manuputty dan Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Victor Tinambunan ke rumah Jusuf Kalla beberapa waktu lalu mendapat berbagai tanggapan dari masyarakat.
Sebagian masyarakat mendukung tindakan keduanya, tetapi banyak yang menyesali dan mengkritik sikap dari dua tokoh Kristen tersebut.
Menghadapi berbagai respons dari masyarakat, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) menghargai keputusan yang diambil oleh pimpinan PGI dan HKBP.
GAMKI menganggap tindakan dialog tersebut sebagai bagian dari usaha menjaga komunikasi yang positif serta mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam masyarakat.Karena itu, semua pihak terutama umat Kristen diharapkan mampu menghadapinya dengan tenang dan cerdas.
"GAMKI mengajak seluruh lapisan masyarakat agar tetap menjaga sopan santun dalam menyampaikan pendapat serta tidak melakukan serangan terhadap siapa pun. Ruang publik perlu dijaga agar tetap sehat, logis, fokus pada inti masalah, dan tidak terjerumus dalam perpecahan," demikian pernyataan Kuasa Hukum GAMKI Saddan Sitorus dalam keterangan resmi pada Senin (4/5).
Selanjutnya, GAMKI menekankan pentingnya menghargai proses yang sedang berlangsung, baik melalui jalur hukum maupun pendekatan dialog, sebagai bagian dari prinsip negara hukum yang perlu dijunjung bersama.
"Laporan yang dilakukan GAMKI bersama organisasi-organisasi lainnya merupakan bagian dari memperbaiki sesuatu yang salah. Karena pernyataan Bapak Jusuf Kalla bisa ditafsirkan secara keliru, bukan hanya oleh umat Kristen, tetapi juga agama-agama lainnya. Hal ini yang ingin kita perbaiki dan luruskan," katanya.Meskipun ceramah Bapak Jusuf Kalla disampaikan dalam konteks konflik Poso dan Ambon, menurut Saddan, tidak dapat dianggap sebagai pernyataan umum yang berlaku bagi seluruh masyarakat Kristen di Indonesia maupun dunia.
Karena konflik Poso dan Ambon tidak mencerminkan seluruh realitas sosial yang terjadi di tengah pemeluk agama masing-masing.
GAMKI menganggap pendekatan melalui jalur hukum ini sebagai langkah pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya perpecahan dalam masyarakat. Mengingat, jika isu ini tidak ditangani, akan berujung pada keributan yang terus-menerus di ruang publik.Oleh karena itu, lanjut Saddan, laporan dari puluhan organisasi kepada pihak kepolisian beberapa waktu lalu, sebagai upaya mencegah timbulnya keributan di kalangan masyarakat.
"Kami tidak menginginkan isu ini menjadi perbincangan liar di media sosial dan ruang publik. Oleh karena itu, kita fokus pada proses hukum yang menempatkan kesetaraan, keadilan yang nyata, serta pemulihan sebagai prioritas," katanya.
GAMKI mengingatkan bahwa perbedaan pendapat seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menyerang, tetapi justru menjadi kesempatan untuk memperkuat kematangan demokrasi serta semangat persatuan.
GAMKI berharap semua pihak, termasuk tokoh masyarakat, pemuka agama, dan masyarakat luas, mampu menunjukkan sikap bijaksana, mengendalikan diri, serta berperan dalam menciptakan suasana yang kondusif dan harmonis.
"Maka meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai isu ini, GAMKI mengajak kita untuk tetap menghormati tokoh-tokoh kita, Bapak Jusuf Kalla, Ketua PGI, Ephorus HKBP, serta tokoh lainnya. Fokus pada inti masalah, jangan menyerang secara personal dan hindari terjadinya polarisasi di media sosial maupun ruang publik," tutupnya.
Sebelumnya, Jusuf Kalla dianggap salah menggunakan istilah mati syahid dalam konteks kekristenan saat berbicara di kampus UGM beberapa waktu lalu.
Karena dalam ajaran Kristen tidak pernah dikenal istilah mati syahid, baik dalam kitab suci maupun dalam setiap ajaran agama.
"Yang disampaikan Pak JK (Jusuf Kalla) adalah sesuatu yang tidak benar dan bertentangan dengan ajaran Yesus yang tercantum dalam Kitab Suci Injil," ujar Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Pendeta Harsanto Adi, dilaporkan beberapa waktu lalu.
Selanjutnya, Harsanto menekankan bahwa ajaran Yesus Kristus tidak pernah mengizinkan penggunaan kekerasan terhadap orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda.
Yesus tidak pernah mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa membunuh orang yang tidak beriman akan masuk surga. Ajaran pokok agama Kristen adalah ajaran kasih. Umat Kristen diajarkan untuk mencintai sesama manusia, bahkan musuh mereka. Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri," ujar Harsanto. (dil/jpnn)