Iklan

Hardiknas 2026: Pendidikan Bermutu Tugas Siapa?

Saturday, May 2, 2026, 7:00 AM WIB Last Updated 2026-05-02T00:00:29Z

 



Oleh: Rofiq Ali Muhsin

Kepala SMKN 5 Madiun


Setiap kali Hari Pendidikan Nasional diperingati, ruang-ruang kelas dihias, pidato dibacakan, dan komitmen diulang. Namun di balik seremoni itu, ada pertanyaan yang sering luput kita jawab dengan jujur: benarkah pendidikan adalah urusan sekolah semata? Di tengah perubahan zaman yang kian cepat—ketika teknologi mengubah cara belajar, nilai-nilai sosial mengalami pergeseran, dan tantangan hidup makin kompleks—menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah justru menjadi kekeliruan besar. Pendidikan bermutu hanya bisa lahir dari keterlibatan semesta.


Selama ini, sekolah sering ditempatkan sebagai aktor utama—bahkan satu-satunya—dalam membentuk kualitas generasi muda. Ketika terjadi penurunan prestasi, sekolah disorot. Saat muncul kasus perundungan, sekolah disalahkan. Ketika lulusan dianggap tidak siap kerja, sekolah kembali menjadi pihak yang dituding. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.


Pendidikan adalah ekosistem. Ia hidup dari interaksi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan negara. Jika salah satu elemen melemah, maka kualitas pendidikan pun ikut terpengaruh. Ibarat sebuah jaring, kekuatan pendidikan tidak ditentukan oleh satu simpul saja, melainkan oleh kekokohan seluruh simpul yang saling terhubung.


Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali kesadaran tentang “partisipasi semesta”. Sebuah gagasan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu institusi.


Pertama, keluarga adalah fondasi utama pendidikan. Sebelum anak mengenal huruf dan angka di sekolah, ia lebih dahulu belajar nilai, sikap, dan kebiasaan di rumah. Disiplin, empati, kejujuran, dan tanggung jawab tidak lahir dari buku pelajaran semata, melainkan dari teladan yang diberikan orang tua. Ketika keluarga abai, sekolah sering kali dipaksa mengisi ruang yang seharusnya sudah terbentuk sejak dini. Akibatnya, proses pendidikan menjadi timpang.


Namun realitas hari ini menunjukkan tantangan besar. Kesibukan orang tua, tekanan ekonomi, hingga distraksi digital membuat keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak semakin berkurang. Tidak sedikit orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah, bahkan untuk hal-hal mendasar sekalipun. Padahal, tanpa dukungan keluarga, upaya sekolah akan selalu terbatas.


Kedua, masyarakat memiliki peran yang tidak kalah penting. Lingkungan sosial tempat anak tumbuh turut membentuk cara berpikir dan bertindak. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah bisa runtuh jika tidak didukung oleh lingkungan sekitar. Misalnya, bagaimana mungkin kita menanamkan kejujuran di kelas jika di luar sana anak justru menyaksikan praktik-praktik yang bertentangan?


Masyarakat yang peduli terhadap pendidikan akan menciptakan ruang-ruang belajar yang lebih luas. Perpustakaan komunitas, kegiatan literasi, forum diskusi, hingga aktivitas sosial dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang hidup. Sebaliknya, masyarakat yang apatis hanya akan mempersempit makna pendidikan menjadi sekadar rutinitas formal.


Ketiga, dunia usaha dan industri juga memiliki tanggung jawab strategis, terutama dalam memastikan relevansi pendidikan dengan kebutuhan nyata. Di era yang ditandai oleh perubahan cepat, kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja sering kali menjadi persoalan serius. Banyak lulusan yang kesulitan beradaptasi karena kompetensi yang dimiliki tidak sesuai dengan tuntutan lapangan.


Di sinilah pentingnya kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan dunia industri. Program magang, teaching factory, hingga penyusunan kurikulum berbasis kebutuhan industri bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak. Pendidikan tidak boleh berjalan di ruang hampa; ia harus terhubung dengan realitas.


Keempat, pemerintah tetap memegang peran sentral sebagai pengarah dan penjamin kualitas. Kebijakan yang berpihak pada pemerataan, peningkatan kualitas guru, serta penyediaan infrastruktur yang memadai menjadi kunci utama. Namun, kebijakan yang baik tidak akan berdampak optimal tanpa dukungan dari masyarakat luas. Regulasi tanpa partisipasi hanya akan berhenti sebagai dokumen.


Di tengah semua itu, kita juga dihadapkan pada tantangan baru: era digital dan kecerdasan buatan. Teknologi telah membuka akses belajar yang luas, tetapi juga menghadirkan distraksi dan risiko. Anak-anak kini bisa belajar dari mana saja, tetapi juga bisa tersesat dalam arus informasi yang tidak terfilter. Dalam situasi ini, peran semua pihak menjadi semakin penting.


Sekolah tidak bisa mengawasi siswa selama 24 jam. Orang tua tidak selalu memahami dinamika teknologi. Masyarakat sering kali belum siap menghadapi perubahan. Tanpa sinergi, teknologi justru bisa menjadi ancaman, bukan peluang.


Maka, Hardiknas 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita. Pendidikan tidak boleh lagi dipahami sebagai tanggung jawab sektoral. Ia harus dilihat sebagai gerakan kolektif yang melibatkan semua elemen bangsa.


Menguatkan partisipasi semesta bukan berarti membagi-bagi tanggung jawab secara abstrak, melainkan membangun kesadaran konkret. Orang tua perlu lebih hadir dalam proses belajar anak. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan. Dunia usaha perlu terlibat aktif dalam pengembangan kompetensi. Pemerintah perlu memastikan kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. Dan sekolah tetap menjadi pusat yang mengorkestrasi semua itu.


Lebih dari itu, kita juga perlu membangun budaya gotong royong dalam pendidikan. Nilai ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi solusi yang relevan untuk menghadapi kompleksitas zaman. Ketika semua pihak bergerak bersama, beban tidak lagi terasa berat. Sebaliknya, pendidikan menjadi gerakan bersama yang hidup dan dinamis.


Tentu, membangun partisipasi semesta bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen, komunikasi, dan kepercayaan antar pihak. Namun, tantangan tersebut tidak sebanding dengan risiko yang harus kita hadapi jika terus berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan yang terfragmentasi hanya akan menghasilkan generasi yang tidak siap menghadapi masa depan.


Pada akhirnya, pendidikan bermutu bukanlah hasil kerja satu pihak, melainkan buah dari kolaborasi banyak tangan dan hati. Hardiknas 2026 seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi menjadi titik tolak untuk memperkuat keterlibatan semua elemen bangsa. Karena ketika pendidikan menjadi tanggung jawab semesta, harapan tentang generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan bukan lagi sekadar cita-cita—melainkan keniscayaan yang sedang kita bangun bersama.


Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

Komentar

Tampilkan