Iklan

Setelah Marak Premanisme, Tanah Abang Jadi Zona Tawuran

Wednesday, April 22, 2026, 7:29 AM WIB Last Updated 2026-04-22T03:35:28Z

- Wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat terkesan sulit terlepas dari citra kekerasan. - Area Tanah Abang, Jakarta Pusat sering dikaitkan dengan reputasi kekerasan. - Tanah Abang, Jakarta Pusat tampaknya tak mudah meninggalkan kesan kekerasan. - Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat selalu dihubungkan dengan isu kekerasan.

Setelah sejumlah tindakan kekerasan yang viral di media sosial, terbaru, Tanah Abang menjadi area yang sering terjadi pergulatan antar kelompok.

Hal itu memicu kemarahan Gubernur Jakarta, Pramono Anung.

Berikut ini adalah ringkasan kejadian tindakan premanisme hingga bentrokan yang terjadi di Tanah Abang, yang dikumpulkan oleh TribunJakarta:

Tawuran

Pertikaian antar warga terjadi di wilayah Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Jumat (17/4/2026) malam.

Meskipun demikian, berdasarkan informasi yang diperoleh TribunJakarta, sehari sebelumnya, di tempat yang sama, juga terjadi pergulatan antar kelompok.

Pada kejadian malam Jumat, dua gerobak pedagang menjadi korban amukan kerumunan massa hingga akhirnya terbakar.

Dari video yang beredar di media sosial, terlihat nyala api di tempat kejadian disertai dengan suara ledakan petasan.

Beberapa penduduk terlihat berkumpul untuk menyaksikan kejadian tersebut, bahkan beberapa dari mereka mengambil gambar peristiwa itu.

Hal tersebut menyebabkan petugas pemadam kebakaran tiba di tempat kejadian dan berusaha memadamkan api.

Petugas kepolisian juga datang ke lokasi guna mengatasi situasi yang sedang terjadi.

Kepala Sektor Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, mengonfirmasi kejadian tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pertikaian terjadi karena ketegangan antara warga RW 11 dan RW 05 di Kelurahan Petamburan.

Menurutnya, pemicu awal berasal dari tembakan petasan atau kembang api yang ditujukan ke wilayah masing-masing, sehingga memicu perasaan masyarakat dan berakhir pada pertikaian.

Terjadi bentrokan yang terjadi semalam antara warga RW 11 dan RW 05 Kelurahan Petamburan.

Hal ini terjadi akibat tembakan petasan/kembang api yang mengarah ke masing-masing RW tersebut," kata kapolsek saat dikonfirmasi, Sabtu.

Akibat peristiwa tersebut, dua kereta pedagang buah mengalami kebakaran.

Namun, tidak ada bangunan atau kios yang terkena dampak.

Dhimas menambahkan, tim dari Polsek Metro Tanah Abang bersama Polres Metro Jakarta Pusat dan satuan pengendalian massa segera tiba di lokasi untuk mengatasi situasi agar tidak memburuk.

Selain itu, petugas pemadam kebakaran serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga ikut berperan dalam pengamanan di lokasi.

"Kondisi berhasil dikuasai dalam waktu kurang dari setengah jam. Hanya dua kereta buah yang terbakar, tidak ada bangunan lain yang terkena dampak," katanya.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengemukakan perhatian terhadap kejadian tawuran yang kembali muncul di Tanah Abang.

Ia menegaskan bahwa Pemprov DKI tidak akan membiarkan kejadian tersebut terulang kembali dan meminta tindakan tegas dari aparat yang berwenang.

"Untuk perkelahian, saya telah menerima laporan dari Wali Kota Jakarta Pusat dan saya meminta agar diambil tindakan tegas bersama aparat penegak hukum," katanya saat diwawancarai di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026).

Pertikaian Sudah Terjadi Berulang Kali

Pramono menyampaikan, tindakan perkelahian di area tersebut bukanlah yang pertama kali terjadi, sehingga diperlukan tindakan penanganan yang lebih berat.

Menurutnya, tindakan keras harus diambil agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

"Satu, dua, tiga kali saja, ya? Dan ini agar tidak terjadi lagi," katanya.

Petugas Parkir Mematok Harga Rp 100 Ribu

Sebelumnya, menjelang Ramadan dan Idulfitri, Pasar Tanah Abang selalu menjadi tempat yang menarik untuk membeli pakaian serta aksesori Lebaran.

Namun, antusiasme masyarakat dalam berbelanja justru dimanfaatkan oleh petugas parkir untuk menaikkan harga parkir hingga mencapai Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu.

Tindakan tersebut pernah direkam dan diunggah ke media sosial hingga menyebar luas.

Tentu hal itu menimbulkan kekhawatiran bagi warga hingga akhirnya pihak kepolisian turun tangan.

Kepala Sektor Metro Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, menyatakan pihaknya menahan delapan petugas parkir sebagai respons terhadap laporan adanya pungutan liar.

"Polsek telah mengambil langkah-langkah penegakan hukum terhadap berita yang viral agar tidak semakin menyebar dan untuk menciptakan kondisi yang aman," kata Dhimas kepada wartawan, Selasa (17/2/2026), dilansir dari Tribunnews.

"Kami membawa petugas parkir yang diduga melakukan pungutan liar untuk dimintai keterangan," tambahnya.

Ia menyampaikan, delapan tukang parkir ilegal telah ditangkap. Hasil pemeriksaan urin menunjukkan bahwa tiga dari mereka positif mengonsumsi metamfetamin.

Sedangkan lima petugas parkir lainnya dinyatakan negatif terkait narkoba.

Namun demikian, kelima orang tersebut tetap menjalani pembinaan dan diwajibkan melaporkan diri ke Polsek Metro Tanah Abang selama sebulan.

Wagub Jakarta, Rano Karno, memberikan tanggapan mengenai para tukang parkir yang tidak resmi yang menimbulkan ketidaknyamanan.

Ia menganggap, pada saat itu kondisi sedang ramai dan sering terjadi kemacetan karena banyak masyarakat yang berbelanja kebutuhan menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

Menurut Rano, kejadian ini terjadi sekali dalam setahun setiap tahunnya.

"Tetapi artinya para tukang parkir itu sudah diperbaiki. Ya harus ditindak juga, ada yang ditangkap, diberi pembinaan, itu hal biasa saja. Mudah-mudahan hal itu akan menjadi jauh lebih baik lagi," ujar Rano di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

Pengendara Mobil dengan Plat Nomor Luar Jakarta

Tidak hanya pengunjung pasar, para pengemudi mobil dengan plat nomor luar Jakarta juga menjadi korban tindakan preman di Tanah Abang.

Arip, yang mengemudikan mobil plat D di wilayah Kebon Kacang, Tanah Abang, tiba-tiba dihentikan oleh sekelompok orang asing pada Jumat (27/3/2026) sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Kejadian tersebut kemudian difilmkan dan diunggah oleh korban ke media sosial sehingga menyebar luas dan mendapat perhatian masyarakat.

Dalam pernyataannya, Arip dihadapi oleh pelaku yang mempertanyakan plat nomor D yang berasal dari luar Jakarta.

"Mereka mengeluhkan plat mobil kami yang bukan dari Jakarta, lalu meminta uang melalui cara tertentu," katanya.

Tidak hanya meminta uang, pelaku juga mengambil kartu e-money yang terletak di dashboard kendaraan korban.

Pelaku meminta uang sebesar 300 ribu, tetapi korban hanya menyerahkan 100 ribu.

Saat mencoba mengambil barang miliknya kembali, Arip justru menerima ancaman kekerasan.

"Ketika saya mencoba mengambil e-money saya lagi, mereka mengancam akan memukul saya," kata Arip.

Pelaku mengklaim, pengutipan uang tersebut sebagai 'uang wilayah' yang wajib dibayarkan.

Setelah menjadi viral, pihak kepolisian bertindak dan menangkap dua orang yang diduga sebagai pelaku, yaitu MN dan N, yang merupakan warga Tanah Abang, pada keesokan harinya.

Pemilik Warung Bakso Dihancurkan Saat Menghancurkan Mangkuk Pemilik Toko Bakso Dirobek Saat Menghancurkan Mangkuk Pemilik Usaha Bakso Diserang Saat Memecahkan Mangkuk Pemilik Warung Bakso Diperlakukan Kasar Saat Menghancurkan Mangkuk Pemilik Toko Bakso Diinjak Saat Menghancurkan Mangkuk Pemilik Warung Bakso Diusik Saat Memecahkan Mangkuk Pemilik Usaha Bakso Dianiaya Saat Menghancurkan Mangkuk Pemilik Toko Bakso Diculik Saat Menghancurkan Mangkuk Pemilik Warung Bakso Dihancurkan Saat Memecahkan Mangkuk Pemilik Toko Bakso Diterjang Saat Menghancurkan Mangkuk

Para penjual bakso keliling di kawasan Tanah Abang hanya bisa menyerahkan diri sambil menyaksikan seluruh mangkuknya dihancurkan satu per satu oleh preman.

Tindakan "bang jago" yang meminta bagian sambil merusak mangkuk milik pedagang tersebut terekam dan menyebar di media sosial pada Jumat (10/4/2026).

Tegangan mulai terjadi ketika seorang preman laki-laki mendekati pedagang bakso keliling. Ia kemudian meminta uang iuran bulanan senilai Rp100.000.

Situasi memburuk karena pedagang tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.

Pedagang bakso mengatakan bahwa ia telah memberikan uang kepada preman tersebut di awal bulan.

Di dalam rekaman video yang beredar, suasana terasa sangat menegangkan ketika pria bertubuh besar itu mulai merusak mangkuk-mangkuk bakso yang ada di gerobak pedagang.

Di dalam rekaman suara yang terekam kamera, terdengar nada bicara pedagang yang terlihat ikhlas namun juga kesal menghadapi tindakan premanisme tersebut.

Pedagang tersebut terus-menerus menyatakan bahwa ia bersedia membayar, tetapi memohon waktu hingga awal bulan.

"Saya hancurkan satu per satu," kata preman sambil mulai menghancurkan mangkuk milik korban.

"Saya ingin membayar, tapi nanti tanggal 1," kata korban.

Pedagang hanya bisa menyerah sambil melihat pria tersebut terus merusak mangkuk dagangannya.

"Tidak apa-apa, terserah saja," katanya.

"Ini aku yang pecahkan," kata preman, menghancurkan mangkuk korban tanpa belas kasihan.

Ia menyampaikan keluhannya karena merasa terus-menerus membayar uang kepada pihak yang bersangkutan.

"Saya ingin membayar, tapi tanggal 1, kemarin sudah saya berikan, sekarang kau seperti ini terus menerus." katanya.

Akibat kejadian kerusakan dan tekanan psikologis yang dialaminya, pedagang tersebut dilaporkan tidak lagi berdagang di tempat tersebut dan memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampung halamannya.

Setelah kejadian tersebut menyebar luas, pihak kepolisian menangkap tiga tersangka dengan inisial TDT (26), DA (36), dan OP (36).

Sopir Bajaj Dipalak

Terbaru, seorang pengemudi bajaj diintimidasi oleh preman di kawasan Pasar Tanah Abang. Peristiwa kriminal ini direkam oleh penumpangnya dan menyebar di media sosial.

Dari video tersebut, terlihat bahwa sopir diminta uang oleh seseorang yang tidak dikenal, sehingga akhirnya memberikan Rp 2 ribu.

Setelah kejadian tersebut, penumpang ojek pangkalan bertanya mengenai dugaan pemerasan itu.

"Apakah di Tanah Abang memang seperti itu, Pak? Diminta apa saja sih? Tapi apakah 'dipaksa' atau habis apa, Pak?," tanya penumpang.

"Ya, palak," katanya.

Sopir bajaj mengakui bahwa dalam sehari ia harus mengeluarkan total uang sebesar Rp 100.000 untuk setoran. Ia juga menyebut bahwa akan dihina sebagai pencuri dan kaca bajaj akan dipukul jika tidak memberikan uang.

Hari ini, Senin (13/4/2026), seorang pelaku pemeras terhadap sopir bajaj telah ditangkap oleh pihak Polsek Metro Tanah Abang.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengecam tindakan premanisme yang dilakukan dalam pemalakan terhadap sopir Bajaj di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang videonya telah menyebar secara viral.

Pramono menyatakan setelah menonton video aksi kekerasan tersebut, ia telah memerintahkan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk mengambil langkah tegas.

"Saya telah menonton videonya dan saya sudah meminta kepada Satpol PP, kepada kepala dinas, untuk mengambil tindakan tegas terhadap kejadian tersebut," ujar Pramono di Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan tidak akan membiarkan adanya tindakan premanisme di tempat umum, karena telah mengganggu ketenangan dan membuat masyarakat menjadi khawatir.

Maka petugas diminta mengambil tindakan keras untuk memberikan efek jera, serta melakukan pengawasan guna menghindari terulangnya tindakan premanisme dan pemalakan yang sama.

"Tidak ada kompromi lagi. Jadi, premanisme di Jakarta, saya sebagai Gubernur, tidak ragu-ragu dalam mengambil tindakan tegas," kata Pramono.

Pramono Geram

 

Baca berita lainnya di Google News atau langsung pada halaman Indeks Berita

Komentar

Tampilkan