
, JAKARTA — Mikroplastik semakin menjadi ancaman tersembunyi yang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Partikelplastikpartikel berukuran sangat kecil ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga telah masuk ke dalam rantai makanan manusia, sehingga menimbulkan kekhawatiran baru mengenai dampaknya terhadap kesehatan.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Environmental Research pada bulan Februari 2024 menunjukkan bahwa berbagai jenis produk protein dan sayuran ternyata telah tercemar mikroplastik.
Lalu, apa sebenarnya mikroplastik dan apa saja dampak serta risikonya terhadap kesehatan? Bagaimana pula cara menghindari partikel plastik yang tidak terlihat dengan mata telanjang ini?
Melansir wwf.id, mikroplastik adalah potongan kecil plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik umumnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder.
Mikroplastik primer merupakan jenis mikroplastik yang secara sengaja dibuat dalam ukuran kecil (mikro), sedangkan mikroplastik sekunder adalah hasil dari proses degradasi plastik berukuran besar yang terbuang di lingkungan dan akhirnya berubah bentuk menjadi lebih kecil.
Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu yang tinggi, paparan sinar matahari, air yang mengalir, angin, serta makhluk pengurai plastik.
Selain itu, mikroplastik biasanya terlepas selama proses produksi, penggunaan, dan pembuangan barang-barang plastik, sehingga dapat dikatakan tidak ada tempat yang aman dari partikel mikroplastik yang sangat kecil.
Partikel plastik kecil berasal dari berbagai sumber, seperti limbah pabrik, pembuangan sampah yang tidak tepat, serta penguraian plastik yang lebih besar.
Meskipun ukurannya sangat kecil, sampah jenis ini lebih mudah menyebar ke berbagai lingkungan, termasuk air dan tanah di Indonesia.
Di sisi lain, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa setiap hari aktivitas manusia menghasilkan volume sampah sebesar 71.688,84 ton, di mana sampah plastik menjadi yang terbanyak kedua setelah sisa makanan.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2024 mengungkapkan adanya mikroplastik dalam penyumbatan pembuluh darah yang mungkin berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Mengutip Science Alert, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Tiongkok, ditemukan mikroplastik dalam gumpalan darah yang diangkat melalui operasi dari arteri jantung dan otak, serta vena di kaki bawah.
Penelitian yang telah diterbitkan di eBioMedicine memiliki skala kecil, hanya melibatkan 30 pasien. Namun, hasilnya sejalan dengan studi yang dilakukan di Italia, yang menemukan adanya mikroplastik dalam plak meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke.
Para peneliti di Tiongkok juga menemukan keterkaitan yang mungkin antara kadar mikroplastik dalam darah beku dan tingkat keparahan penyakit.
Mikroplastik dalam berbagai bentuk dan ukuran ditemukan melalui metode analisis kimia pada 24 dari 30 sampel darah yang diteliti, dengan konsentrasi yang bervariasi.
Uji juga menemukan jenis plastik yang sama dengan yang ditemukan dalam penelitian plak arteri yang dipimpin oleh Italia, yaitu polivinil klorida (PVC) dan polietilen (PE). Hal ini tidak mengejutkan karena PVC (sering digunakan dalam konstruksi) dan PE yang biasanya digunakan untuk botol serta kantong belanja, merupakan dua jenis plastik yang paling banyak diproduksi.
Dengan adanya mikroplastik yang sebelumnya ditemukan di jaringan paru-paru dan sampel darah manusia, mudah untuk membayangkan bagaimana potongan plastik mikroskopis ini masuk dari lingkungan ke dalam tubuh.
Karena kehadiran mikroplastik di lingkungan dan barang sehari-hari, paparan manusia terhadap partikel plastik tidak bisa dihindari.
"Oleh karena itu, polutan mikroplastik menimbulkan kekhawatiran karena penyebarannya yang luas dan kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan," ujar Tingting Wang, seorang ilmuwan klinis di Rumah Sakit Klinik Pertama Universitas Medis Shantou di Tiongkok, yang turut serta dalam penelitian tersebut.
Penelitian tahun 2024 juga mengungkapkan adanya partikel plastik mikro di hampir seluruh bagian tubuh manusia. Bukti menunjukkan bahwa kandungan plastik mikro yang tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan risiko gangguan jantung dan sistem reproduksi.
Beberapa pasien penderita penyakit jantung dalam penelitian tersebut ditemukan mengandung partikel plastik mikro di dalam pembuluh darah mereka. Pasien yang mengalami hal ini, khususnya di pembuluh darah bagian leher, memiliki risiko dua kali lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke.
Bahaya kematian mereka lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki partikel plastik mikro di dalam pembuluh darah.
Selain itu, beberapa komponen yang terdapat dalam plastik mikro sepertiflame retardant, plasticizerdan antioksidan berpotensi mengganggu kerja sistem hormon dan reproduksi. Perkembangan otak serta ginjal juga bisa terganggu, bahkan, beberapa ikan ditemukan mengalami tumor akibat paparan zat-zat tersebut.
Berdasarkan penelitian pada hewan yang terpapar plastik mikro, partikel ini mampu mengganggu hormon testosteron, menyebabkan gangguan pencernaan, serta merusak kemampuan ingatan.
Hal ini terjadi karena plastik mikro dapat larut atau "tercuci" di dalam tubuh, melepaskan zat-zat beracun ke berbagai bagian tubuh. Polutan dan makhluk hidup lainnya juga bisa menempel pada plastik mikro yang masuk ke dalam tubuh.
Beberapa penelitian mengungkapkan kadar mikroplastik di dalam ruangan.
Paparan Mikroplastik Dalam Ruangan
Selain itu, beberapa penelitian menemukan bahwa konsentrasi mikroplastik di dalam ruangan lebih tinggi dibandingkan dengan di luar ruangan. Keadaan ini dipengaruhi oleh penggunaan material berbasis plastik yang banyak dalam kehidupan sehari-hari di rumah serta sedikitnya pertukaran udara di ruangan yang tertutup.
Debu di dalam rumah merupakan salah satu area utama yang menjadi tempat berkumpulnya partikel mikroplastik sebelum akhirnya kembali terangkat ke udara. Kegiatan seperti berjalan, membersihkan rumah, atau penggunaan perabot rumah tangga dapat menyebabkan partikel-partikel tersebut kembali berhamburan dan tanpa disadari terhirup oleh manusia.
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan biogeo kimia dari Center Nasional Penelitian Ilmiah Prancis juga menemukan adanya mikroplastik berukuran sangat kecil di udara dalam ruangan.
Penelitian yang dilakukan di berbagai apartemen di Toulouse, Prancis, serta di dalam kendaraan menemukan rata-rata lebih dari 500 partikel per meter kubik udara di dalam ruangan dan lebih dari 2.200 partikel di dalam kabin mobil.
Para peneliti juga mencatat bahwa paparan dapat lebih tinggi pada kelompok rentan, seperti bayi yang berada dekat lantai. Pada kondisi tertentu, bayi mungkin menghirup sekitar 19.000 hingga 75.000 partikel per hari, sedangkan orang dewasa berkisar antara 28.000 hingga 108.000 partikel per hari, meskipun angka ini masih memiliki keterbatasan dalam pengukuran.
Temuan ini menunjukkan bahwa bayi memiliki potensi paparan mikroplastik yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena posisi mereka yang lebih dekat dengan lantai. Oleh karenanya, penting untuk mulai mengurangi paparan mikroplastik di dalam rumah melalui kegiatan sehari-hari.
Ahli kesehatan lingkungan dari Universitas Emory, Dana Barr, menyatakan bahwa mikroplastik telah menyebar secara luas di alam, sehingga hampir mustahil untuk dihindari. Namun, ia menekankan bahwa paparan terhadapnya masih bisa diminimalkan dengan mengubah kebiasaan sehari-hari.
"Mikroplastik dapat ditemukan di berbagai tempat, dan tidak ada cara yang benar-benar bisa menghindarinya, namun terdapat metode yang mampu mengurangi paparan secara signifikan seiring berjalannya waktu, dan hal ini sebagian besar dilakukan melalui perubahan pola perilaku," katanya dikutip dalam BBC, Senin (13/4/2026).
Kehadiran mikroplastik kini telah ditemukan di hampir seluruh sistem ekologis.
Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik
Keberadaan mikroplastik kini telah ditemukan di berbagai sistem ekologis, termasuk air laut, tanah, udara, serta makanan dan minuman. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa manusia bisa terpapar mikroplastik melalui minum air, mengonsumsi ikan laut, garam, bahkan udara yang kita hirup.
Sumber polusi berasal dari berbagai jenis, mulai dari plastik besar seperti kantong dan botol, hingga barang sehari-hari seperti kosmetik, pakaian sintetis, dan ban kendaraan. Seiring berjalannya waktu, plastik yang terkena paparan sinar matahari, panas, dan gesekan akan pecah menjadi partikel kecil yang sulit dilihat dengan mata telanjang.
Di dalam tubuh manusia, mikroplastik dapat masuk melalui sistem pencernaan dan pernapasan. Beberapa penelitian awal menemukan partikel tersebut di dalam darah, paru-paru, hingga plasenta.
Meskipun dampak jangka panjangnya masih dalam proses penelitian, paparan mikroplastik diduga berhubungan dengan peradangan, gangguan pada sistem kekebalan tubuh, serta risiko potensial terkena penyakit kronis.
Masih ada ketidakpastian mengenai risiko kesehatan yang bisa muncul, namun tren penemuan mikroplastik di dalam tubuh manusia menunjukkan pentingnya mengurangi paparan. Ketidakjelasan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwenang dalam bidang kesehatan dan lingkungan dalam menyusun kebijakan pengurangan yang efektif.
Upaya untuk menghindari mikroplastik bisa dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah penting, seperti membawa botol minum sendiri dan menghindari kemasan yang berlebihan. Memilih produk yang terbuat dari bahan alami, khususnya untuk pakaian dan kosmetik, juga dapat mengurangi risiko paparan.
Selain itu, penggunaan saringan air dapat membantu mengurangi partikel mikroplastik yang terkandung dalam air. Menghindari memanaskan makanan di dalam wadah plastik, khususnya dimicrowave, juga penting untuk menghindari pelepasan partikel berbahaya.
Di sisi lain, peran sektor industri dan pemerintah sangat penting dalam mengurangi produksi plastik serta memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Tanpa tindakan yang lebih luas, mikroplastik akan terus menumpuk di lingkungan dan meningkatkan ancaman terhadap kesehatan manusia.
Secara singkat, berikut langkah mudah yang bisa dilakukan sehari-hari untuk meminimalkan paparan mikroplastik:
- Mengurangi penggunaan plastik, khususnya yang digunakan sekali pakai. Disarankan juga untuk memakai wadah dari kaca daripada plastik saat memanaskan makanan denganmicrowave, mengingat suhu yang tinggi mempercepat proses penguraian plastik.
- Hindari minuman dalam kemasan plastik. Berdasarkan penelitian, tutup botol dari kemasan minuman plastik yang sering dibuka dan ditutup dapat menghasilkan partikel plastik mikro yang mungkin masuk ke dalam air dan dikonsumsi.
- Mengurangi penggunaan pakaian yang terbuat dari bahan sintetis dan menggantinya dengan bahan alami seperti kain katun atau bulu domba.
- Menggunakan saringan pada mesin cuci untuk menghalangi serat mikroplastik agar tidak terbuang ke alam.
- Mengelap debu menggunakan kain basah sebelum melakukan penyapuan atau penyedotan debu agar partikel tidak terbang kembali.
- Menggunakan vacuum cleanerdengan filter HEPA yang mampu menangkap partikel berukuran sangat kecil.
- Mempertahankan sirkulasi udara dengan membuka jendela atau memakai alat penyaring udara (air purifier). (Mutiara Nabila/Angel Rinella)