Perbedaan tingkah laku antar kelas sering kali bisa memicu kesalahpahaman dan penilaian yang salah.
Tidaklah aneh jika individu dari lapisan atas menganggap remeh tindakan tertentu yang dilakukan oleh lapisan menengah.
Berdasarkan psikologi, terdapat enam perilaku kelas menengah yang sering dianggap remeh oleh kalangan atas, sebagaimana dilaporkan oleh geediting.
1. Terlalu memperhatikan tabungan
Di dalam keluarga kelas menengah, konsep menghemat uang sering kali menjadi prioritas utama.
Selalu ada perhatian terhadap pembelian besar berikutnya atau menghemat untuk masa depan.
Ini bukanlah sesuatu yang negatif. Namun, bagi kalangan atas, hal ini dianggap sebagai pandangan yang terlalu singkat.
Individu dari kelas atas, yang memiliki pendapatan besar dalam satu waktu, cenderung lebih memilih berinvestasi daripada menabung.
Mereka memandang investasi sebagai metode untuk meningkatkan kekayaan serta menjaga stabilitas finansial di masa mendatang.
2. Menempatkan kenyamanan lebih tinggi daripada kemewahan
Orang-orang dari kelas menengah biasanya cenderung memilih hal-hal yang nyaman dan berguna ketika membuat pilihan, baik itu dalam pemilihan pakaian, kendaraan, maupun desain interior rumah.
Pendekatan ini muncul sebagai bentuk upaya untuk memaksimalkan penggunaan apa yang mereka miliki.
Menariknya, ini merupakan salah satu tindakan yang sering dianggap remeh oleh kalangan atas.
Bagi kalangan kelas atas, memilih kenyamanan dibandingkan kemewahan mungkin terlihat sebagai menerima sesuatu yang lebih rendah.
3. Memperoleh persetujuan terkait keberhasilan
Orang-orang dari kelas menengah sering kali menilai keberhasilan mereka berdasarkan pengakuan dari luar.
Baik itu pemasaran di tempat kerja, rumah yang lebih luas, atau prestasi anak-anak, semuanya dianggap sebagai tanda keberhasilan yang pantas mendapatkan penghargaan dari orang lain.
Di sisi lain, individu dari kalangan atas cenderung menilai keberhasilan secara internal. Mereka lebih sering memperhatikan kepuasan pribadi dan perkembangan diri.
4. Hidup dengan uang bulanan saja
Banyak orang dari kalangan menengah sering kali mengandalkan gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun bekerja dengan tekun, mereka kadang kesulitan dalam membangun dana darurat.
Orang-orang dari kelas menengah atas, yang memiliki kebebasan finansial yang lebih besar, mungkin mengalami kesulitan dalam memahami tantangan ini.
Mereka mungkin menganggapnya sebagai pengelolaan keuangan yang tidak baik atau kurangnya semangat, padahal kenyataannya hal tersebut merupakan masalah situasi dan isu struktural.
5. Menekankan pendidikan praktis
Keluarga kelas menengah biasanya menekankan nilai pendidikan yang bermanfaat, gelar atau kemampuan yang secara langsung dapat menghasilkan pekerjaan yang tetap dan penghasilan besar.
Tujuan ini muncul dari keinginan untuk memastikan masa depan yang lebih baik serta stabilitas finansial.
Keluarga berada, yang memiliki stabilitas keuangan, memiliki fasilitas untuk menjajaki jalur pendidikan yang kurang realistis dan lebih dipengaruhi oleh ketertarikan pribadi.
Mereka mungkin tidak menyadari perhatian kelas menengah terhadap kepraktisan dan menganggapnya sebagai pembatas kreativitas serta eksplorasi.
6. Menghindari risiko
Orang-orang dari kelas menengah sering kali menghadapi konsekuensi yang lebih besar saat mengambil risiko dalam hal keuangan.
Ini dapat mengakibatkan pendekatan yang lebih hati-hati terkait hal-hal seperti investasi atau memulai usaha.
Individu dari kelas atas, yang memiliki jaringan perlindungan yang dapat dipercaya, memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengambil risiko.
Mereka mungkin menganggap pendekatan hati-hati kelas menengah sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh rasa takut atau kurangnya semangat.
***