
Ringkasan Berita:Perang Timur Tengah
- Trump secara resmi memberlakukan blokade di Selat Hormuz mulai Senin (13/4) pukul 10.00 EDT.
- Kebijakan "All or None" bertujuan menghentikan seluruh ekspor minyak Iran.
- Pasukan militer Amerika diperintahkan untuk menghancurkan ranjau laut dan menyerang kembali para pengganggu.
- Koalisi navigasi Inggris-Francis terbentuk setelah dialog di Islamabad mengalami kegagalan total.
- Sebagai ancaman tarif 50 persen terhadap produk Tiongkok jika Beijing menyuplai senjata ke Iran.
–Stabilitas keamanan global berada pada titik terendah setelah negosiasi perdamaian paling intensif dalam 47 tahun terakhir antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Merupakan tanggapan terhadap kebuntuan tersebut, Presiden Donald Trump segera mengambil tindakan militer yang ekstrem, yang berisiko memicu krisis di jalur pasokan energi global.
Mulai Senin (13/4/2026) pukul 10.00 waktu EDT, Trump secara resmi mengeluarkan perintah kepada Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menerapkan blokade penuh di Selat Hormuz.
Operasi ini secara khusus mengarahkan perhatian pada seluruh kapal yang berangkat ke atau berasal dari Iran guna memutus sumber penghidupan ekonomi Teheran.
Dalam wawancara di acara "Sunday Morning Futures" milik Fox News, Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran melakukan perdagangan minyak secara selektif.
"Kita tidak akan membiarkan Iran mendapatkan uang dari penjualan minyak hanya kepada pihak yang mereka inginkan. Ini akan menjadi semua atau tidak sama sekali," tegas Trump.
Penghancuran Bait dan Ancaman Serangan Balik
Melalui platform Truth Social, Trump juga memerintahkan militer AS untuk segera melakukan pemeriksaan dan menghancurkan ranjau laut yang dipasang oleh Iran di perairan strategis tersebut.
Ia memberi peringatan tegas kepada siapa pun yang berani mengganggu aset Amerika Serikat.
"Siapa pun dari pihak Iran yang berani menyerang kapal AS atau kapal warga sipil akan segera dihancurkan," tulisnya.
Tekanan Ekonomi terhadap Tiongkok dan Aliansi Eropa
Kegagalan dialog di Pakistan yang melibatkan Wakil Presiden JD Vance memicu respons berantai di tingkat global.
Di tengah ketegangan antara Israel dan Hizbullah yang semakin memanas di wilayah selatan Lebanon, Inggris dilaporkan sedang membentuk konsorsium bersama Prancis untuk memastikan kebebasan berlayar di Selat Hormuz demi mencegah kekurangan pasokan energi global.
Tidak hanya di bidang militer, Donald Trump juga memulai perang ekonomi dengan mengancam akan menerapkan pajak sebesar 50 persen terhadap semua barang dari Tiongkok.
Tindakan ini akan diambil apabila intelijen Amerika Serikat membuktikan bahwa Beijing menyuplai senjata ke Iran selama masa pembatasan ini.
Reaksi Keras Iran
Pihak Teheran secara langsung mengecam kegagalan negosiasi yang sebenarnya sudah hampir mencapai kesepahaman melalui Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kegagalan disebabkan oleh sikap "maksimalisme" dan perubahan tiba-tiba terhadap permintaan dari pihak Amerika Serikat.
Melalui platform X, ia menekankan bahwa niat baik seharusnya dijawab dengan niat baik, bukan permusuhan.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut ambisi dominasi Amerika Serikat sebagai hambatan terbesar bagi perdamaian saat berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan ditangani dengan tegas, meskipun mereka menyatakan bahwa selat tetap dapat dilewati oleh kapal-kapal sipil yang mematuhi aturan.
Dampak Ekonomi Global
Pernyataan terbaru Donald Trump langsung memicu respons instan dari pasar keuangan global.
Ancaman blokade yang diumumkan Trump langsung memicu kenaikan tajam harga komoditas energi.
Harga minyak Brent mengalami kenaikan sebesar 8 persen, mencapai 102 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.743.180.
Peningkatan serupa juga terjadi pada minyak mentah Amerika Serikat yang mencapai angka 104 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.777.360.
Pada tingkat konsumen, harga bensin di Amerika Serikat diperkirakan akan terus meningkat melebihi rata-rata saat ini yang mencapai 4,12 dolar AS per galon atau sekitar Rp70.410.
Ahli Iran Menganggap Strategi Militer Amerika Serikat Tidak Efisien di Selat Hormuz
Kekacauan di wilayah Teluk kembali memburuk seiring meningkatnya ancaman pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz.
Para akademisi Iran menyatakan bahwa pendekatan militer Amerika Serikat tidak akan mampu menghadapi perubahan politik di wilayah tersebut.
Zohreh Kharazmi, dosen madya di Universitas Tehran, mengatakan bahwa Iran siap menghadapi setiap usaha blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
"Strategi ala Hollywood tidak akan berhasil di medan perang yang nyata seperti ini," katanya sebagaimana dilaporkan Aljazeera, Senin (13/4/2026).
Ia menekankan kerumitan perselisihan yang tidak dapat diatasi hanya melalui demonstrasi kekuatan militer.
Bayang-bayang Sejarah 1953
Kharazmi menegaskan bahwa ketegangan semacam ini bukan hal yang asing bagi Iran.
Ia mengacu pada kejadian tahun 1953, saat Mohammed Mossadegh, perdana menteri Iran yang dipilih secara demokratis, mengusulkan nasionalisasi minyak.
Tindakan tersebut memicu reaksi keras dari Barat dan berakhir dengan kudeta yang didukung oleh CIA dan MI6.
"Usaha memaksa negara lain dengan kekuatan adalah cara lama yang sangat dikenal oleh rakyat Iran," katanya.
Bukan hanya sebagai jalur pelayaran penting, Selat Hormuz juga memiliki makna simbolis bagi Iran.
Kharazmi membandingkannya dengan nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir pada tahun 1956, yang menjadi lambang perlawanan terhadap pengaruh asing.
Menurutnya, penguasaan Iran terhadap Hormuz mencerminkan keputusan otonom atas wilayahnya sendiri dan menjadi sumber rasa percaya diri nasional.
Kharazmi juga menyoroti bahwa Iran pernah menghadapi pasukan Amerika Serikat di berbagai lokasi.
"Jika di udara dan darat kami pernah menghadapi, maka laut bukanlah pengecualian," katanya.
Ia bahkan menyatakan bahwa menargetkan kapal perang lebih realistis dibanding menghadapi teknologi canggih seperti F-35 Lightning II.
Keadaan ini berisiko membesar jika negara lain turut terlibat.
Kharazmi menyebut kemungkinan Tiongkok mengawasi kapal-kapalnya sendiri di jalur tersebut.
Jika hal tersebut terjadi, perselisihan berpotensi berkembang menjadi pertarungan langsung antara dua kekuatan utama dunia.
Selain itu, Iran juga dikabarkan mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Simak berita terbaru diGoogle News dan Media Sosial Facebook, Instagram dan Threads
Artikel ini telah dipublikasikan di Tribunnews.com dengan judul AS Larang Lalu Lintas di Selat Hormuz Akibat Gagalnya Pembicaraan dengan Iran, Trump: All or None!
Artikel ini telah dipublikasikan di Tribunnews.com dengan judul Ahli Iran Menganggap Strategi Militer Amerika Serikat Tidak Efektif di Selat Hormuz