Iklan

Jerome Polim Terkejut dengan Sikap Juri Lomba MPR di Kalbar: Bukan Tuhan, Bisa Salah

Wednesday, May 13, 2026, 5:04 AM WIB Last Updated 2026-05-13T15:54:29Z
Jerome Polim Terkejut dengan Sikap Juri Lomba MPR di Kalbar: Bukan Tuhan, Bisa Salah

Influencer Jerome Polim memberikan tanggapan terkait insiden penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Di dalam video yang viral, peserta dari SMAN 1 Pontianak mendapatkan nilai minus 5 dari juri meskipun memberikan jawaban yang sama dengan peserta dari SMAN 1 Sambas.

SMAN 1 Sambas akhirnya meraih poin sempurna.

Jeromi Polim mengakui merasa tidak nyaman melihat sikap para juri dalam acara cerdas cermat tersebut.

"Masih hangat dibicarakan mengenai kasus cerdas cermat, ya ampun jujur bikin penasaran melihatnya," tulis Jerome Polim di Instagram, pada Senin (11/5/2026).

"Yang paling tidak suka adalah sikap: Juri pasti benar, keputusan tidak bisa dipertanyakan lagi," tambahnya.

Menurut Jerome Polim, para juri merupakan manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.

Maka pernyataan "juri pasti benar" dianggap tidak sesuai.

"Juri juga manusia, bukan Tuhan. Bisa saja melakukan kesalahan. Terlebih ini dalam acara cerdas cermat yang membutuhkan jawaban yang pasti, bukan subjektif," tulis Jerome Polim.

Lulusan Universitas Waseda, jurusan Matematika Terapan menganggap sikap para pendidik yang tidak bersedia mengakui kesalahan akan merusak kemampuan berpikir kritis generasi muda.

"Menurutku fungsi paling utama dari seorang guru adalah: MAMPU MENURUNKAN EGO UNTUK MENGAKUI KESALAHAN," tulis Jerome Polim.

"Jika ada siswa yang mengajak debat mengenai benar atau salah, jangan menggunakan pola pikir 'guru pasti benar'. Hal ini akan membunuh kemampuan berpikir kritis anak-anak. Akhirnya semua orang hanya patuh, padahal belum tentu benar," katanya.

Ia kemudian membandingkan sikap para juri dalam pertandingan debat itu dengan gurunya.

Saat bersekolah, jika ada guru yang menyalahkan jawaban ujiannya, Jerome Polim tidak ragu untuk mengajak diskusi.

Jerome Polim mengakui akan menyajikan bukti bahwa jawabannya benar dan tidak salah.

Beruntung, guru Jerome Polim pada masa itu mampu menerima dan mengakui kesalahan.

"Pada masa ujian di sekolah dulu, jika aku menjawab dengan benar tetapi guru menyalahkanku, aku akan berdebat," tulis Jerome Polim.

"Saya akan memberikan bukti mengapa saya benar, dan bersyukur dulu guru saya bukan jenis yang tidak ingin berdebat. Akhirnya saya memiliki pola pikir bahwa jika saya yakin benar, saya akan memperjuangkannya," tambahnya.

Jerome Polim kemudian memuji sikap peserta kompetisi yang berani menyampaikan pendapatnya mengenai kesalahan dari pihak juri.

Ia juga meminta para juri dan MC acara lomba debat tersebut agar meminta maaf.

"Untuk adik yang sudah berani menyampaikan pendapat, kamu hebat! Intinya harus berani bertarung demi kebenaran," tulis Jerome Polim.

Bagi juri dan MC yang sudah salah namun masih melakukan gaslighting meskipun peserta sudah menyampaikan keluhannya, kalian seharusnya meminta maaf,

"Seluruh Indonesia sudah melihat dan jelas sekali siapa yang salah," tambahnya.

Awal Mula Polemik

Diketahui bahwa Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat akan diadakan di Pontianak pada hari Sabtu (9/5/2026).

Aktivitas tersebut diikuti oleh sembilan sekolah menengah atas di Kalimantan Barat.

Tiga institusi pendidikan yang berhasil masuk ke babak final yaitu SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.

Bahkan terjadi perdebatan saat sesi pertandingan jawaban dengan pertanyaan, "DPR dalam memilih anggota BPK, harus mempertimbangkan masukan dari lembaga apa?" Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan ditentukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan mempertimbangkan saran dari Dewan Perwakilan Daerah dan diumumkan oleh Presiden," kata seorang siswi dari Regu C.

Namun, para juri justru mengurangi lima poin dari Regu C.

Pertanyaan selanjutnya disampaikan kepada tim lain dan dijawab oleh Tim B dari SMAN 1 Sambas.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan ditentukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan mempertimbangkan pendapat Dewan Perwakilan Daerah dan diumumkan oleh Presiden," jawab anggota Regu B.

Juri kemudian mengumumkan bahwa jawaban dari Tim B adalah benar.

"Inti jawaban sudah tepat. Nilai sempurna," kata juri.

Keputusan itu segera ditentang oleh Regu C karena merasa telah memberikan jawaban yang sama.

"Permisi, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B," ujar peserta Regu C.

Juri kemudian menjelaskan bahwa Regu C dianggap tidak menyebutkan unsur "pertimbangan DPD".

Namun, Tim C menyangkal penjelasan tersebut dan bahkan meminta penonton untuk memberikan kesaksian.

Namun, hasil akhir dari kompetisi tersebut tetap sama.

Tim B dari SMAN 1 Sambas tetap menjadi pemenang pada tingkat provinsi karena unggul secara keseluruhan dibandingkan Tim C dari SMAN 1 Pontianak.

MPR Minta Maaf

Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permintaan maaf terkait kejadian tersebut.

Akbar menekankan, MPR RI akan mengambil tindakan lebih lanjut terkait kejadian tersebut serta mengevaluasi seluruh kinerja dewan juri dan sistem kompetisi LCC Empat Pilar.

"Kami memohon maaf atas kesalahan dewan juri. Kami akan mengambil tindakan lebih lanjut terkait kejadian ini," ujar Akbar dalam pernyataan resmi MPR RI, Senin (11/5/2026).

Ketua MPR dari unsur DPD RI menyampaikan kekecewaannya terhadap munculnya perdebatan dalam penilaian lomba, serta menekankan pentingnya juri untuk bersikap adil dan tanggap terhadap keluhan peserta yang ada di lapangan.

Oleh karena itu, lanjut Akbar, kejadian tersebut akan menjadi catatan penting agar pelaksanaan LCC Empat Pilar berikutnya berjalan lebih baik dan lebih terstruktur.

Selanjutnya, Akbar juga menyebutkan adanya unsur kelalaian dari panitia maupun juri, khususnya mengenai aspek teknis pengaturan suara dan sistem banding dalam lomba tersebut.

Bahkan, Akbar mengakui pernah mendengar kejadian serupa terjadi pada pelaksanaan tahun lalu di provinsi lain.

"Saya melihat, lomba cerdas cermat ini perlu ditinjau agar menjadi lebih baik. Jangan terulang lagi kejadian seperti ini," katanya.

Baca berita lainnya di Google News atau langsung pada halaman Indeks Berita

Komentar

Tampilkan