Iklan

Geliat Peternak Sapi Jumbo di Blora Menjelang Iduladha

Sunday, May 3, 2026, 12:59 PM WIB Last Updated 2026-05-02T23:28:47Z
Geliat Peternak Sapi Jumbo di Blora Menjelang Iduladha

, BLORA -Segera menyambut Hari Raya Iduladha 2026, kegiatan ternak sapi di Desa Beganjing, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora mulai ramai.

Seorang peternak bernama Kasno telah menyiapkan puluhan ekor sapi berukuran besar guna memenuhi kebutuhan pasar, khususnya dari Jakarta Utara.

Kasno, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Beganjing, mengatakan, permintaan terhadap sapi kurban berukuran besar terus meningkat setiap tahun.

Ia secara khusus memperhatikan pemeliharaan sapi yang beratnya mendekati satu ton atau lebih dari satu ton.

Untuk persiapan Iduladha tahun ini, saya biasa memelihara sapi berukuran besar karena banyak pesanan dari Jakarta.

Bobotnya mendekati 1 ton, bahkan ada yang melebihi 1 ton," katanya saat diwawancara Tribun Jateng, Kamis (30/04/2026).

Selama sekitar 15 tahun, Kasno secara teratur mengirim sapi ke Jakarta. Pada satu musim Idul Adha, ia mampu mengirim hingga 125 ekor sapi besar.

Sementara itu, sapi berukuran sedang hingga kecil biasanya dipelihara oleh penduduk setempat.

"Jika yang kecil dan sedang banyak dipelihara oleh masyarakat sini. Saya lebih fokus pada jumbo karena perawatannya lebih spesifik dan tidak semua peternak mampu," jelasnya.

Untuk menghasilkan sapi yang berukuran besar, Kasno mulai merawatnya saat sapi masih kurus. Karena itu, dia sering membeli anak sapi, lalu memberinya pakan hingga gemuk.

Ia memberikan makanan bergizi seperti dedak dan campuran konsentrat untuk meningkatkan selera makan.

"Setiap hari saya beri bekatul sekitar lima piring, konsentratnya tiga piring, dicampur menjadi satu. Tujuannya agar dagingnya padat, tidak lembek," katanya.

Paling cepat 9 bulan hingga setahun, ternak sapi tersebut mengalami kenaikan berat badan yang mencolok.

Bahkan, salah satu ternak sapi miliknya yang awalnya dibeli dengan harga Rp26,5 juta kini beratnya melebihi 1 ton dan dijual hampir mencapai Rp100 juta.

"Biasanya saya menjualnya di bawah Rp 100 juta, sekitar Rp 90 jutaan di Jakarta, karena saya sendiri yang memelihara hewan tersebut," tambahnya.

Bakalan Sapi Jumbo

Saat memilih calon sapi yang berpotensi menjadi jumbo, Kasno memiliki standar tertentu. Ia menekankan kepentingan memperhatikan bentuk tubuh sejak dini.

"Jika memilih bibit, saya melihat dari kakinya terlebih dahulu, harus kuat dan lurus. Kemudian punggungnya rata, serta kepalanya agak besar. Biasanya hal itu menunjukkan potensi pertumbuhan yang baik," jelasnya.

Menurutnya, pemilihan bibit yang tepat sangat berpengaruh terhadap hasil akhir, karena tidak semua sapi dapat berkembang optimal meskipun diberi pakan yang sama.

Di dalam kandangnya, Kasno menernak berbagai jenis sapi unggulan seperti limosin, simental, peranakan ongole (PO), brangus, dan pegon. Berbagai jenis ini dipilih karena memiliki potensi pertumbuhan yang bagus jika diberi perawatan yang tepat.

"Jenisnya beragam, ada limosin, simental, PO, brangus, dan pegon. Semuanya memiliki keunggulan tersendiri, namun jika dirawat dengan baik hasilnya bisa optimal," katanya.

Ia menuturkan, kualitas pakan berpengaruh besar terhadap bentuk tubuh sapi, termasuk kepadatan daging.

"Jika hanya rumput saja tidak cukup. Diperlukan tambahan nutrisi agar tubuhnya bisa berkembang, kuat, dan seimbang," katanya. (iqs)

Tantangan Usaha Ternak Sapi

Meskipun usaha budidaya sapi jumbo terlihat menjanjikan, peternak sapi bernama Kasno mengakui adanya tantangan yang signifikan. Salah satunya adalah saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang.

Ia pernah mengalami kerugian saat harus membawa kembali puluhan sapi dari Jakarta karena diduga terkena penyakit PMK.

"Selama 15 tahun, kerugian yang paling terasa adalah saat PMK. Saat itu saya sampai membawa pulang 26 ekor sapi dari Jakarta karena kondisinya tidak sehat dan sulit dijual," katanya.

Sebaliknya, sapi-sapi tersebut kembali diperlakukan dengan baik di dalam kandang selama sekitar satu tahun hingga kondisinya pulih dan siap untuk dijual kembali.

Untuk mengatasi PMK, Kasno melakukan beberapa tindakan perawatan khusus.

Sapi yang terkena PMK dipindahkan ke kandang berlantai tanah agar luka pada kakinya tidak bertambah parah karena lantai yang keras.

"Jika terkena PMK, kaki akan terasa nyeri dan bengkak. Oleh karena itu, sebaiknya dipindahkan ke kandang tanah agar lebih lembut," katanya.

Selain itu, dia juga memberikan ramuan tradisional yang terdiri dari daun sirih, madu, telur, serta tambahan vitamin yang dicampur dan diberikan secara teratur.

Perawatannya memakan waktu cukup lama, bisa mencapai lebih dari 9 bulan agar benar-benar pulih. Alhamdulillah, berhasil sembuh meskipun tidak langsung kembali normal," katanya.

Selain penyakit, tantangan lain juga muncul dari proses pendistribusian. Menurut Kasno, risiko terbesar saat pengiriman terjadi ketika melepaskan sapi dari truk, khususnya untuk sapi berukuran besar.

"Jika proses pengiriman, alhamdulillah berjalan dengan aman. Namun, saat menurunkan sapi dari truk harus ekstra hati-hati, karena jika terpeleset bisa menyebabkan kecelakaan serius," katanya.

Namun demikian, selama 15 tahun menjalankan bisnisnya, dia mengakui belum pernah mengalami kematian sapi saat pengiriman.

Kasno menyatakan, bisnis ternak sapi telah ia jalani sejak usia muda. Dimulai dari tiga ekor sapi, kini ia berhasil memperluas usahanya hingga jumlah ternaknya terus bertambah.

"Saya memang memiliki hobi sejak kecil. Dari tiga ekor, saya terus mengembangkannya hingga saat ini. Alhamdulillah hasilnya bisa seperti ini," ujarnya.

Ia juga menilai, potensi peternakan sapi jumbo masih sangat menguntungkan, selama didukung sistem perawatan dan pakan yang sesuai.

"Di Blora, sapi sangat banyak, tetapi perawatan dari petani kurang. Artinya, pola makan mereka seperti ini menggunakan beras tumbuk, menggunakan pakan konsentrat. Jika sapi hanya diberi rumput saja, saya yakin tidak akan bisa tumbuh besar dan tubuhnya tidak mungkin gemuk, karena kandungan protein dan gizinya kurang," katanya.(Iqbal M Shukri)

Komentar

Tampilkan