Iklan

Manfaat Kerja Jarak Jauh untuk Kesehatan Fisik dan Mental Karyawan

Wednesday, May 6, 2026, 8:22 PM WIB Last Updated 2026-05-06T12:41:57Z

Kebijakan kerja dari rumah atauworking from homeKerja dari rumah (WFH) menjadi perhatian, seiring langkah pemerintah yang mendorong Pegawai Negeri Sipil (PNS) bekerja dari rumah setiap hari Jumat demi efisiensi penggunaan bahan bakar.

Departemen Ketenagakerjaan (Kemenaker) juga menyarankan kebijakan kerja dari rumah (WFH) selama satu hari dalam seminggu untuk sektor swasta. Saran ini diharapkan dapat diterapkan dengan mempertimbangkan situasi operasional setiap perusahaan.

Kebijakan WFH tersebut diatur dalam Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/III/2026 mengenai Work From Home dan Program Optimasi Pemanfaatan Energi di Tempat Kerja.

Di balik kebijakan kerja dari rumah (WFH) satu hari dalam seminggu, sebenarnya bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan para karyawan? Bagi beberapa orang, WFH terasa lebih nyaman dan fleksibel, namun bagi yang lain, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi justru menjadi tidak jelas.

Perusahaan yang menerapkan kerja dari rumah, mari cek di bawah ini beberapa manfaat WFH terhadap kesehatan karyawan, dengan syarat dilakukan secara tepat.

1. Mengurangi rasa stres dan kelelahan akibat perjalanan

Salah satu keuntungan langsung dari bekerja dari rumah adalah mengurangi waktu dan tekanan yang dihabiskan untuk perjalanan harian. Di kota besar, perjalanan menuju kantor bisa memakan waktu berjam-jam, yang berkontribusi pada stres jangka panjang.

Penelitian mengungkapkan bahwa perjalanan yang memakan waktu berjam-jam berkaitan dengan peningkatan tingkat stres, kelelahan, dan penurunan kesejahteraan psikologis. Dengan bekerja dari rumah, beban tersebut secara otomatis berkurang.

Selain itu, waktu yang biasanya digunakan untuk berada di jalan dapat dialihkan ke kegiatan yang lebih menyegarkan, seperti istirahat, olahraga ringan, atau berkumpul dengan keluarga, yang semuanya memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental.

2. Istirahat yang lebih memadai dan berkualitas

WFH memberikan kebebasan waktu yang memungkinkan karyawan mendapatkan istirahat yang lebih lama. Tanpa perlu bangun terlalu dini untuk bersiap dan bepergian, banyak orang mampu memperpanjang durasi tidur mereka.

Kurang tidur jangka panjang diketahui berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan metabolisme, penurunan kemampuan berpikir, dan meningkatnya risiko penyakit jantung.

Dengan jadwal yang lebih fleksibel, karyawan memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan ritme sirkadian yang lebih baik, yang berkontribusi pada tingkat energi dan fokus yang stabil sepanjang hari.

3. Pola makan lebih bisa diatur

Bekerja dari rumah memungkinkan akses langsung ke makanan yang lebih bergizi dibandingkan dengan membeli makanan cepat saji di luar. Hal ini memberikan pengendalian yang lebih besar terhadap kualitas dan bahan-bahan dalam makanan.

Studi menemukan bahwa pola makan yang lebih terstruktur dan berbasis rumah biasanya mengandung lebih banyak serat, vitamin, dan mineral, serta lebih sedikit lemak jenuh.

Namun, manfaat ini sangat tergantung pada kebiasaan seseorang. Jika tidak mampu mengendalikan diri, bekerja dari rumah juga dapat memicu kebiasaan makan berlebihan.

4. Lebih mudah bergerak dalam kegiatan fisik

Bekerja dari rumah memberikan kesempatan untuk memasukkan aktivitas fisik di tengah-tengah tugas kerja, sepertistretching, berjalan kaki, atau aktivitas olahraga ringan.

Latihan fisik secara teratur, meskipun hanya dalam jangka waktu singkat, memberikan kontribusi signifikan terhadap kesehatan jantung, metabolisme, serta kesehatan mental.

Kemampuan fleksibel ini sulit ditemukan di lingkungan kerja kantor yang lebih terstruktur, sehingga bekerja dari rumah bisa menjadi kesempatan untuk menciptakan kebiasaan yang lebih aktif.

5. Kesehatan mental cenderung lebih stabil (jika diatur dengan baik)

Bekerja dari rumah mampu mengurangi tekanan sosial dan lingkungan kerja yang tidak sehat, seperti perselisihan antar rekan kerja atau beban kerja yang berat.

Penelitian mengungkapkan bahwa fleksibilitas dalam bekerja berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan mental, terutama ketika karyawan memiliki otonomi dalam menentukan waktu dan suasana kerja mereka.

Namun, perlu diperhatikan bahwa isolasi sosial dapat menjadi bahaya jika terjadi penurunan yang signifikan dalam interaksi sosial.

6. Mengurangi paparan polusi

Bekerja dari rumah juga dapat mengurangi paparan polusi udara, khususnya bagi mereka yang biasanya beraktivitas di jalan atau wilayah dengan kualitas udara yang jelek.

Paparan terus-menerus terhadap polusi udara berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan mengidap penyakit pernapasan dan jantung.

Dengan bekerja dari rumah, karyawan memiliki kesempatan untuk berada di lingkungan yang lebih teratur dan nyaman.

Bekerja dari rumah dapat memengaruhi kesehatan secara langsung. Mulai dari tidur yang lebih cukup hingga pengelolaan stres yang lebih baik, manfaatnya terasa nyata jika dilakukan dengan benar.

Namun, manfaatnya tidak muncul secara otomatis. Tanpa pengelolaan yang tepat, bekerja dari rumah juga dapat menyebabkan kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak terkendali, hingga isolasi sosial. Kuncinya terletak pada bagaimana memanfaatkan fleksibilitas ini untuk mendukung kesehatan, bukan justru mengabaikannya.

7 Manfaat Berpuasa bagi Kesehatan Jiwa, Membuat Lebih Tenang Mitologi atau Fakta: Apakah Overthinking Menandai Gangguan Mental? Alasan Mengapa Pertemanan yang Baik Sangat Baik untuk Kesehatan Mental

Referensi

World Health Organization"Petunjuk Aktivitas Fisik." Diakses pada April 2026.

https://www.who.int

Jodi Oakman dkk., “Bekerja dari Rumah di Australia Selama Pandemi COVID-19: Hasil Studi Karyawan yang Bekerja dari Rumah (EWFH),”BMJ Open12, nomor 4 (1 April 2022): e052733,https://doi.org/10.1136/bmjopen-2021-052733.

Yijing Xiao dkk., “Dampak Bekerja dari Rumah Selama Masa Pandemi COVID-19 terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Pengguna Meja Kerja Kantor,”Jurnal Kedokteran dan Lingkungan Kerja63, nomor 3 (23 November 2020): 181–90,https://doi.org/10.1097/jom.0000000000002097.

Kiron Chatterjee dkk., “Perjalanan Komuter dan Kesejahteraan: Tinjauan Kritis Terhadap Literatur dengan Implikasi bagi Kebijakan dan Penelitian Masa Depan,”Transport Reviews40, nomor 1 (Agustus 1, 2019): 5–34,https://doi.org/10.1080/01441647.2019.1649317.

Michael A. Grandner, Sleep and Health, Elsevier eBooks, 2019, https://doi.org/10.1016/c2017-0-02743-x.

Julia A. Wolfson dkk., “Hambatan Akses Makanan Sehat: Hubungan Dengan Pendapatan Rumah Tangga dan Perilaku Memasak,”Preventive Medicine Reports13 (30 Januari 2019): 298–305,https://doi.org/10.1016/j.pmedr.2019.01.023.

Susan E Peters dkk., “Kerja dan Kesehatan Pekerja di Dunia Pasca-Pandemi: Perspektif Kesehatan Masyarakat,”The Lancet Public Health7, nomor 2 (1 Februari 2022): e188–94,https://doi.org/10.1016/s2468-2667(21)00259-0.

Reiner Rugulies dkk., "Penyebab Kesehatan Mental yang Terkait Pekerjaan dan Intervensi untuk Peningkatannya di Tempat Kerja,"The Lancet402, nomor 10410 (1 Oktober 2023): 1368–81,https://doi.org/10.1016/s0140-6736(23)00869-3.

Komentar

Tampilkan