
Kucing kerap dikaitkan dengan berbagai mitos seputar kehamilan.
Salah satunya anggapan bahwa terlalu sering bermain dengan kucing dapat menyebabkan keguguran.
Anggapan tersebut membuat sebagian ibu hamil memilih menjauh dari kucing selama mengandung. Padahal, menurut dokter, persoalannya bukan sekadar keberadaan kucing di sekitar ibu hamil.
Hal yang justru perlu diperhatikan adalah kemungkinan adanya infeksi tertentu yang dapat ditularkan melalui kotoran kucing. Oleh karena itu, kebersihan dan kondisi hewan perlu menjadi perhatian.
Hal tersebut dijelaskan Dr. dr. Hafi Nurinasari, Sp.OG., M.Kes, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dalam program Beauty Health yang membahas tema “Waspadai Faktor Pemicu Keguguran” tayang di kanal YouTube Tribun Health, pada Kamis (4/5/2023).
dr. Hafi menjelaskan, kucing dapat menjadi salah satu hospes yang berperan dalam penularan toksoplasma. Karena itu, ibu hamil perlu berhati-hati ketika berhubungan dengan kotoran kucing.
“Bukan kucingnya, kalau kucingnya sendiri, kalau dia kucingnya yang terawat, ya itu mungkin suka divaksin atau mudah disterilkan, mungkin enggak masalah,” jelasnya.
Menurutnya, risiko yang perlu diperhatikan terutama berasal dari kotoran kucing yang dapat mengandung sumber infeksi.
“Tapi kadang kotorannya yang menyebabkan terjadinya suatu toksoplasma. Jadi mungkin ibu hamil ini membersihkan kotoran, kotoran ini yang menginfeksi ibu hamil,” katanya.
dr. Hafi menganjurkan ibu hamil untuk tidak membersihkan kotoran kucing. Ia juga mengingatkan agar kucing yang berada di sekitar ibu hamil benar-benar terawat.
“Sehingga memang dianjurkan pada ibu hamil ini, jangan membersihkan kotoran kucing,” ujarnya.
Dengan demikian, ibu hamil tidak perlu langsung menganggap keberadaan kucing sebagai penyebab keguguran. Perhatian lebih diarahkan pada pencegahan infeksi dan menjaga kebersihan.
dr. Hafi juga menekankan bahwa faktor risiko keguguran tidak hanya berkaitan dengan infeksi. Kondisi ibu, janin, plasenta serta faktor lingkungan lainnya juga perlu diperhatikan.
Terutama pada trimester pertama, ibu hamil dianjurkan lebih berhati-hati terhadap berbagai faktor risiko. Pemeriksaan kehamilan secara rutin juga penting dilakukan untuk memantau perkembangan janin.
()