
.CO.ID, ANKARA — Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan kembali mengajak seluruh pemimpin dunia untuk menjauhi perangkap yang diciptakan oleh Zionis Israel. Erdogan menyatakan bahwa kepemimpinan Zionis Israel memiliki sifat ekstrem dan merusak prinsip-prinsip diplomasi internasional yang dibangun berdasarkan kesadaran untuk menjaga perdamaian global.
"Sikap Israel yang tidak bersedia menawarkan kompromi, keras kepala, dan ekstrem tidak boleh dibiarkan menghancurkan solusi-solusi diplomatik," ujar Erdogan sebagaimana dilaporkan dariAnadolu Agency, Rabu (25/3/2026). Erdogan menyampaikan pernyataannya itu dalam pidato yang disampaikannya di hadapan para pemangku kebijakan di Turki, setelah menghadiri rapat kabinet di Ankara, Rabu (24/3/2026) waktu setempat.
Erdogan juga menyoroti posisi dan peran Turki dalam menghadapi situasi konflik di kawasan Timur Tengah (Timteng) yang saat ini mengancam negara-negara di kawasan untuk terlibat dalam perang akibat agresi Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Islam Iran. Erdogan menegaskan, Turki tetap berada di luar lingkaran api yang sedang berkobar di kawasan. “Kita tidak akan terjebak dalam perangkap yang disiapkan bagi kita. Kita harus bersikeras untuk menjauhi lingkaran api,” katanya.
Erdogan menganggap, perang di Timur Tengah yang dimulai dari agresi Zionis-AS terhadap Iran disebabkan oleh tindakan seorang tokoh keras kepala dan tidak dapat dipercaya yang memimpin Zionis Israel, yaitu Benjamin Netanyahu. Erdogan memperingatkan, perang yang dipicu oleh Netanyahu terhadap Iran merugikan miliaran warga di seluruh dunia. "Perang ini adalah untuk bertahan hidup Netanyahu, tetapi delapan miliar orang yang menanggung akibatnya," ujar Erdogan.
Oleh karena itu, kata Erdogan, para pemimpin negara di seluruh dunia tidak boleh takut dalam posisi yang bertentangan dengan Zionis Israel. Demikian pula, menurut Erdogan, para pemimpin negara di seluruh dunia harus tetap menjaga sikap berani untuk tetap berada di jalur menjaga perdamaian global yang tidak diinginkan oleh Netanyahu. "Jaringan pembunuhan yang dipimpin Netanyahu harus segera dihentikan demi perdamaian dan kemanusiaan. Setiap negara perlu mengambil sikap yang tegas dan proaktif," ujar Erdogan.
Konflik Zionis-AS melawan Iran dimulai dari tindakan militer yang dipimpin oleh Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump terhadap Teheran, pada hari Sabtu (28/2/2026). Sampai saat ini, perang tersebut telah memasuki minggu ke-4 atau hari ke-26. Perang ini menyebar ke kawasan negara-negara Teluk Arab, karena pasukan Iran melakukan pembalasan dengan meledakkan pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Arab seperti Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, termasuk di Yordania dan Irak.
Iran juga melakukan perlawanan dengan meluncurkan serangan ke wilayah yang diduduki oleh Israel Zionis di Tanah Palestina. Perang semakin meluas ke Lebanon setelah faksi pejuang Hizbullah turut serta membantu Iran dengan menyerang daerah-daerah yang dikuasai oleh Israel di bagian utara Palestina. Dari berbagai front pertempuran, diperkirakan sekitar 3.000 orang menjadi korban dalam konflik tersebut. Di Iran, jumlah korban jiwa mencapai 1.340 orang, termasuk Ayatullah Ali Khamenei yang gugur pada hari pertama agresi, Sabtu (28/2/2026).
Namun, belakangan ini muncul rencana untuk menghentikan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Usulan penghentian perang tersebut muncul setelah Presiden Trump di Washington mengumumkan penundaan serangan besar-besaran terhadap Iran selama lima hari sejak Senin (23/3/2026). Usulan penghentian perang ini juga direspon positif oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bersedia menjadi perantara dalam negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad. Namun, hingga saat ini belum ada respons resmi dari pihak otoritas di Teheran.
Sementara itu, Zionis Israel, Senin (23/3/2026), melalui pernyataan yang disampaikan oleh Netanyahu, menyatakan akan terus melanjutkan konfliknya dengan Iran maupun di Lebanon. Netanyahu, yang telah ditetapkan sebagai pelaku kejahatan perang dan pembunuhan massal oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), mengatakan bahwa kepentingan Israel dalam perang ini harus menjadi prioritas utama. "Kami akan tetap menjaga kepentingan kami dalam segala situasi," ujar Netanyahu.