Iklan

Vaksin Pertama di Dunia yang Dibuat Kecerdasan Buatan

Sunday, June 7, 2026, 8:15 AM WIB Last Updated 2026-06-07T11:49:02Z

Teknologi kecerdasan buatan (AI) pertama kalinya dimanfaatkan dalam pembuatan vaksin yang benar-benar inovatif untuk menghadapi berbagai jenis virus dan mencegah terjadinya wabah, menurut para ilmuwan.

Para ilmuwan dari Universitas Cambridge menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya komponen utama vaksin dibuat sepenuhnya oleh kecerdasan buatan dan selanjutnya diuji pada manusia.

Vaksin ini dirancang untuk melawan semua jenis virus corona, termasuk berbagai varian Covid serta virus yang menyerang hewan, namun bisa memicu wabah berikutnya.

Penelitian ini masih berada di tahap awal, namun tim tersebut telah membuat vaksin terpisah yang mampu mengatasi flu dan Ebola.

Vaksin membantu tubuh kita belajar mengenali penyakit agar memiliki kesempatan lebih besar dalam melawan infeksi.

Namun beberapa virus mampu mengubah penampilannya—atau bermutasi—sehingga vaksin dapat segera menjadi tidak efektif.

Berikut adalah alasan mengapa vaksin Covid dan flu musiman perlu diperbaharui secara rutin.

"Kami selalu ketinggalan," ujar Prof Jonathan Heeney dari University of Cambridge.

Ia menambahkan, "yang kami coba lakukan adalah berada di depan kurva" dan sudah sangat jauh di depan sehingga mampu melindungi manusia dari wabah baru atau pandemi.

Bagaimana cara kerjanya?

Biasanya vaksin dibuat dengan memanfaatkan satu jenis virus yang sedang beredar.

Para ilmuwan Cambridge mengumpulkan kode genetik yang sudah diketahui dari berbagai virus corona yang tercatat dalam berbagai program pengawasan yang mencari ancaman potensial dari virus.

Sistem genetik ini selanjutnya diperiksa oleh kecerdasan buatan.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Selanjutnya, AI menciptakan sebuah "super-antigen" yang mampu melatih sistem kekebalan tubuh agar memberikan perlindungan terhadap seluruh keluarga virus—bahkan jika virus tersebut mengalami mutasi atau menyebar dari hewan ke manusia. 2. Selanjutnya, AI merancang suatu "super-antigen" yang dapat mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk melindungi terhadap seluruh jenis virus—meskipun virus tersebut berubah atau menular dari hewan ke manusia. 3. Berikutnya, AI mengembangkan "super-antigen" yang dirancang agar sistem kekebalan tubuh dapat memberikan perlindungan menyeluruh terhadap berbagai jenis virus—termasuk virus yang bermutasi atau menyebar dari hewan ke manusia. 4. Selanjutnya, AI menciptakan "super-antigen" yang mampu melatih sistem imun tubuh agar mampu melindungi terhadap seluruh kelompok virus—baik virus yang sudah bermutasi maupun yang menular dari hewan ke manusia. 5. Selanjutnya, AI merancang "super-antigen" yang bertujuan untuk melatih sistem kekebalan tubuh agar bisa memberikan perlindungan terhadap semua jenis virus—terlepas dari apakah virus tersebut bermutasi atau menyebar dari hewan ke manusia.

Antigen merupakan bagian krusial dalam vaksin karena itulah yang dipelajari oleh sistem imun tubuh untuk menyerang.

Heeney menyatakan ini merupakan pertama kalinya antigen yang dikembangkan oleh kecerdasan buatan diuji pada manusia.

Ia mengatakan teknologi ini "membuat kita semua terkejut" dan "luar biasa apa yang bisa kita lakukan dengannya untuk kesejahteraan manusia".

Heeney mengungkapkan kepada BBC News: "Ini berkaitan dengan menciptakan vaksin yang melindungi kita, bukan hanya dari virus saat ini, tetapi juga mencegah kemungkinan wabah atau penyakit berikutnya."

Ini merupakan perubahan mendasar dalam metode kita menghadapi wabah.

Pengujian terhadap 39 orang dibuat untuk mengevaluasi apakah vaksin jenis ini aman.

Penelitian kedua—yang melibatkan sekitar 200 orang—akan memberikan wawasan lebih mendalam mengenai sejauh mana vaksin ini mampu melatih sistem imun tubuh.

Temuan yang dirinci dalam Journal of Infectionmengatakan bahwa dampaknya terhadap sistem kekebalan tubuh "sederhana", tetapi masih memicu antusiasme.

Prof Saul Faust, yang melakukan beberapa pengujian di University of Southampton, menyatakan desain AI "jelas memiliki potensi" dan "sangat menarik".

Ia menyampaikan kepada BBC: "Yang benar-benar menarik adalah teknologi ini jauh lebih unggul dalam merancang vaksin untuk ancaman pandemi ketika virus mengalami perubahan."

Tim peneliti dari Cambridge saat ini sedang melakukan studi terhadap hewan mengenai vaksin flu musiman yang bersifat universal dan tidak memerlukan penyesuaian setiap tahun, serta vaksin untuk flu burung H5N1, jika virus tersebut berubah menjadi wabah di kalangan manusia.

Mereka juga melakukan penelitian terhadap vaksin untuk demam berdarah virus, termasuk spesies Ebola.

Wabah virus Ebola di Negara Republik Demokratik Kongo dipicu oleh jenis yang belum memiliki perlindungan dari vaksin.

Prof Andy Pollard, kepala Oxford Vaccine Group, tidak terlibat dalam penelitian ini, namun menyatakan bahwa pendekatan berbasis AI memberikan bukti yang meyakinkan dalam studi pada hewan.

"Ini merupakan data yang menarik dan orang-orang tidak akan menduga bahwa mereka mampu memberikan respons imun semacam ini," ujarnya kepada BBC News.

Ujian sebenarnya, menurutnya, adalah apa yang terjadi dalam uji coba pada manusia karena sistem kekebalan tubuh manusia berbeda dengan tikus laboratorium, karena sistem kami dibentuk melalui bertahun-tahun infeksi.

Secara lebih luas, ia menyatakan bahwa kecerdasan buatan akan menjadi "alat perubahan" dalam penelitian vaksin. Menurutnya, alat AI berpotensi memprediksi bagaimana sistem kekebalan merespons vaksin, sehingga proses pengembangan bisa jauh lebih cepat dan akan "menyelamatkan nyawa".

Prof Marian Knight, kepala ilmiah National Institute for Health and Care Research, menyatakan: "Kemajuan luar biasa dari uji coba 'super-antigen' yang dibuat oleh AI ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam kemampuan kita untuk memberikan perlindungan yang luas dan berkelanjutan terhadap virus."

Komentar

Tampilkan