Iklan

Pertamina Tanggapi Isu Masuknya Minyak Rusia ke RI

Thursday, February 5, 2026, 10:06 AM WIB Last Updated 2026-02-06T03:19:35Z

.CO.ID – JAKARTA.Pemasukan minyak dari Rusia ke Indonesia pada akhir 2025 hingga awal 2026 menjadi perhatian dan topik yang menarik perhatian.

Merupakan tanggapan terhadap isu tersebut, PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa semua aktivitas impor minyak dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku demi menjaga ketersediaan energi nasional.

Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan Pertamina Muhammad Baron mengatakan bahwa perusahaan saat ini masih bekerja sama dengan subholding terkait untuk memverifikasi informasi tersebut.

"Sebagai penjelasan awal, Pertamina selalu mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam menjalankan aktivitasnya, termasuk dalam sistem impor minyak guna memenuhi kebutuhan energi negara," kata Baron kepada .co.id, Rabu (4/2/2026).

Sebelumnya, .co.idmelaporkan data pelacakan kapal dari Kpler dan Vortexa yang dikutip oleh Reuters, menunjukkan bahwa Indonesia menerima dua kargo minyak Rusia berjenis Sakhalin Blend pada bulan Desember 2025 dan Januari 2026.

Setiap kargo diperkirakan memiliki ukuran sekitar 700.000 barel dan akan diturunkan di Pelabuhan Balikpapan serta Cilacap.

Analis Vortexa Emma Li menganggap volume tersebut cukup tidak biasa, mengingat Indonesia selama ini lebih sering memperoleh pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah dan Afrika.

Kedatangan kargo tersebut terjadi di tengah tekanan harga minyak Rusia, mengingat kemungkinan penurunan permintaan dari India yang selama ini menjadi salah satu pembeli utama.

Berdasarkan data pemantauan, kapal GT Honor melepaskan sekitar 700.000 barel minyak di Balikpapan pada 25 Desember 2025, setelah melakukanship-to-ship(STS) dengan kapal Galaxy di sekitar perairan Hong Kong.

Sementara itu, kapal Integrity Racer mengangkut barang yang sama di Cilacap pada Januari 2026, setelah melakukan pemuatan dengan kapal Voyager, juga di perairan Hong Kong.

Galaxy dan Voyager tercatat dalam daftar sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta sering kali mengangkut minyak dari proyek Sakhalin-2 Rusia.

Di sisi lain, Pertamina membantah adanya impor minyak dari Rusia. Juru bicara Pertamina mengonfirmasi bahwa GT Honor memang melakukan pembongkaran muatan di Balikpapan, tetapi menegaskan bahwa minyak tersebut tidak berasal dari Sakhalin, tanpa menyebutkan negara asalnya.

Mengenai Integrity Racer, Pertamina juga belum memberikan penjelasan lebih rinci dan kembali menyatakan bahwa tidak ada impor minyak dari Rusia.

Indonesia tidak masuk dalam sistem sanksi yang diberlakukan Barat terhadap Rusia, sehingga secara kebijakan tidak ada larangan resmi.

Namun, kegiatan perdagangan minyak dari negara yang dihukum sering kali menggunakan skema STS serta perubahan dokumen pengiriman, sehingga menimbulkan perhatian mengenai transparansi impor energi.

Isu ini mendapat perhatian masyarakat karena berkaitan dengan aspek ketahanan energi nasional, akuntabilitas data impor minyak, serta posisi geopolitik Indonesia di tengah perubahan global yang masih penuh ketidakpastian.

Komentar

Tampilkan