
Jalan kaki dianggap sebagai bentuk olahraga ringan yang aman bagi kebanyakan orang, namun rasa sesak napas, pusing, atau nyeri dada saat berjalan tidak boleh dianggap biasa dan sebaiknya menjadi tanda untuk segera mengurangi tingkat aktivitas.
Ahli ilmu faal olahraga klinis dan dokter tim PERSIS Solo, dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K, menyatakan bahwa meskipun berjalan kaki merupakan jenis olahraga yang sederhana, tubuh tetap memberikan tanda jika intensitasnya melebihi batas yang aman.
Berdasarkan pendapat Iwan, setiap individu harus memahami kondisi tubuhnya sebelum memulai atau meningkatkan tingkat kegiatan jalan kaki, terutama dalam hal kesehatan jantung, paru-paru, dan sistem gerak.
Tanda jalan kaki terasa terlalu berat bagi tubuh Tanda jalan kaki sudah terlalu memberatkan tubuh Tanda jalan kaki terlalu berat bagi kondisi tubuh Tanda jalan kaki terasa membebani tubuh Tanda jalan kaki sudah terlalu memberatkan fisik tubuh Tanda jalan kaki terlalu menguras tenaga tubuh Tanda jalan kaki sudah terlalu berat untuk keadaan tubuh Tanda jalan kaki terasa sangat berat bagi tubuh Tanda jalan kaki sudah terlalu memberatkan tubuh secara fisik Tanda jalan kaki terlalu melelahkan tubuh
Iwan menjelaskan bahwa jalan kaki yang aman sebaiknya dilakukan dengan ritme yang konsisten dan terasa nyaman meskipun tubuh berkeringat dan sedikit lelah.
"Jika saat berjalan kaki muncul kesulitan bernapas yang parah, pusing yang mengganggu, nyeri pada dada, atau rasa ingin terjatuh, itu bukanlah kelelahan biasa dan segera hentikan aktivitas," katanya saat diwawancarai., Jumat (19/12/2025).
Ia menambahkan, kelelahan ringan masih wajar selama tubuh tetap terasa rileks dan tidak ada keluhan yang mengganggu, namun tanda-tanda seperti sesak napas berlebihan, nyeri otot yang tajam, kaku pada sendi, atau rasa sakit pada engkel menunjukkan bahwa intensitas latihan perlu dikurangi.
Cara menentukan tingkat keamanan dalam berjalan kaki
Menurut Iwan, tingkat keamanan berjalan kaki ditandai dengan kemampuan tubuh untuk tetap bergerak secara aktif tanpa jeda yang terlalu lama dan tanpa mengalami keluhan fisik yang memicu kekhawatiran.
"Jika masih mampu menikmati perjalanan, melihat sekeliling, dan bernapas dengan nyaman, itu artinya intensitasnya aman," katanya.
Ia menekankan bahwa jalan kaki yang ideal dilakukan dengan kecepatan tetap selama periode tertentu, bukan berjalan lalu berhenti berkali-kali akibat kelelahan yang berlebihan.
Jika saat berjalan muncul keluhan seperti pusing, nyeri dada, atau kesulitan bernapas yang tidak biasa, Iwan menyarankan untuk segera berhenti beraktivitas dan tidak memaksakan diri untuk terus melanjutkannya.
Kekurangan pentingnya menyesuaikan jalur pejalan kaki dengan kondisi tubuh
Iwan menekankan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, sehingga tidak ada ukuran kecepatan atau jarak yang cocok untuk semua individu.
Bagi individu yang baru memulai aktivitas fisik, memiliki riwayat kesehatan tertentu, atau sedang menjalani pemulihan cedera, sebaiknya memulai jalan kaki dengan waktu yang singkat dan tingkat kesulitan rendah, kemudian meningkatkan secara perlahan.
"Berjalan kaki bertujuan untuk menjaga kesehatan, bukan untuk menyiksa tubuh," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa olahraga yang baik selalu menghasilkan rasa segar setelah dilakukan, bukan menyisakan perasaan pusing, nyeri, atau kelelahan berlebihan yang terus-menerus.