
JAKARTA, Di balik rangkaian toga wisuda dan gelar sarjana yang diberikan kepada ribuan lulusan universitas setiap tahunnya, tersembunyi fakta yang tidak selalu sesuai dengan harapan.
Lingkungan kerja tidak sepenuhnya menganggap latar belakang pendidikan sebagai jaminan utama untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasai.
Banyak lulusan sarjana justru mendapati diri mereka bekerja di bidang yang sangat berbeda dengan ilmu yang telah dipelajari selama bertahun-tahun di bangku kuliah.
Kondisi ini semakin terasa di kalangan karyawan muda yang sedang memasuki tahap awal dalam membangun karier serta menciptakan identitas profesional.
Alih-alih mengikuti jalur karier yang lurus, beberapa orang harus menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang memerlukan keterampilan berbeda dari latar belakang akademis mereka.
Pendidikan yang Tidak Berhubungan dengan Dunia Kerja
Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta Nurul Hasanudin menyampaikan bahwa keadaan ini mencerminkan masalah struktural dalam pasar tenaga kerja.
"Permasalahan ini merupakan situasi struktural dalam pasar kerja di mana tingkat pendidikan formal yang dimiliki oleh seorang pekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikan yang biasanya dibutuhkan," kata Nurul saat dihubungi, Jumat (9/1/2026).
Nurul mengatakan, ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan dikenal sebagai fenomenamismatch pendidikan.
Menurut dia, mismatchpendidikan-karier memiliki dua bentuk utama, yaituovereducated dan undereducated.
Overeducatedterjadi ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan persyaratan jabatan tersebut, sedangkanundereducatedterjadi ketika pendidikan yang dimiliki lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk posisi tersebut.
Peristiwa ini memiliki dua sisi:overeducated(pendidikan berlebihan), di mana karyawan memiliki kualifikasi yang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan, danundereducated(pendidikan yang tidak memadai), di mana kualifikasi pekerja lebih rendah," katanya.
Nurul menyebut, contoh overeducatedsering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya lulusan sarjana yang bekerja sebagai staf administrasi atau kasir.
Bukan Masalah Individu Semata
Seringkali, ketidaksesuaian antara pekerjaan dan pendidikan dianggap sebagai kegagalan seseorang dalam merencanakan jalur karier mereka.
Namun, menurut Nurul, banyak pekerja muda berada dalam situasi yang terbatas, di mana kesempatan kerja yang ada tidak sejalan dengan latar belakang pendidikan yang mereka miliki.
Tekanan ekonomi, tuntutan dari keluarga, serta keinginan untuk segera memperoleh penghasilan membuat lulusan baru sering kali mengabaikan kesesuaian bidang pekerjaan.
"Fenomena mismatchpembekalan keterampilan di kalangan tenaga kerja muda Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab pribadi, tetapi juga masalah struktural yang terdapat dalam sistem pasar kerja," katanya.
Potret Data Pekerja Muda
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kesesuaian antara pendidikan dan pekerjaan di kalangan tenaga kerja muda masih jauh dari harapan.
Meskipun sebagian besar sudah bekerja, tidak semua berada di posisi yang sesuai dengan pendidikan akademiknya.
Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 64,64 persen pekerja muda yang bekerja sesuai dengan tingkat pendidikannya, sementara 22,36 persen mengalamiovereducated dan 13 persen undereducated," kata Nurul.
Ia menambahkan, angka tersebut menggambarkan tingkat masalah yang tidak dapat dianggap remeh.
"Keadaan ini menunjukkan bahwa 35,36 persen pekerja muda tidak berada di posisi kerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan mereka, mencerminkan ketidaksesuaian antara ketersediaan keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja," katanya.
Efek Domino dalam Pasar Tenaga Kerja
Menurut Nurul, ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan tidak hanya terjadi pada seseorang saja.
Di dunia kerja, keadaan ini menimbulkan dampak berantai yang memengaruhi berbagai kalangan pekerja.
Peristiwa ini, menurutnya, pada akhirnya mengurangi kesempatan bagi kelompok yang memiliki pendidikan lebih rendah, sekaligus memperlebar ketidakseimbangan dalam pekerjaan.
Pasaran kerja mengalami ketidakefisienan karena kualifikasi yang tersedia tidak lagi sesuai dengan kebutuhan nyata dari pekerjaan.
Akibatnya, mereka 'mengganti' lulusan yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah, menghasilkan dampak berantaimismatchdi seluruh rentang pasar kerja," katanya.
Inflasi Sertifikat dan Nilai Gelar Akademik
Selain itu, menurut Nurul, dampak berikutnya darimismatchpendidikan merupakan munculnya fenomena inflasi kredensial.
Saat jumlah pemegang gelar meningkat secara signifikan, nilai simbolis dari ijazah sebagai tanda kemampuan juga mengalami penurunan.
Akibatnya, tingkat persyaratan pekerjaan terus meningkat, meskipun tingkat kesulitan pekerjaan tidak mengalami perubahan yang signifikan.
"Peristiwa ini juga memicu yang disebut 'inflasi kredensial', di mana nilai gelar akademik menurun karena jumlah pemegangnya terlalu banyak, sehingga standar kualifikasi untuk pekerjaan tertentu terus meningkat tanpa diikuti peningkatan tingkat kesulitan pekerjaan itu sendiri," ujar Nurul.
Bagi seseorang, bekerja di posisi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan bukan hanya terkait dengan rasa percaya diri atau prinsip pribadi.
Banyak pekerja overeducated mengalami apa yang disebut wage penaltyyaitu gaji yang lebih rendah dibandingkan rekan sejawat yang memiliki pendidikan sama dan bekerja di bidang yang sesuai.
Selain itu, tingkat kepuasan kerja cenderung lebih rendah karena potensi dan kemampuan tidak sepenuhnya dimanfaatkan.
"Dampaknya tidak boleh diabaikan. Bagi individu,overeducatedsering kali dikaitkan dengan tingkat kepuasan kerja yang lebih rendah dan gaji yang lebih sedikit (wage penalty) dibandingkan rekan-rekan mereka yang memiliki tingkat pendidikan serupa tetapi bekerja di bidang yang sesuai," ujar Nurul.
Ia menekankan bahwa isu ini harus mendapatkan perhatian serius agar tidak berkembang menjadi kerugian yang berkepanjangan.
"Kedepannya, diharapkan dampak mismatchperlu diperhatikan agar tidak berkembang menjadi kerugian jangka panjang dan menurunkan kualitas pekerjaan," katanya.
Mengapa Mismatch Tetap Terjadi?
Secara teori, peningkatan tingkat pendidikan seharusnya mengurangi kemungkinan ketidakcocokan antara latar belakang pendidikan dan pekerjaan.
Namun, Nurul menganggap bahwa kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ijazah bukan satu-satunya faktor utama dalam proses perekrutan.
Ia menjelaskan bahwa pasar kerja saat ini lebih mengutamakan keterampilan nyata, pengalaman kerja, serta memiliki sertifikat tertentu.
Tanpa persiapan tersebut, lulusan universitas tetap memiliki kesempatan untuk bekerja di luar bidang yang mereka pelajari.
"Setiap tingkat pendidikan yang lebih tinggi memang mampu mengurangi risikomismatchatau 'salah bidang karier' hingga lebih dari 20 persen," kata Nurul.
Namun demikian, ia menekankan bahwa pendidikan formal hanya berfungsi sebagai salah satu parameter yang digunakan oleh pemberi kerja.
"Tetapi, di dunia nyata, gelar sering kali hanya menjadi salah satu tanda yang diperhatikan oleh pemberi kerja," katanya.
Nurul berpendapat bahwa diperlukan kebijakan yang terpadu dan berlandaskan pada kebutuhan dunia kerja di masa depan.
Menurutnya, sistem pendidikan tidak mungkin berjalan secara mandiri tanpa adanya hubungan yang erat dengan kebutuhan sektor industri.
Penyelenggaraan pelatihan terus-menerus dianggap sebagai langkah untuk menghubungkan antara pendidikan dan dunia kerja.
Selain itu, proses peralihan lulusan dari lingkungan pendidikan menuju dunia kerja perlu didukung dengan lebih terstruktur.
Nurul juga menyoroti kepentingan menguasai teknologi dalam situasi perubahan kebutuhan tenaga kerja.
"Menyisipkan literasi digital dalam kurikulum dan penyusunan program pelatihan teknologi terkini seperti kecerdasan buatan atau analisis data menjadi suatu keharusan," ujar Nurul.
Menjadi Ojek Online Sebagai Pilihan Terakhir
Situasi ini terjadi pada Dimas Khemal (24). Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Penyiaran ini sekarang bekerja sebagaivaporista di sebuah toko vape.
Sebelum menekuni profesi sebagai vaporista, Dimas lebih dahulu bekerja sebagai sopir ojekonline.
Pekerjaan tersebut sering dianggap sebagai pilihan terakhir karena kurangnya alternatif, namun pandangan ini tidak sepenuhnya mencerminkan pengalaman yang ia alami.
Untuk Dimas, keputusan menjadi pengemudi ojek online diambil dengan kesadaran penuh.
Ia memandang pekerjaan tersebut sebagai tindakan yang masuk akal untuk menjaga kelangsungan ekonomi setelah lulus kuliah, khususnya di tengah masa peralihan yang penuh ketidakpastian.
"Memang pilihan saya, dibandingkan hanya duduk diam," katanya.
Seperti yang dialami oleh banyak lulusan universitas lainnya, Dimas juga pernah mengalami masa pengangguran setelah menyelesaikan studinya.
Masa itu ditandai dengan berbagai kali proses melamar pekerjaan, tetapi belum menghasilkan hasil yang pasti.
Pada situasi tersebut, menjadi seorang pengemudi ojekonlinedipilih sebagai alternatif sementara untuk tetap mendapatkan penghasilan.
Pekerjaan ini dilakukan sambil terus berusaha mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Kurang lebih delapan bulan, pada masa itu saya tetap mengirimkan lamaran kerja baik-baik sajaonline maupun offline, hingga akhirnya memutuskan mencoba kesempatan menjadi Ojol sebagai kegiatan sehari-hari," ujarnya.
Ilmu Jurnalistik yang Berlabuh di Perbankan
Pengalaman yang berbeda namun sejalan juga dirasakan Rahma (bukan nama asli), lulusan Ilmu Komunikasi dengan fokus pada jurnalistik.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, jalur karier yang ia pilih justru tidak menuju ruang redaksi, melainkan masuk ke dunia perbankan sebagai petugas teller di sebuah bank swasta.
Keputusan itu muncul dari berbagai pertimbangan.
Selama masa perkuliahan, Rahma sebenarnya menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap bidang kreatif, khususnya desain grafis dan menulis kreatif.
Namun perubahan peluang pekerjaan menyebabkan langkah karierinya bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya ia rencanakan.
"Ingin menjadi desain grafis, copy writer," ungkapnya.
Pengalaman bekerja di sebuah bank membuat Rahma semakin menyadari perbedaan antara pekerjaan yang ia lakukan dengan latar belakang pendidikan jurnalistik yang dimilikinya.
Namun, ketidakcocokan tersebut tidak ia anggap sebagai hambatan utama dalam menjalankan pekerjaannya.
Sebaliknya, pengetahuan tentang jurnalistik justru terasa bermanfaat dalam beberapa situasi di lingkungan perbankan, khususnya ketika berkomunikasi dengan orang lain.
"Jika dilihat dari pekerjaan, memang di perbankan tidak sejalan dengan jurusan jurnalistik, tentu saya menyadari hal tersebut," ujarnya.
Menurut Rahma, tuntutan pekerjaan yang memaksa dia berhadapan langsung dengan pelanggan memerlukan kemampuan komunikasi yang baik.
Pada situasi tertentu, ia merasa ilmu jurnalistik membantunya mengatur respons dan memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap institusi tempatnya bekerja.
Saya merasa bersyukur pernah mempelajari jurnalistik berdasarkan pengalaman, karena jika ada keluhan pelanggan terkait kinerja perusahaan, saya tahu sistemnya.press releasedari perkuliahan, saya mampu mengendalikan diri agar tidak memberikanstatement yang merugikan perusahaan," katanya.
Mimpi yang Belum Padam
Meskipun telah bekerja sebagai teller, Rahma masih mempertahankan minatnya di bidang media kreatif.
Keinginan untuk kembali terlibat dalam dunia media dan desain masih tersimpan sebagai tujuan jangka panjang.
Bagi dia, minat tersebut bukan hanya sekadar kenangan masa kuliah, tetapi dorongan yang suatu saat ingin ia wujudkan kembali melalui karya visual dan konten inovatif.
"Lebih kepada keinginan yang kuat untuk kembali merasakan proses mendesain dan membuat grafis untuk berita," katanya.
Rahma juga melihat fenomena lulusan sarjana yang bekerja di luar bidang pendidikannya tidak bisa disebut sebagai kegagalan individu saja.
Menurutnya, ada faktor lain yang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Ia menekankan peran keluarga sebagai salah satu komponen krusial dalam proses pengambilan keputusan terkait pendidikan dan karier.
Rahma merasa masih banyak orang tua yang menganggap pendidikan tinggi sebagai pencapaian status, tanpa memahami secara cukup tentang hubungan antara jurusan kuliah dengan peluang kerja di masa depan.
Lebih kepada pendidikan dan bagaimana keluarga membimbing anak tentang jalur pendidikan tinggi sertaoutputyang akan diperoleh, dilihat dari masih banyaknya orang tua yang belum memahami dengan baik dan anak-anak yang membutuhkan bimbingan serta pengetahuan untuk mengembangkan karier yang sesuai dengan pendidikan yang diambil," ujarnya.