– Pemerintah Jepang kali pertama menentukan jumlah reaktor nuklir yang akan diganti sejak bencana Fukushima pada 2011.
Dilaporkan oleh Kyodo, Senin (8/6), Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) menyarankan pergantian dua hingga lima reaktor nuklir yang sudah tua pada tahun 2040-an. Angka ini diperkirakan akan naik menjadi total 11 hingga 14 reaktor pada tahun 2050-an.
Tujuan tersebut dijelaskan dalam rapat panel kementerian pada Jumat (5/6) sebagai langkah untuk mendorong investasi dan memastikan ketersediaan sumber daya manusia di sektor energi nuklir.
Tindakan ini diambil mengingat Jepang memprediksi permintaan listrik akan terus meningkat, khususnya akibat pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memerlukan pasokan energi dalam jumlah besar.
Namun, rencana tersebut menghadapi kendala yang signifikan. Biaya pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di berbagai negara terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga pelaksanaan proyek penggantian reaktor masih belum jelas.
Perubahan yang cukup besar terjadi dalam kebijakan energi Jepang selama sepuluh tahun terakhir.
Setelah bencana Fukushima Daiichi yang disebabkan oleh gempa dan tsunami pada bulan Maret 2011, pemerintah pernah berusaha mengurangi ketergantungan terhadap energi nuklir. Namun sekarang kebijakan berubah menjadi memaksimalkan penggunaan energi nuklir untuk menjaga keamanan pasokan energi nasional.
Di dalam Rencana Dasar Energi yang diperbarui pada tahun 2025, pemerintah Jepang menetapkan target sebesar 20 persen kebutuhan listrik nasional pada tahun fiskal 2040 berasal dari pembangkit tenaga nuklir.
Tujuan tersebut dianggap sulit dicapai hanya dengan menghidupkan kembali reaktor yang saat ini tidak beroperasi. Oleh karena itu, pembangunan reaktor pengganti dianggap sebagai kebutuhan yang tidak dapat ditolak.
Perkiraan jumlah reaktor pengganti yang diajukan oleh METI didasarkan pada proyeksi dari sektor listrik Jepang. Pada tahun 2040-an, Jepang diperkirakan akan mengalami kekurangan pasokan listrik sebesar 5,5 juta kilowatt.
Angka tersebut setara dengan kemampuan produksi listrik dari sekitar lima reaktor nuklir.
Saat ini, masa operasional reaktor nuklir di Jepang dibatasi maksimal 60 tahun. Beberapa reaktor yang masih beroperasi saat ini hampir mencapai usia 50 tahun.
Di sisi lain, terdapat 24 reaktor yang berada di 11 pusat pembangkit listrik tenaga nuklir saat ini sedang menjalani proses penutupan atau penghentian operasional secara permanen.
Beberapa area yang berpotensi digunakan sebagai lokasi pembangunan reaktor pengganti antara lain adalah Kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Mihama di Prefektur Fukui dan Kompleks Sendai di Prefektur Kagoshima.
Rencana ini menjadi tanda perubahan signifikan dalam kebijakan energi Jepang, yang kini semakin mempercayakan tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik menghadapi meningkatnya permintaan dari industri dan teknologi.