Iklan

Rusia Tutup Pipa Minyak Druzhba, Warga Jerman: Tak Ingin Kembali ke Zaman Batu

Tuesday, May 5, 2026, 6:52 PM WIB Last Updated 2026-05-04T21:42:09Z

.CO.ID, JAKARTA -- Warga Kota Schwedt di Jerman timur menunjukkan kecemasan terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak ke pabrik lokal yang menjadi tulang punggung distribusi energi wilayah tersebut. Kekhawatiran ini muncul setelah Rusia mengumumkan penutupan pengiriman minyak Kazakhstan ke Jerman melalui jaringan pipa Druzhba mulai 1 Mei 2026.

Pabrik PCK di Schwedt dikenal menyuplai sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakar untuk Berlin dan wilayah Brandenburg. Fasilitas tersebut sebelumnya mengandalkan minyak Rusia, tetapi mulai tahun 2023 beralih ke pasokan dari Kazakhstan setelah kebijakan pemerintah Berlin melarang impor minyak Rusia melalui jalur pipa.

Wakil Perdana Menteri Rusia Aleksandr Novak mengatakan bahwa pengiriman minyak Kazakhstan melalui pipa Druzhba akan dihentikan karena keterbatasan kemampuan teknis. Ia menambahkan, jumlah pasokan tersebut akan dialihkan ke jalur logistik lain yang dinilai lebih efisien secara operasional.

"Pada 1 Mei, pasokan minyak Kazakhstan yang sebelumnya dikirim ke Jerman melalui pipa Druzhba akan diarahkan ke jalur logistik lain yang lebih lancar," kata Novak, seperti dilaporkan beberapa media internasional pada akhir April.

Menurut Novak, pembahasan mengenai perubahan jalur distribusi telah dilakukan bersama pemerintah Kazakhstan dalam beberapa waktu terakhir. Ia juga menyebutkan sikap Jerman yang telah menghentikan impor minyak Rusia.

"Jerman menolak minyak Rusia, yang berarti semuanya baik-baik saja bagi mereka," ujarnya.

Di tingkat lokal, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran. Penduduk Schwedt merasa khawatir bahwa gangguan operasional pabrik akan berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari mereka.

"Jika lampu padam di PCK, kota ini akan berhenti bergerak. Kami tidak ingin kembali ke era abad ke-19," kata seorang warga kepada Ruptly seperti yang dilaporkan RT pada hari Minggu (4/5/2026). Warga lainnya bahkan mengingatkan risiko keributan sosial jika harga bahan bakar melonjak akibat gangguan pasokan.

Pemerintah Kazakhstan mengungkapkan bahwa mereka sedang mencari cara alternatif dalam pendistribusian minyak dengan memindahkan pengiriman melalui pelabuhan di wilayah Baltik dan Laut Hitam Rusia. Namun, pilihan ini dinilai memiliki keterbatasan dalam hal infrastruktur.

 

Anggota dewan kilang PCK, Danny Ruthenburg, menyatakan bahwa pengiriman melalui jalur laut akan mengurangi kapasitas operasional pabrik menjadi sekitar 65 hingga 70 persen. Kondisi ini berisiko memaksa penghentian sebagian jalur produksi serta berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja.

Menteri Energi Kazakhstan Yerlan Akkenzhenov sebelumnya juga mengonfirmasi adanya penundaan pengiriman minyak melalui Rusia ke Jerman. Ia menyebut bahwa negaranya telah menerima indikasi tentang kemungkinan penghentian aliran minyak melalui pipa Druzhba beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, dinamika keamanan wilayah juga berdampak pada situasi energi. Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina dilaporkan memperkuat serangan terhadap infrastruktur penting Rusia, termasuk pabrik minyak dan pusat distribusi energi. Salah satu sasaran terbaru adalah fasilitas transit yang dikelola oleh Caspian Pipeline Consortium di pelabuhan Novorossiysk.

Perkembangan ini mengindikasikan bahwa tekanan geopolitik tetap memengaruhi jalur pasokan energi di Eropa. Gangguan dalam distribusi tidak hanya memengaruhi sektor industri, tetapi juga berisiko mengganggu kesejahteraan sosial dan ekonomi di tingkat lokal, terutama di daerah yang sangat bergantung pada satu sumber energi utama. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan politik internasional masih berdampak pada rantai pasok energi di Benua Eropa. Gangguan dalam pengiriman tidak hanya memengaruhi industri, tetapi juga dapat mengancam stabilitas masyarakat dan perekonomian di wilayah yang sangat bergantung pada satu jenis sumber energi utama. Tren ini menunjukkan bahwa tekanan geopolitik terus memengaruhi sistem pasokan energi di Eropa. Ketidakstabilan dalam distribusi tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga berpotensi merusak keseimbangan sosial dan ekonomi di wilayah yang sangat bergantung pada satu sumber energi utama.

Sebelum perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022, Jerman sangat bergantung pada pasokan energi murah dari Rusia, khususnya gas alam dan minyak. Data yang sering dikutip oleh media Jerman sepertiDer Spiegel dan Die Zeitmenunjukkan bahwa sekitar 55 persen gas yang digunakan Jerman berasal dari Rusia, dengan sebagian besar didistribusikan melalui jalur pipa seperti Nord Stream dan Druzhba.

Harga gas pada masa itu cenderung stabil dan terjangkau, biasanya berkisar antara €20–30 per megawatt hour (MWh) di pasar Eropa. Kestabilan harga ini menjadi dasar yang penting bagi industri Jerman, khususnya sektor manufaktur dan kimia yang sangat bergantung pada pasokan energi murah.

Kondisi berubah secara signifikan setelah invasi Rusia terhadap Ukraina. Pasokan gas dari Rusia ke Eropa mengalami gangguan hingga berhenti total, menyebabkan kenaikan harga energi yang sangat tinggi. Pada puncak krisis tahun 2022, harga gas Eropa melonjak mencapai sekitar €300 per MWh, angka tertinggi dalam sejarah modern.

Surat kabar Jerman seperti Handelsblatt dan Tagesschau menyebut masa ini sebagai "krisis energi terbesar sejak Perang Dunia II", karena tidak hanya memicu inflasi yang tinggi, tetapi juga membahayakan kelangsungan industri negara.

 

Saat ini, sistem pasokan energi Jerman telah mengalami perubahan yang cukup besar. Jerman kini tidak lagi bergantung pada Rusia, tetapi beralih ke berbagai sumber lain, seperti Norwegia (gas melalui pipa), Amerika Serikat dan Qatar (LNG), Belanda dan Belgia (pusat distribusi gas Eropa), serta impor minyak dari Timur Tengah dan Kazakhstan.

Harga energi memang telah mengalami penurunan dari titik tertingginya, namun tetap lebih mahal dibandingkan sebelum perang. Pada tahun 2026, harga gas Jerman berada di kisaran €45–50 per MWh, masih sekitar dua kali lipat dibandingkan masa sebelum konflik.

Media seperti Die Welt dan Frankfurter Allgemeine Zeitung melaporkan bahwa meskipun krisis telah berkurang, harga energi yang lebih tinggi telah menjadi "keadaan baru" bagi perekonomian Jerman, mendorong sektor industri untuk menyesuaikan diri dengan efisiensi energi dan pengembangan berbagai sumber pasokan.

Oleh karena itu, perubahan ini bukan hanya pergantian pemasok, melainkan transformasi struktural dalam sistem energi Jerman: dari ketergantungan terhadap satu sumber yang murah (Rusia) menuju sistem yang lebih beragam, namun juga lebih mahal dan rumit.

Komentar

Tampilkan