Di balik Adegan Sembelih Kambing di Panggung SKNC Pekalongan, Penampil Jelaskan Maksudnya
, KAJEN -Perwakilan Tim Simone, salah satu kelompok yang tampil dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026, mengungkapkan maksud penyembelihan kambing di panggung yang kemudian menjadi sorotan.
Diberitakan, pergelaran Simbang Kulon Night Culture (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan menuai polemik, setelah video salah satu penampilan peserta viral di media sosial.
Dalam video tersebut, penampil terlihat mengenakan kostum menyerupai iblis, membawa obor, menampilkan simbol pentagram terbalik, hingga melakukan penyembelihan kambing di atas panggung.
Penampilan tersebut kemudian, dikaitkan warganet dengan ritual aliran kepercayaan Satanic.
Polemik semakin berkembang setelah salah seorang talent berinisial AF (40), warga Simbang Kulon, yang mengenakan kostum iblis berukuran besar dalam pertunjukan tersebut, meninggal dunia tak lama setelah acara.
Perwakilan Tim Simone, M. Akhid, mengaku menyesal dan meminta maaf apabila penampilan mereka di atas panggung menyinggung sejumlah pihak.
Ia menyebut, kontroversi tersebut terjadi karena pihaknya kurang memahami makna dari kostum dan gerakan yang mereka tampilkan.
"Untuk tema penampilan kami yang sedang ramai saat ini, kami dari perwakilan Tim Simone meminta maaf. Kami menyesal karena kami kurang literasi," kata Akhid, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, konsep penampilan tersebut bermula ketika tim melihat sejumlah kostum yang dianggap unik dalam festival di daerah lain.
Karena tertarik, mereka kemudian menyewa kostum tersebut dari Malang, Jawa Timur, dan mengadaptasi idenya untuk ditampilkan dalam SKNC.
"Kami melihat kostum unik, lalu kami sewa, lalu kami tiru idenya. Kami menyewa dari Malang," ujarnya.
Sementara untuk koreografi, Akhid mengatakan gerakan dalam pertunjukan tersebut tidak dibuat untuk tujuan ritual tertentu.
Tim Simone mempelajari gerakan melalui berbagai referensi video di YouTube, termasuk penampilan karnaval dari sejumlah daerah.
"Gerak-gerakannya kami latihan dengan teman-teman. Referensinya kami melihat dari YouTube, dari performa berbagai karnaval di berbagai daerah seperti Malang, Magelang, dan sebagainya, kami gabungkan jadi satu," jelasnya.
Akhid juga memberikan, penjelasan terkait adanya sesi penyembelihan kambing yang turut menjadi sorotan.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sebagai bagian dari ritual apa pun.
Menurut dia, penyembelihan kambing memang sudah direncanakan untuk acara rahatan atau kumpul bersama setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
"Untuk penyembelihan kambing itu dari kami rencana memang untuk acara rahatan setelah acara selesai. Tidak ada maksud ritual apa pun," tegasnya.
Ia mengaku, sejak awal tidak mengetahui mengenai ritual yang kemudian dikaitkan dengan konsep penampilan mereka.
"Kami tidak tahu apa itu dan kami hanya meniru. Untuk penyembelihan itu kami murni untuk rahatan bersama setelah acara," katanya.
Akhid menegaskan, pihaknya hanya mengambil referensi dari hal-hal yang dianggap menarik dalam berbagai festival tanpa mengetahui latar belakang atau makna simbol yang digunakan.
"Kalau awalnya, kami tidak tahu mengenai apa itu ritual satanic. Kami hanya, melihat apa yang menurut kami unik dari festival lain, lalu kami sewa, lalu kami adaptasi di sini," ungkapnya.
Terkait biaya penyewaan kostum, Akhid mengatakan pihaknya belum dapat menyebutkan secara rinci. Kostum tersebut, kata dia, disewa dari wilayah Malang.
Sementara itu, persiapan penampilan Tim Simone dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Panitia Minta Maaf
Panitia SKNC 2026 bersama tim kreatif peserta dan Pemerintah Kelurahan Simbang Kulon memberikan keterangan, di Kantor Kelurahan Simbang Kulon, Senin (14/9/2026).
Perwakilan Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
Ia mengakui terdapat kekurangan dalam pengawasan terhadap konsep penampilan peserta.
"Kami dari perwakilan panitia membenarkan adanya karnaval SKNC 2026 yang dilaksanakan pada Kamis. Akan tetapi, terkait kejadian yang berlangsung di acara itu secara detail untuk penampilan yang sekarang sedang viral, kami dari panitia tidak mengetahui secara detail," kata Ziyad.
Ia menjelaskan, SKNC tersebut bukan merupakan rangkaian peringatan Maulid Nabi seperti yang ramai diperbincangkan, melainkan bagian dari tradisi tahunan Khitanan Massal ke-61 PRNU Ranting Simbang Kulon.
"Tentunya, kami dari panitia memohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf atau kekurangan kami."
"Itu acara khitanan massal ke-61 yang diadakan oleh PRNU Ranting Simbang Kulon," ujarnya.
Lurah Simbang Kulon, Frangky Irawan, mengatakan pemerintah kelurahan langsung melakukan langkah untuk menggali fakta dan mengevaluasi kejadian tersebut.
Menurutnya, SKNC selama ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Kegiatan tersebut bahkan telah empat kali digelar dan terbuka secara gratis bagi warga.
Namun, pihaknya mengaku tidak menduga salah satu penampilan dalam SKNC 2026 justru menjadi viral dan menimbulkan polemik.
"Aparat pemerintah ataupun panitia dari awal tidak paham. Teman-teman peserta ingin menampilkan hiburan terbaik, tapi karena minim literasi tidak tahu apakah itu budaya setan atau tidak, makanya tergelincir," ungkap Frangky.
Ia mengimbau, masyarakat agar tidak memperkeruh keadaan dan menyikapi polemik tersebut secara bijak. Terlebih, warga Simbang Kulon saat ini tengah berduka atas meninggalnya AF.
"Psikologi warga Simbang syok karena, kami baru kehilangan warga kami yang giat mengikuti kegiatan. Mohon empati dari masyarakat. Kami dari pemerintah memohon maaf agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari," pungkasnya. (Dro)
"Latihan kami, persiapan seminggu," pungkasnya. (Dro)