Iklan

7 Kebiasaan Beracun yang Merusak Kebahagiaan

Tuesday, March 31, 2026, 9:40 PM WIB Last Updated 2026-03-31T01:09:07Z

– Kebiasaan beracun sering kali dianggap wajar karena telah dilakukan selama bertahun-tahun, meskipun dampaknya signifikan terhadap kesehatan mental, fisik, dan kualitas hidup.

Mengganti kebiasaan tidak perlu dilakukan secara signifikan dalam waktu singkat. Intinya adalah kesadaran, konsistensi, serta kasih sayang terhadap diri sendiri.

Menghilangkan kebiasaan tertentu membutuhkan waktu antara 30 hingga 60 hari, sehingga wajar jika perubahan tidak terjadi secara langsung.

Mengapa kebiasaan kecil mampu memiliki pengaruh yang besar?

Kebiasaan menjadi dasar dari kebiasaan sehari-hari. Jika satu kebiasaan buruk terus-menerus dilakukan, dampaknya akan menumpuk. Tidak hanya memengaruhi tingkat energi harian, tetapi juga cara kita melihat diri sendiri, orang lain, dan masa depan.

Seorang psikiater dari Mindpath Health, Dr. Zishan Khan, MD mengatakan, banyak kebiasaan berbahaya bekerja secara diam-diam.

"Beberapa kebiasaan tertentu dapat memicu stres, kelelahan pikiran, serta gangguan emosi tanpa kita sadari," katanya, sebagaimana dikutip dari Real Simple, Rabu (28/1/2026).

Berikut tujuh kebiasaan negatif yang mungkin mengurangi kebahagiaan kamu.

7 Kebiasaan berbahaya yang mungkin menghilangkan kebahagiaanmu

1. Scrolling sebelum tidur

Kebiasaan mengakses media sosial atau menonton video pendek sebelum tidur sering dianggap sebagai cara untuk bersantai.

"Terus-menerus menggulung layar sering kali memicu otak secara berlebihan sehingga membuat kita lebih sulit untuk benar-benar rileks," kata Khan.

Paparan cahaya layar juga menghambat produksi melatonin, yaitu hormon yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh terasa lelah pada hari berikutnya.

Khan menyarankan agar menghentikan penggunaan layar selama 30–60 menit sebelum tidur dan menggantinya dengan kegiatan yang membuat tenang seperti membaca, menulis jurnal, atau bermeditasi ringan.

2. Mengabaikan aktivitas fisik

Jadwal yang sibuk sering digunakan sebagai alasan untuk tidak beraktivitas. Padahal, kebiasaan hidup yang tidak aktif berkontribusi pada peningkatan stres, suasana hati yang tidak baik, serta masalah kesehatan tubuh.

"Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan stres, suasana hati yang buruk, serta masalah kesehatan," ujar Khan.

Kegiatan fisik tidak selalu berarti melakukan olahraga intensif. Jalan kaki singkat, peregangan ringan, atau yoga sudah cukup untuk membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih segar.

3. Mengabaikan waktu istirahat saat bekerja

Bekerja tanpa henti sering dianggap sebagai tanda keefektifan. Namun, menurut terapis dan pekerja sosial klinis berlisensi, Kiana Shelton, LCSW, meskipun sibuk, waktu istirahat perlu diberi prioritas.

Bahkan hanya lima menit untuk menjauh dari layar, menghirup air, atau melakukan pernapasan dalam dapat membantu otak kembali fokus dan mengatur emosi.

4. Belanja impulsif

Berbelanja tanpa rencana sering kali menjadi cara untuk menghindari rasa stres. Namun, dampaknya justru berlawanan.

"Perilaku membeli secara impulsif dapat menyebabkan tekanan keuangan dan menumpuk barang yang membuat pikiran semakin penuh," kata Khan.

Ia menyarankan menerapkan aturan 24 jam sebelum membeli barang yang tidak termasuk kebutuhan pokok. Masa tunggu ini membantu kita menilai apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan sementara.

5. Tidak menetapkan batasan 

Sering mengatakan "ya" untuk semua permintaan dapat menyebabkan seseorang merasa lelah secara emosional.

"Overcommitting dapat menyebabkan kelelahan, rasa tidak puas, dan konflik dalam hubungan," kata Khan.

Menetapkan batas tidak berarti bersifat egois, tetapi merupakan cara menghargai kemampuan diri sendiri. Dengan komunikasi yang jelas dan tulus, energi dapat digunakan untuk hal-hal yang sesuai dengan nilai dan tujuan kehidupan.

6. Terlalu lama memandang layar atau melakukan doomscrolling

Kebiasaan terus-menerus memandang layar, khususnya saat membaca berita yang tidak menyenangkan, menyebabkan pikiran sulit melepaskan rasa cemas.

"Terlalu lama menatap layar tidak hanya menyebabkan kelelahan mata, tetapi juga mengganggu koneksi kita dengan momen yang sedang terjadi," tegas Khan.

Ia menyarankan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit, alihkan fokus selama 20 detik ke benda yang berjarak 20 kaki, serta merencanakan waktu tanpa layar untuk aktivitas yang lebih tenang.

7. Mengabaikan self-care

Kebiasaan tidak memperhatikan perawatan diri sering muncul ketika seseorang terlalu sibuk merawat orang lain.

"Ketika kita tidak memperhatikan perawatan diri, kita secara tidak sadar membuat orang lain menjadi 'pencuri kebahagiaan'," kata Shelton.

Perawatan diri tidak perlu mahal atau rumit. Lima menit untuk merenung, menuliskan hal-hal baik, memasak makanan kesukaan, atau menghabiskan waktu untuk hobi sederhana sudah cukup untuk mengisi kembali energi emosional.

Menghilangkan kebiasaan yang merusak bukan berarti mencapai kesempurnaan, tetapi lebih pada ketekunan. Perubahan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dapat menghasilkan dampak yang signifikan.

Dengan lebih memperhatikan kebiasaan sehari-hari, kebahagiaan tidak lagi terasa sebagai tujuan yang jauh, tetapi sebagai proses yang berkembang perlahan melalui kebiasaan yang baik.

Komentar

Tampilkan