Iklan

Anak dari Orang Tua Bercerai Sering Tunjukkan 6 Perilaku Ini, Kata Psikologi

Monday, May 11, 2026, 4:01 PM WIB Last Updated 2026-05-10T22:03:23Z

Masa kecil yang dihabiskan bersama orang tua yang bercerai dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak, meskipun hal itu mungkin tidak disadari olehnya.

Dan perceraian, terutama, mampu memengaruhi cara anak melihat hubungan, mengelola perasaan, serta menjalani kehidupan sebagai dewasa.

Dikutip dari geediting, berikut enam pola perilaku yang umum ditunjukkan anak yang tumbuh dalam lingkungan orang tua yang bercerai, menurut pandangan psikologi.

  1. Mereka sangat mandiri

Menghabiskan masa kecil dengan orang tua yang bercerai sering kali membuat seseorang belajar untuk mandiri sejak usia muda.

Saat orang tua bercerai, anak mungkin harus pindah-pindah antara dua tempat tinggal, menghadapi aturan yang berbeda, atau bahkan memikul tanggung jawab yang tidak seharusnya dibebankan kepada anak-anak.

Seiring berjalannya waktu, hal ini menciptakan rasa kemandirian yang kuat.

  1. Mereka adalah penjaga perdamaian dalam hubungan

Saat seorang anak berkembang dan menyaksikan orang tuanya berkelahi atau hanya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, ia akan segera memahami pentingnya menjaga perdamaian.

Ia akan menjadi sangat peka terhadap ketegangan dan berupaya menenangkannya sebelum memuncak.

Meskipun mampu menjadi seorang mediator yang baik, hal ini juga bisa memicu kecenderungan untuk selalu berusaha memuaskan orang lain.

  1. Mereka berjuang dengan keyakinan di dalam hubungan

Banyak anak yang tumbuh dengan orang tua yang bercerai mengalami rasa takut mendalam terhadap ditinggalkan.

Mereka mungkin meragukan diri sendiri untuk terbuka sepenuhnya agar tetap waspada jika situasi tidak berjalan dengan baik.

  1. Mereka lebih cepat beradaptasi dengan perubahan

Anak-anak dari orang tua yang bercerai seringkali tumbuh dalam situasi yang tidak menentu, seperti sering berpindah tempat tinggal, beradaptasi dengan perubahan dinamika keluarga, serta menghadapi harapan yang berbeda-beda.

Perubahan ini memaksa mereka untuk meningkatkan tingkat kemampuan beradaptasi, yang bisa menjadi kekuatan sekaligus tantangan di masa depan.

  1. Mereka terlalu memikirkan konflik

Saat anak mulai beranjak dewasa dan menyaksikan pertengkaran yang semakin sering terjadi, ia akan belajar untuk mengamati dengan cermat setiap perubahan nada suara, jeda, serta perubahan kecil dalam ekspresi wajah seseorang.

Permasalahan bukan hanya terasa sebagai perbedaan pendapat, tetapi juga seperti tanda peringatan bahwa segala sesuatu bisa rusak.

Ini sering kali memicu analisis yang berlebihan, bahkan konflik kecil pun bisa terjadi.

  1. Mereka sangat berempati

Mengalami perceraian di masa kecil sering kali membuat seseorang menjadi sangat peka terhadap perasaan orang lain.

Baik itu merasakan rasa sedih orang tua atau berusaha menjaga ketenangan di saat situasi memanas, banyak anak korban perceraian menunjukkan rasa empati yang kuat sejak usia muda.

Komentar

Tampilkan