Iklan

'Dia masih menunggu saya, belum sempat makan' tangis pilu istri Brigadir Arya yang dibunuh curanmor

Monday, May 11, 2026, 4:06 PM WIB Last Updated 2026-05-10T22:03:23Z
Ringkasan Berita:
  • Awalnya, anggota Polda Lampung tersebut mengendarai sepeda motor Honda Beat Street berwarna hitam.
  • Korban melihat dua orang pria, dan salah satunya tampak sedang merusak kunci setir sepeda motor Honda Beat berwarna biru dan putih.
  • Kemudian Brigadir Arya memperingatkan dua pria yang diduga sebagai pelaku pencurian sepeda motor tersebut.
  • Namun, teguran tersebut justru menyebabkan salah satu pelaku mengeluarkan senjata api (senpi) dan menembak korban.
 

Jovita, istri dari Brigadir Arya Supena (32), anggota Direktorat Intelkam Polda Lampung yang gugur akibat terkena tembakan, tidak mampu menahan air matanya saat berada di Rumah Sakit Bhayangkara, Sabtu (9/5/2026).

Jovita terlihat duduk di kursi roda yang didorong dari ruang tunggu menuju kamar jenazah sekitar pukul 11.00 WIB. Di tengah rasa sedihnya, ia sempat mengucapkan kalimat yang lembut.

"Mungkin dia sedang menunggu saya. Dia belum sempat makan," katanya.

"Anak-anaknya membutuhkannya," tambah Jovita sambil menangis.

Setelah meninggalkan kamar jenazah sekitar pukul 11.18 WIB, Jovita kembali ditemani dengan kursi roda menuju ruang tunggu rumah sakit.

Ia menggambarkan suaminya sebagai seseorang yang baik.

"Orangnya baik," katanya pelan.

Kronologi Kejadian

Sebelumnya dilaporkan, Brigadir Arya Supena (32), anggota Direktorat Intelkam Polda Lampung, gugur akibat tembakan di depan toko kue Yussy Akmal, Sabtu (9/5/2026) sekitar pukul 05.30 WIB.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun mengatakan, awalnya anggota Polda Lampung tersebut berkendara menggunakan sepeda motor Honda Beat Street berwarna hitam dengan plat nomor BG 6138 ACY.

Korban melihat dua orang pria, dan salah satunya tampak sedang merusak kunci setir sepeda motor Honda Beat berwarna biru putih dengan plat nomor BE 2826 NBM.

Kemudian Brigadir Arya memperingatkan dua pria yang diduga sebagai pelaku pencurian sepeda motor tersebut.

Namun, teguran tersebut justru menyebabkan salah satu pelaku mengeluarkan senjata api (senpi) dan menembak korban.

Berdasarkan rekaman kamera pengawas selama 1 menit 42 detik, korban dan tersangka terlihat sempat bertarung.

Namun, tidak lama kemudian korban jatuh diduga akibat ditembak oleh pelaku dari jarak dekat.

Korban Brigadir Arya terkena tembakan di bagian samping kepala sebelah kanan yang menembus ke sisi kiri.

Saat pelaku berusaha kabur, senjata api sempat jatuh dan pelaku kembali mengambilnya.

Kemudian kabur bersama pelaku lain sambil mengacungkan senjata api ke arah tukang sapu.

Korban Brigadir Arya Supena adalah warga Jalan Mata Intan 1 Rt. 02 Lk. I Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung.

Petugas polisi segera datang ke tempat kejadian dan melakukan penyelidikan di lokasi kejadian serta mengumpulkan keterangan dari para saksi.

Sementara itu, pihak kepolisian juga melakukan pengawasan di Rumah Sakit Bhayangkara.

Firasat Keluarga Sebelum Kejadian

Pada pagi hari, Galung (31) menerima panggilan telepon sekitar pukul 6.30 WIB pada hari Sabtu (9/5/2026) yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tidak terduga, telepon yang diangkatnya memberitahukan tentang kematian Brigadir Arya Supena (32), pamannya sekaligus teman masa kecilnya, yang gugur saat berusaha mencegah pencurian sepeda motor (curanmor).

Dengan rasa tidak percaya awalnya, ketika mendengar berita itu ia mengira informasi tersebut hanya tipuan atau berita palsu.

Bahkan, Galung masih berharap kabar tersebut hanya sebuah mimpi, hingga saat ia melihat langsung jenazah almarhum tiba di rumah duka.

"Saya dengar sekitar pukul tujuh pagi. Awalnya saya tidak percaya, saya mengira itu penipuan atau berita palsu. Namun ketika teman saya mengirimkan foto korban dan KTA-nya, saya langsung terkejut. Ternyata benar-benar Arya," kata Galung, Sabtu (9/5/206).

Dengan rasa sedih yang dalam, Galung mengingat beberapa peristiwa aneh yang kini ia pahami sebagai tanda-tanda.

Salah satu di antaranya datang dari anak almarhum pada malam sebelum kejadian.

Intuisinya sangat kuat dari adiknya yang muda. Pada malam itu, dia tiba-tiba tidak tenang dan meminta makan serta ingin pulang saat menginap di rumah kerabat. Biasanya dia nyaman, namun malam itu dia gelisah dan ingin segera kembali ke rumah," kata Galung.

Tidak hanya saudara kandungnya, kedua orang tua Arya juga menunjukkan tindakan yang tidak biasa.

Biasanya di hari Sabtu, ayah mengambil cucunya dari Bandar Lampung untuk tinggal di Metro, tetapi kebiasaan tersebut tidak dilakukan pada saat peristiwa Arya Gugur.

"Bapak Arya tampaknya tidak berniat pergi-pergi, lebih suka menunggu di rumah sampai Arya pulang. Biasanya Arya memang selalu kembali pada hari Sabtu, tapi kemarin dia tidak memberi kabar. Akhirnya harapan keluarga berakhir seperti ini," kata Galung.

Galung juga menyesali percakapan terakhir mereka yang hanya berlangsung melalui pesan singkat WhatsApp.

Meskipun biasanya mereka rutin melakukan panggilan video dengan orang tua Arya untuk melihat cucu pertama keluarga mereka.

"Orang tua mereka sedang sangat bahagia karena Arya baru saja memiliki cucu pertama bagi mereka. Biasanya mereka rutin melakukan panggilan video, tetapi kemarin dia tidak memberi kabar sampai akhirnya kami mendengar kejadian ini," tambahnya.

Saat ini, Galung beserta anggota keluarganya hanya mampu bersabar menghadapi realitas yang menyakitkan itu.

Ia mengakui sangat terbawa perasaan ketika melihat foto dan rekaman CCTV yang menunjukkan keadaan pamannya pada saat kejadian.

Saat melihat rekaman tersebut, perasaannya campur aduk. Saya berharap dia masih mampu bertahan meskipun peluangnya sangat kecil karena anaknya masih sangat muda," ujar Galung.

Sempat Bergumul dengan Pelaku

Brigadir Arya meninggal dunia setelah menjadi korban penembakan oleh pelaku perampokan di halaman Toko Yussy Akmal, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, pada hari Sabtu (9/5/2026) pagi.

Pergiannya Brigadir Arya meninggalkan luka yang dalam bagi istri, Jovita, dan dua anak kecil mereka.

Selanjutnya, kejadian mengerikan tersebut dimulai sekitar pukul 05.30 WIB. Pada saat itu, Brigadir Arya yang sedang berjalan melihat dua orang pria yang mencurigakan sedang merusak kunci setang motor milik warga.

Tidak ragu, Brigadir Arya menegur kedua pelaku.

Namun, tindakan keras tersebut dijawab dengan tembakan senjata api oleh salah satu pelaku.

Bola peluru mengenai sisi kanan kepala korban dan menembus ke sisi kiri tubuh korban.

Berdasarkan rekaman kamera pengawasan yang berlangsung selama 1 menit 42 detik di tempat kejadian, Brigadir Arya sempat mengalami pertarungan dan pertempuran fisik dengan tersangka sebelum akhirnya jatuh setelah menerima tembakan dari jarak dekat.

Setelah menembak korban, dua tersangka langsung kabur dengan naik motor bersama.

Mereka pernah mengarahkan senjata api ke seorang petugas kebersihan di tempat kejadian guna membuka jalan saat mereka kabur.

Kepala Polisi Republik Indonesia Berikan Kenaikan Pangkat Khusus

Kepala Polisi Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo akan memberikan kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) kepada anggota polisi yang gugur akibat ditembak oleh pelaku pencurian sepeda motor (curanmor) di Provinsi Lampung.

Seorang anggota polisi yang gugur dalam menjalankan tugasnya adalah Brigadir Arya Supena (32), yang merupakan personel Itelijen Keamanan Negara (Kamneg) Polda Lampung.

Brigadir Arya gugur saat berusaha mencegah pencurian sepeda motor di halaman Toko Kue dan Oleh-oleh Yussy Akmal, Jalan ZA Pagar Alam, Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, Sabtu (9/10/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.

Arya meninggal akibat luka di kepala yang diduga berasal dari tembakan pelaku pencurian sepeda motor.

Sementara pelaku kabur setelah melakukan penembakan tersebut.

Kehilangan Arya dalam menjalankan tugas, Polri memberikan penghormatan kepada almarhum.

"Saya sudah meminta agar diberikan KPLB atas pengabdiannya hingga gugur saat menjalankan tugasnya," ujar Jenderal Sigit saat dihubungi Kompas.com, Minggu (10/5/2026).

Sigit menyampaikan, pemberian kenaikan pangkat ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi dari institusi Polri terhadap dedikasi almarhum.

"Sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan paling tinggi dari lembaga," katanya.

Pelaku Segera Ditangkap dan Dihukum Sesuai Hukum

Sabtu (9/5/2026) sore, Galung (31) berada di tengah kerumunan pengunjung di TPU Kelurahan Mulyosari, Metro Barat.

Pandangannya mengarah ke peti jenazah kerabatnya, Brigadir Arya Supena, yang perlahan diturunkan ke liang lahat dalam upacara Pedang Pora.

Menurut Galung, proses pemakaman resmi oleh pihak kepolisian merupakan bentuk penghargaan terhadap keberanian luar biasa yang ditunjukkan Arya.

Namun, di balik rasa hormat tersebut, tersimpan perasaan sedih karena tindakan pelaku yang kejam mengambil nyawa saudaranya.

"Alhamdulillah proses pemakaman telah selesai tadi sore. Tadi sempat ada upacara pelepasan oleh pihak kepolisian di rumah, kemudian di makam juga dilakukan penghormatan terakhir," ujar Galung setelah melaksanakan yasinan di rumah duka, Sabtu (9/5/2026) malam.

Galung menegaskan bahwa keluarga sangat kecewa dengan cara kematian Arya.

Bagi dia, tindakan pelaku yang menembak kepala Arya merupakan perbuatan yang sangat keji dan tidak beradab.

Terlebih lagi ketika Arya sedang menjalankan tugasnya.

Harapan harus seimbang. Dari pihak keluarga ingin nyawa dibayar nyawa. Namun kami memahami negara kita adalah negara hukum, jadi biarkan hukum yang berjalan,

"Tetapi jujur, keluarga mana yang tidak benci jika saudaranya meninggal dengan cara seperti itu," tambahnya.

Jika memiliki kesempatan berhadapan dengan pelaku, Galung mengatakan mungkin tidak akan mampu mengendalikan perasaannya.

Rasa kehilangan kerabat dekat yang selalu membantu sejak masa SMP hingga SMA membuat luka ini sangat mendalam.

"Banyak kata-kata kasar yang ingin saya sampaikan kepada pelaku. Kami benar-benar tidak menyangka, padahal Arya adalah orang yang selalu berhati-hati. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa dia pergi begitu cepat dengan cara yang tragis," ujarnya.

Galung berharap aparat kepolisian dapat bertindak cepat dalam menangkap pelaku agar sedikit mengurangi rasa sakit yang dirasakan keluarga.

"Harapan saya adalah polisi dapat menangkap pelaku secepat mungkin. Jika bisa, segera dalam hitungan detik! Hukuman yang paling berat sebagai bentuk pengobatan bagi luka keluarga," katanya.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto/Dominius Desmantri Barus/Robertus Didik Budiawan Cahyono) ()

Komentar

Tampilkan