Oleh: Rofiq Ali Muhsin
Kepala SMKN 5 Madiun
Belakangan ini kita semakin sering berbicara tentang hak anak. Anak berhak mendapatkan pendidikan, perlindungan, rasa aman, kesempatan menyampaikan pendapat, hingga perlakuan yang menghargai martabatnya.
Ini tentu perkembangan yang baik.
Dulu, mungkin masih ada anggapan bahwa anak harus selalu menurut karena orang dewasa pasti benar. Ketika anak mencoba menyampaikan pendapat, terkadang dianggap membantah. Ketika anak mengeluhkan perlakuan yang membuatnya tidak nyaman, jawabannya bisa sederhana, “Namanya juga anak, harus nurut.”
Cara pandang seperti itu perlahan berubah. Kita semakin memahami bahwa anak bukan sekadar objek yang harus mengikuti keinginan orang dewasa. Mereka adalah manusia yang memiliki hak dan martabat yang harus dihormati.
Namun, di tengah semakin kuatnya kesadaran tentang hak anak, ada satu hal yang rasanya juga perlu terus kita bicarakan.
Kalau anak memiliki hak, bukankah anak juga memiliki kewajiban?
Jawabannya tentu iya.
Undang-Undang Perlindungan Anak bahkan mengaturnya. Pasal 19 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 menyebutkan sejumlah kewajiban anak.
Anak berkewajiban menghormati orang tua, wali, dan guru. Anak juga berkewajiban mencintai keluarga dan masyarakat serta menyayangi teman. Selain itu, anak berkewajiban mencintai tanah air, bangsa, dan negara, menunaikan ibadah sesuai ajaran agamanya, serta melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.
Menariknya, kewajiban tersebut sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menghormati guru, misalnya, dapat dimulai dari cara berbicara. Menyayangi teman dapat diwujudkan dengan tidak mengejek, tidak merundung, dan mau membantu. Melaksanakan etika dan akhlak bisa sesederhana mengucapkan terima kasih, meminta izin, antre, menjaga kebersihan, serta meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Artinya, pendidikan mengenai hak anak semestinya berjalan beriringan dengan pendidikan mengenai tanggung jawab.
Persoalannya, pembicaraan mengenai hak dan kewajiban terkadang ditempatkan seolah-olah keduanya sedang bertanding.
Ketika berbicara tentang hak anak, ada kekhawatiran anak akan menjadi terlalu berani kepada orang dewasa. Sebaliknya, ketika berbicara tentang kewajiban dan kedisiplinan, muncul kekhawatiran sekolah akan menjadi terlalu keras terhadap anak.
Padahal keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Anak memang perlu belajar menghormati orang lain. Namun, anak juga perlu mengalami bagaimana rasanya dihormati.
Kita ingin anak berbicara sopan kepada guru. Tentu sangat wajar. Pada saat yang sama, anak juga berhak mendapatkan komunikasi yang baik dari orang dewasa.
Kita ingin anak tidak melakukan kekerasan kepada temannya. Pada saat yang sama, kita perlu memastikan bahwa ia tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang bebas dari kekerasan.
Kita ingin anak mau mendengarkan nasihat. Namun, bukankah anak juga perlu merasakan bahwa pendapatnya didengarkan?
Di sinilah keseimbangan menjadi penting.
Hak Dipenuhi, Kewajiban Dijalani
Ada sebuah gagasan sederhana yang menarik untuk direnungkan: anak akan lebih mudah belajar menjalankan kewajibannya ketika hak-haknya juga dihormati.
Misalnya, kita berharap seorang anak sopan, patuh, dan menghormati orang dewasa. Bersamaan dengan harapan itu, kita perlu memastikan bahwa ia mendapatkan perlakuan tanpa kekerasan, pendapatnya didengarkan, diperlakukan dengan hormat, serta dapat hidup dan belajar tanpa rasa takut.
Tentu bukan berarti kewajiban anak baru berlaku setelah semua keinginannya dipenuhi.
Hak berbeda dengan keinginan.
Anak ingin bermain gawai sepanjang malam, misalnya, bukan berarti keinginan tersebut menjadi hak yang harus selalu dipenuhi. Anak tidak ingin mengerjakan tugas juga tidak berarti kewajiban belajarnya kemudian hilang.
Justru di sinilah peran orang dewasa dibutuhkan: membantu anak memahami perbedaan antara hak, kebutuhan, keinginan, dan kewajiban.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan beragama.
Kita berharap anak menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya. Namun, mereka juga membutuhkan bimbingan agama yang layak, keteladanan dari orang-orang di sekitarnya, serta lingkungan yang mendukung.
Kadang kita terlalu cepat meminta anak melakukan sesuatu, tetapi lupa bertanya: sudahkah kita memberikan contoh?
Kita meminta anak tidak berkata kasar, sementara ia terbiasa mendengar orang dewasa berkata kasar.
Kita meminta anak disiplin waktu, sementara orang dewasa sering datang terlambat.
Kita meminta anak tidak bermain telepon genggam saat pembelajaran, tetapi ketika anak sedang berbicara, mata kita sendiri justru sibuk menatap layar.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.
Menghormati Hak Bukan Berarti Membiarkan
Ada pula kekhawatiran bahwa semakin kuat kita berbicara tentang hak anak, semakin sulit guru dan orang tua mendisiplinkan mereka.
Kekhawatiran ini bisa dipahami. Namun, menghormati hak anak tidak sama dengan membiarkan semua perilakunya.
Anak yang melakukan kesalahan tetap perlu ditegur. Anak yang melanggar aturan tetap perlu mendapatkan konsekuensi. Anak yang merundung temannya juga tetap harus dimintai pertanggungjawaban.
Perbedaannya terletak pada cara kita melakukannya.
Disiplin tidak harus identik dengan mempermalukan.
Tegas tidak harus berarti kasar.
Memberikan konsekuensi tidak harus menggunakan kekerasan.
Kita dapat mengatakan bahwa perilakunya salah tanpa mengatakan bahwa dirinya adalah anak yang buruk.
Memang tidak selalu mudah. Guru berhadapan dengan puluhan bahkan ratusan anak dengan karakter yang berbeda. Orang tua pun menghadapi tantangan serupa di rumah.
Karena itu, kita mungkin tidak perlu membayangkan proses pendidikan yang selalu sempurna. Yang jauh lebih penting adalah kesediaan untuk terus memperbaiki cara kita mendampingi anak.
Di sisi lain, anak juga perlu memahami bahwa memiliki hak bukan berarti bebas melakukan apa saja.
Hak menyampaikan pendapat tidak berarti bebas berkata kasar.
Hak memperoleh pendidikan juga perlu dibarengi tanggung jawab mengikuti proses pembelajaran.
Hak mendapatkan rasa aman harus berjalan bersama kewajiban untuk tidak membuat orang lain merasa takut.
Hak untuk dihormati juga perlu disertai kemauan menghormati orang lain.
Jika pemahaman seperti ini dibangun sejak sekolah dan keluarga, anak akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menaati tata tertib.
Mereka sedang belajar hidup bersama.
Mereka belajar bahwa dalam kehidupan sosial, kebebasan kita akan selalu bertemu dengan hak orang lain.
Tumbuh Bersama
Pada akhirnya, sekolah dan keluarga memiliki pekerjaan yang sama.
Bukan sekadar membuat anak patuh. Bukan pula sekadar memastikan semua hak anak terpenuhi tanpa mengajarkan tanggung jawab.
Yang kita perlukan adalah keseimbangan.
Mari memastikan anak mendapatkan perlakuan tanpa kekerasan, didengarkan pendapatnya, dihormati martabatnya, memperoleh bimbingan yang baik, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Pada saat yang sama, mari kita ajarkan bahwa mereka juga mempunyai kewajiban: menghormati orang tua, wali, dan guru; mencintai keluarga dan masyarakat serta menyayangi teman; mencintai tanah air, bangsa, dan negara; menjalankan ibadah sesuai agamanya; serta menjaga etika dan akhlak.
Barangkali anak tidak membutuhkan terlalu banyak ceramah tentang semua itu.
Mereka lebih membutuhkan pengalaman nyata.
Ketika seorang anak dihormati, ia belajar menghormati. Ketika didengarkan, ia belajar mendengarkan. Ketika diperlakukan dengan baik, ia belajar memperlakukan orang lain dengan baik.
Dan ketika diberi tanggung jawab, perlahan ia akan memahami bahwa hidup bukan hanya tentang bertanya, “Apa hak saya?”
Ada satu pertanyaan lain yang sama pentingnya:
“Apa kewajiban saya terhadap orang lain?”
Mungkin, dari keseimbangan dua pertanyaan sederhana itulah pendidikan karakter yang sesungguhnya mulai tumbuh.
