- Pihak yang menandatangani perjanjian sementara yang mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menyebabkan harga minyak global kembali turun dalam perdagangan hari Kamis (18/6).
Selanjutnya, dua negara yang sedang bersengketa sejak Februari 2026 sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz, serta mencabut sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Teheran, sehingga mengakhiri gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Berdasarkan data Investing pada hari Kamis (18/6), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat sebesar 1,4 persen menjadi USD 75,67 per barel, sedangkan kontrak berjangka Brent ditutup turun 0,2 persen menjadi USD 78,47.
Harga tersebut terus mengalami penurunan, membalikkan kenaikan sebelumnya pada hari Rabu setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia bisa terus melakukan serangan udara jika pemimpin Iran "tidak bersikap baik".
"Penjualan terus berlanjut karena pasar energi secara aktif memperkirakan kembalinya pasokan minyak Iran lebih cepat dari perkiraan setelah kesepakatan baru antara AS dan Iran," kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dilansir Reuters.
Perjanjian yang terdiri dari 14 poin tersebut memulai masa negosiasi selama 60 hari, di mana Iran akan memberikan akses bebas biaya melalui Selat Hormuz, jalur utama pengangkutan minyak dan gas global. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengembalikan lalu lintas di selat tersebut ke kapasitas maksimal dalam jangka waktu 30 hari.
Perjanjian awal tersebut menunda pembahasan beberapa isu yang lebih rumit, seperti program nuklir Iran, serta memaksa Amerika Serikat dan sekutunya menyusun rencana pendanaan sebesar 300 miliar dolar AS untuk mendukung pemulihan Iran.
Jika perjanjian ini dapat dijalankan dan Selat Hormuz kembali dibuka, krisis pasokan tahun ini bisa berubah menjadi kelebihan pasokan yang besar pada tahun 2027.
Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi bahwa pasokan minyak akan melebihi permintaan sebesar 5,05 juta barel per hari pada tahun mendatang karena kembalinya pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar.
Bank Pusat Amerika Serikat (Federal Reserve) juga mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menaikkan tingkat bunga pada akhir tahun ini guna mengendalikan inflasi, yang bisa mengurangi laju pertumbuhan ekonomi serta menurunkan permintaan terhadap minyak.
Laporan yang dikeluarkan pada hari Rabu menunjukkan bahwa sembilan dari 19 pejabat The Fed saat ini memprediksi adanya kebutuhan untuk menaikkan suku bunga. Hal ini berbeda dibandingkan tiga bulan lalu, ketika tidak ada satupun dari mereka yang memiliki pendapat serupa.