Iklan

Kuncen Bendung Katulampa: Pengabdian dari Jiwa Kemanusiaan

Sunday, May 3, 2026, 12:34 PM WIB Last Updated 2026-05-02T23:28:47Z

BOGOR, - Di sudut tertentu Kota Bogor, tepat di sisi aliran yang tidak pernah berhenti mengalir, terdapat seorang pria yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya melihat permukaan air.

Setiap perubahan arus, setiap gelombang kecil, setiap kenaikan beberapa sentimeter, semuanya tersimpan dalam ingatan yang dibentuk oleh empat dekade pengabdian.

Namanya Andi Sudirman, pengawas Bendung Katulampa yang bekerja secara diam-diam, tanpa perhatian, namun mengemban tanggung jawab yang berkaitan dengan keselamatan ribuan orang di hulu.

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat menganggap, pengabdian yang berlangsung lama bukan lagi hanya menjadi pekerjaan.

Terdapat sesuatu yang lebih mendalam, yaitu sesuatu yang dalam studi sosiologi dikenal sebagai calling, atau beruf dalam bahasa Jerman. Sebuah panggilan jiwa.

"Tidak banyak orang yang mengenal sosok, kisah, dan dedikasi dari seseorang bernama Pak Andi Sudirman yang menjaga Bendung Katulampa selama 40 tahun. Pak Andi ini adalah orang yang bekerja sesuai dengan panggilan hatinya, beruf dalam bahasa Jerman. Apa maksudnya beruf ini? Ini orang melakukan pekerjaan itu berdasarkan nuraninya, berdasarkan hati nuraninya," kata Rakhmat.

Di balik bendungan tersebut, Andi menjalani peran yang tidak pernah ia pilih demi mendapatkan penghormatan.

Ia melakukannya karena merasa wajib. Ia bekerja saat orang lain tertidur, mengawasi aliran air yang selalu sulit diprediksi.

Ia menjaga bukan hanya aliran sungai, melainkan kehidupan ribuan orang yang berada di hulu sungai tersebut.

"Tidak berdasarkan popularitas, tidak pula berdasarkan komersial atau sensasi seperti itu. Menurut saya, orang melakukan sesuatu karena dorongan untuk menjadi manusia," katanya.

Menurut Rakhmat, merawat bendungan berarti menjaga keselamatan manusia.

"Ketika Pak Andi menjaga dan mengawasi bendungan Katulampa, ini tentu menyelamatkan ribuan orang, jadi Pak Andi bukan hanya sekadar penjaga bendungan, tetapi ini adalah panggilan hidupnya," ujarnya.

Pengabdian dalam sunyi

Selama empat puluh tahun, kehadiran Andi lebih sering tidak terlihat. Mungkin hanya beberapa kali wajahnya muncul di belakang video atau berita saat air naik.

Selanjutnya, dia hanyalah seorang yang terjebak dalam kebiasaan sehari-hari, tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, dan tanpa penghargaan dari publik.

Rakhmat menegaskan, tokoh seperti Andi banyak ditemukan di berbagai daerah Indonesia, mereka yang menjaga saluran irigasi, mengawasi lingkungan, merawat gunung, atau menjaga situs budaya, tetapi tidak pernah mendapat perhatian.

"Dan ini juga berlaku bagi mereka yang bekerja di sektor-sektor yang memang jarang orang mengetahuinya, terkait dengan kepentingan masyarakat, serta risiko yang berkaitan dengan publik," katanya.

Tidak hanya Andi, tetapi dia merupakan representasi dari mereka yang bekerja dalam jangka panjang, dengan semangat yang jarang dimiliki oleh banyak orang.

Rakhmat menganggap, komitmen mereka merupakan sesuatu yang muncul dari prinsip filosofis, bukan keinginan materi.

"Nah jadi ini yang menurut saya Pak Andi bekerja berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan," kata dia.

Rakhmat kemudian membandingkan dedikasi Andi dengan para penjaga gunung, kuncen, penjaga hutan adat, atau relawan lingkungan yang bekerja tanpa pamrih.

Mereka juga melakukan perbuatan, sebuah bentuk pengabdian yang tidak dapat diajarkan, hanya bisa dirasakan.

"Mereka memiliki nilai-nilai yang memiliki makna filosofis atau nilai-nilai yang terkandung dalam perilaku mereka, begitu ya, ini hanya orang-orang tertentu yang memang memiliki panggilan seperti itu," katanya.

Pekerjaan tersebut sering kali tidak dianggap sebagai suatu profesi. Tidak memiliki jaminan penghasilan, tidak diberi apresiasi, bahkan jarang terkenang.

Namun mereka tetap bertahan, karena telah bersatu dengan lingkungan yang mereka lindungi.

"Ya, itulah kehidupan mereka di sana, yang membuat mereka terhubung dengan apa yang mereka alami," katanya.

Identitas yang muncul dari pengorbanan diri Identitas yang terbentuk melalui dedikasi Identitas yang lahir dari tindakan pelayanan Identitas yang muncul dari kesetiaan dalam berkhidmat Identitas yang tercipta melalui pengabdian yang tulus

Menurut Rakhmat, Andi tidak pernah berupaya menunjukkan diri sebagai pribadi yang pemberani. Ia tidak menciptakan citra, tidak memperlihatkan prestasi.

Namun, masyarakat melihat nilai tersebut melalui tindakan-tindakannya.

"Pak Andi secara alami dia tidak ingin menunjukkan hal itu kepada orang lain, tapi dia bekerja, dan perilaku serta tindakannya mencerminkan nilai-nilai yang dimilikinya," katanya.

Identitas muncul secara alami, seseorang yang berdedikasi tanpa mengharapkan perhatian. Dan justru karena hal itulah ia dihormati.

"Orang akan melihat bahwa oh sosok Pak Andi, orang yang berjuang, orang yang mampu menyelamatkan, menghentikan," jelasnya.

Sosok inspiratif

Menurut Rakhmat, figur Andi Sudirman bukan hanya seorang pengawas bendungan biasa.

Ia merupakan tokoh yang menyumbangkan hidupnya untuk alam, lingkungan, dan masyarakat hulu Ciliwung.

"Orang-orang seperti Pak Andi ini adalah orang yang berjuang atau memiliki panggilan, jadi Pak Andi merupakan seseorang yang bekerja sesuai dengan panggilan hatinya," kata Rakhmat.

Rakhmat menekankan arti pentingnya menghormati dan melestarikan para individu yang berdedikasi pada lingkungan.

Tokoh seperti Andi menjadi bukti nyata bagaimana dedikasi terhadap lingkungan mampu memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

"Jadi secara umum menurut saya kita perlu menghargai orang-orang yang bekerja di bidang lingkungan, yang berdedikasi pada alam, lingkungan, kelestarian, hutan, gunung, sungai, serta irigasi di berbagai daerah," ujarnya.

Pengalaman serta komitmen Andi dapat menjadi contoh dan pelajaran berharga bagi kalangan muda.

"Kita mampu memberikan inspirasi, menghormati mereka, dan itulah yang kita perlu jadikan, belajar bahwa belajar dari alam, belajar dari lingkungan, belajar dari hutan, sungai, gunung, bendungan, bisa dilakukan melalui mempelajari sosok-sosok seperti Pak Andi, dan seterusnya," katanya.

“Artis Katulampa”

Di sekitar Bendung Katulampa, nama Andi Sudirman sudah lama dikenal sebagai tokoh yang tidak hanya sekadar menjaga bendungan. Ia dikenal oleh banyak orang dan dihormati oleh masyarakat,

Jabatan "artis Katulampa" muncul berkat kehadirannya yang sering muncul dalam berbagai pemberitaan, khususnya saat banjir mengancam Jakarta.

Warga sudah terbiasa melihatnya tampil di layar televisi, memberikan penjelasan, atau diwawancarai oleh media mengenai situasi bendungan.

"Ya dia memang dikenal baik, baik di kampungnya maupun di sini, selalu peduli pada warga dan orang-orang di sini senang kepadanya," kata Ayu.

"Orang di sini bilang dia artis Katulampa, dia pergi ke mana-mana, masuk TV, wawancara, jadi dia bilangnya artis Katulampa," lanjut Ayu.

Namun, semua perhatian masyarakat tidak pernah mengubah sikap Andi. Kehidupannya tetap sederhana, dan hubungannya dengan warga tetap terjalin baik.

Salah satu kebiasaan yang sangat diingat oleh penduduk adalah kebiasaan Andi membeli makanan untuk mereka setiap hari Jumat sebelum ia pensiun.

"Kalau belum pensiun, orang-orang pulang ke masjid untuk shalat Jumat, lalu dia mengajak saya ke warung, 'nih ke uwa nih', Jumat berkah, yang gorengan, gado-gado, dan lontong sayur semuanya ditanggung oleh dia," kata Ayu.

Selain mengurusi pengamanan bendungan, Andi juga ikut serta dalam kegiatan sosial masyarakat.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua RT, ikut dalam proses pendataan warga yang membutuhkan bantuan, hingga berusaha mengajukan diri sebagai Ketua RW.

"Waktu menjadi RT juga aktif melakukan pendataan warga yang tidak memiliki rumah, diajukan oleh dia sendiri, bagus memang dia menjadi RT juga kontribusinya besar, pernah mencalonkan diri menjadi RW tetapi tidak terpilih, katanya secara iseng," ujar Ayu.

Teladan bagi warga

Menurut Herman (62), warga lainnya, Andi telah menjadi tokoh yang dekat dengan masyarakat.

Ia sering kali terlihat berada di dekat bendungan, terlepas dari kondisi cuacanya.

"Sudah lama sekali, sekitar tahun 90-an, tapi setiap pagi sore sering melihat beliau di bendungan. Sudah seperti bagian dari kampung," kata Herman.

Bagi masyarakat, kesabaran Andi merupakan sifat yang paling mencolok. Ia tidak pernah menolak ketika ditanya, dan selalu merespons dengan sopan serta sabar.

"Orangnya tekun dan sabar. Yang paling terlihat adalah sikap ramahnya, warga bertanya apa saja dijelaskan dengan sabar," kata Herman.

Herman juga menyampaikan rasa apresiasi dan harapan terhadap seseorang yang sangat berjasa bagi lingkungannya.

"Terima kasih banyak. Dedikasinya luar biasa. Sudah menjadi contoh, bukan hanya sebagai penjaga bendung tetapi juga bagian dari kampung. Semoga selalu sehat, terus bisa berbagi pengalaman kepada generasi berikutnya," katanya.

Empat dekade mengabdi

Mulai 1 Oktober 2025, Andi Sudirman, petugas pengawas bendung yang selama 40 tahun bertugas sebagai pengirim informasi awal banjir bagi Jakarta dan sekitarnya, secara resmi mengakhiri masa pelayanannya.

Bersama istrinya, Atikah, ia tinggal di Asrama “Mendung”, lokasi yang menjadi saksi dari dedikasinya yang panjang.

Lahir di Sukabumi pada tanggal 17 Juli 1967, Andi menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya sebelum melanjutkan sekolah menengah atas di Bogor.

Tugas sebagai pengawas bendung dimulai pada 1 Oktober 1987, ketika ia masih bekerja sebagai tenaga honorer dengan gaji sejumlah puluhan ribu rupiah.

"1 Oktober sudah pensiun. Tapi masih berada di wilayah, masih terlibat dalam komunitas. Sejak awal masuk pada tahun 1987 masih sebagai tenaga honorer, dengan gaji Rp25.000 hingga Rp50.000, hingga tahun ke tahun tetap memantau banjir," katanya sambil tersenyum.

Sebelum benar-benar mantap, Andi pernah mencoba masuk menjadi Marinir tetapi sering gagal dalam tahap seleksi.

"Pernah mencoba menjadi marinir, tetapi gagal, bukan rezeki. Takdirnya memang di bidang pengairan," kata Andi.

Sementara menjalani tugas menjaga bendung, ia tetap melanjutkan studinya hingga memperoleh gelar S1 dari Universitas Samsul Ulum Sukabumi melalui program kelas jauh yang diadakan di Bogor.

Bekerja 24 jam

Andi selalu sibuk tanpa pernah memberi jeda pada waktu. Bekerja hampir sepanjang hari tanpa benar-benar memahami batas antara bekerja dan beristirahat.

Sejak pagi menyinari pohon-pohon di tepi Ciliwung hingga matahari kembali terbenam di langit Bogor, Andi berada di bendungan.

Ia memantau perubahan debit air, memeriksa kondisi struktur, serta memastikan data yang disampaikan kepada masyarakat.

"Jika hujan deras, kita tetap siaga. Memantau debit air, berkoordinasi dengan relawan, serta berkoordinasi dengan BMKG, semua data diperiksa berkali-kali. Setiap perubahan air bisa memiliki makna penting," kata Andi.

Bahkan di malam hari, ia jarang diberi kesempatan untuk benar-benar tertidur.

Panggilan dari jurnalis atau pesan dari relawan bisa datang kapan saja, mengingatkannya kembali pada tugas yang tak pernah berakhir.

Semangat yang terus berkobar ini bukan hanya tugas pekerjaan, tetapi bentuk kasih sayangnya terhadap alam dan keselamatan masyarakat.

"Pekerjaan ini dilakukan dengan penuh hati. Terkadang melelahkan, tapi jika kita ikhlas, segalanya terasa ringan. Yang terpenting adalah warga aman dan alam terjaga, itulah yang utama," ujar Andi.

Komentar

Tampilkan