Iklan

Obrolan Rahasia yang Mengubah Sejarah Indonesia

Thursday, April 23, 2026, 6:51 AM WIB Last Updated 2026-04-22T23:37:52Z

.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah cenderung menitikberatkan pada peristiwa penting, tetapi biasanya mengabaikan percakapan-percakapan kecil yang benar-benar mengubah arah sesuatu.

Dalam konteks ini, pertemuan antara Raden Ajeng Kartini dan Kiai Soleh Darat tidak hanya sekadar hubungan antara murid dan guru, tetapi bisa dianggap sebagai dialog pemikiran antara tradisi pesantren dengan berkembangnya kesadaran nasional.

Terdapat pandangan yang tidak umum yang dapat disampaikan bahwa Kartini tidak hanya "terpencerah" oleh Barat, tetapi justru mengalami pencerahan batin melalui Islam yang diperjuangkan oleh Kiai Soleh Darat.

Jika kolonialisme berhasil memisahkan masyarakat asli dari bahasa dan maknanya, maka Kiai Soleh Darat melakukan sebaliknya, yaitu menghubungkan wahyu dengan kenyataan kehidupan.

Dalam tradisi lisan yang berkembang di kalangan santri, Kartini pernah menyampaikan kekhawatirannya secara langsung kepada Kiai Soleh Darat: "Kiai, mengapa kami hanya diajarkan membaca Alquran, tetapi tidak diberi kesempatan untuk memahaminya? Bagaimana kami bisa mendapatkan petunjuk jika kami tidak memahami isinya?"

Pertanyaan ini bukan hanya kecemasan pribadi, melainkan wujud dari krisis epistemologis masyarakat yang tertindas: pemutusan antara teks dan makna. Untuk menjawabnya, Kiai Soleh Darat memberikan jawaban yang tidak hanya bersifat pendidikan, tetapi juga politik dalam arti nasionalisme:

Nduk, ilmu harus dilepaskan. Jika Al-Qur'an hanya dibaca tanpa dipahami, orang akan tetap tergantung. Namun jika sudah memahami, orang akan mampu berdiri dengan pikirannya sendiri.

(Kakak, ilmu harus memberi kebebasan. Jika Al-Qur'an hanya dibaca tanpa dipahami, manusia tetap akan tergantung. Namun jika sudah memahaminya, manusia mampu berdiri sendiri dengan pikirannya sendiri).

Pada titik ini, tafsir tidak lagi hanya menjadi aktivitas keagamaan, tetapi berubah menjadi praktik pemberdayaan dan perubahan sosial dalam konteks pendidikan dasar keagamaan di ruang publik. Tindakan yang dilakukan oleh Kiai Soleh Darat melalui terjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa (pegon) merupakan awal dari "literasi nasional": mengembalikan hak atas pengetahuan kepada masyarakat.

 

Kartini memahami pesan tersebut secara mendalam. Dalam refleksinya, ia menulis:

Agama yang dahulu kita kenal hanya terlihat sebagai aturan dan larangan. Namun sekarang saya mulai memahami bahwa agama bisa menjadi sumber kekuatan dan kebebasan batin.

Perubahan ini menunjukkan pentingnya saat Kartini tidak meninggalkan tradisi, melainkan justru menemukan maknanya kembali. Ia bukan hanya menjadi jembatan antara Timur dan Barat, tetapi juga antara agama Islam dan kemodernan, sebuah penyatuan yang muncul dari dialog, bukan perselisihan.

Dalam percakapan lain yang disampaikan melalui tradisi lisan di pesantren, Kiai Soleh Darat juga menekankan aspek sosial dari ilmu:

Orang yang cerdas bukanlah yang memiliki banyak ilmu, melainkan yang ilmunya bermanfaat bagi orang lain. Dan perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menjadi cerdas dan bermanfaat.

(Seorang yang berpengetahuan bukanlah yang memiliki banyak ilmu, melainkan yang ilmunya bermanfaat bagi orang lain. Dan perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menjadi berpengetahuan dan memberikan manfaat).

 

Pernyataan ini, jika ditinjau dalam konteks masa itu, merupakan pernyataan yang mendasar dan mendalam mengenai posisi perempuan. Di sinilah kaitan antara Kiai Soleh Darat dan Kartini semakin terlihat jelas: keduanya memandang ilmu sebagai alat perubahan sosial yang berdampak nyata, bukan hanya sebagai pembenaran status.

Kartini selanjutnya mengubah gagasan tersebut menjadi tindakan nyata dalam masyarakat melalui dukungannya terhadap pendidikan wanita. Dalam salah satu suratnya, ia menulis:

“Kami berharap menjadi manusia yang utuh, bukan hanya sebagai bayangan dari orang lain, melainkan sebagai individu yang berpikir dan bertindak.”

Jika ditelusuri lebih jauh, percakapan keduanya benar-benar mulai membentuk konsep kewarganegaraan Indonesia yang khas: konsep yang menekankan semangat spiritual, keadilan, serta kesamaan hak bagi seluruh rakyat, tanpa memandang jenis kelamin Anda. Ini bukan hanya pendekatan liberal, tetapi juga tidak terpaku pada metode tradisional, ini adalah gabungan yang dinamis.

Dari perspektif ini, Kiai Soleh Darat dapat dipandang sebagai perancang kesadaran nasional yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat luas, sementara Kartini merupakan pengungkap gagasan tersebut di ranah publik. Yang satu bekerja dalam ruang tafsir dan pesantren, sedangkan yang lainnya berada dalam ruang surat dan wacana. Namun keduanya bersatu dalam satu visi: manusia yang bebas dalam berpikir, beriman dalam bertindak, serta setara dalam kehidupan bermasyarakat.

Akhirnya, diskusi ini memberi kita pelajaran yang penting: Identitas nasional Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba. Identitas nasional Indonesia lebih merupakan gabungan dari berbagai unsur—teks dan situasi, ulama dan perempuan, khazanah pesantren serta dunia modern.

Di sisi lain, dalam interaksi ini, kita menemukan kebenaran yang tak pernah berubah: pengetahuan merupakan kunci kita menuju kebebasan, dan iman menjadi dasar kemanusiaan kita.

Komentar

Tampilkan