Iklan

Maliya Finda, Nenek 1 Cucu yang Tewas Mendaki Gunung Piramid Pernah Taklukkan Rinjani

Sunday, August 9, 2026, 11:55 AM WIB Last Updated 2026-08-09T00:32:53Z
Ringkasan Berita:
  • Maliya Finda (451), pendaki asal Surabaya meninggal di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami di Bondowoso.
  • Maliya Finda ditemukan dalam keadaan meninggal pada Selasa (4/8/2026), bersama pemandu lokal bernama Erfan (35), penduduk Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
  • Mayat keduanya ditemukan dalam posisi terlentang dan tersangkut di cabang pohon dengan jarak antar mayat sekitar 5 meter.
 
 

- Ditemukan jejak Maliya Finda (451), pendaki asal Surabaya yang meninggal di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami di Bondowoso.

Maliya Finda ditemukan dalam keadaan meninggal pada Selasa (4/8/2026), bersama pemandu lokal bernama Erfan (35), penduduk Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.

Kepala Polisi Resor Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo menyampaikan bahwa jenazah kedua korban ditemukan di bawah punggung Naga dengan kedalaman sekitar 60 meter sekitar pukul 13.00 WIB.

Mayat keduanya ditemukan dalam posisi terlentang dan tersangkut di cabang pohon dengan jarak antar mayat sekitar 5 meter.

Tim operasional gabungan telah tiba di lokasi tempat korban ditemukan.

"Lalu kita lakukan pengemasan jenazah," katanya.

Namun demikian, kata Aryo, evakuasi baru akan dilakukan besok. Karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Beberapa tim rencananya akan menginap di Gunung Piramid agar mempermudah aktivitas evakuasi hari ini.

Selain itu, di sekitar tempat kejadian, tim SAR gabungan menemukan beberapa barang milik korban, seperti tas, sepatu, dan lain-lain.

"Sudah kita amankan," ujarya.

OSC Basarnas Jember, Jefriyansah, menjelaskan bahwa proses evakuasi besok akan berupaya membawa dua korban dengan metode Leafting ke Punggung Naga. Selanjutnya akan dilanjutkan melalui estafet ke Pos 2, kemudian ke Pos 1.

Besok akan dibagi menjadi 3 tim, di mana dua tim akan berfokus pada evakuasi korban di Punggung Naga.

"Kemudian akan dievakuasi ke RS Bhayangkara," katanya.

Ditanya mengenai dugaan penyebab kematian, Jefri menyatakan bahwa korban diduga jatuh ke dalam jurang saat turun dari gunung. Namun, penyebab pastinya masih menunggu hasil otopsi.

Dua orang pendaki dilaporkan kehilangan komunikasi saat melakukan perjalanan mendaki di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Berdasarkan informasi dari posko Kantor Kecamatan Curahdami, sebelum melakukan pendakian, kedua korban meninggalkan satu unit sepeda motor Yamaha NMAX berwarna merah dengan nomor polisi P 2938 ES di rumah seorang penduduk setempat.

Kekhawatiran warga mulai muncul karena hingga Senin (3/8/2026) sore pukul 17.30 WIB, sepeda motor tersebut belum diambil oleh pemiliknya.

Meskipun secara perkiraan waktu, pendakian ke Gunung Piramid biasanya dilakukan dengan sistem tektok (langsung turun tanpa menginap) selama sekitar 8 jam.

Jenazah akan dikuburkan di Babat Lamongan

Maliya Finda diketahui tinggal di wilayah Jalan Cipunegara, RT 14, RW 06, Darmo, Wonokromo, Kota Surabaya.

Kurang lebih dua minggu yang lalu, Maliya telah memiliki cucu dari putrinya.

Berdasarkan keterangan kerabatnya, Wawan, keluarga besar telah mengetahui rencana pendakian yang dilakukan Finda secara pribadi bersama seorang pemandu.

Wawan menjelaskan, Finda berangkat dari rumah di Surabaya menuju Bondowoso pada hari Sabtu (1/8/2026) pagi.

Kemudian, memulai pendakian pada hari Minggu (2/8/2026) pagi. Selama perjalanan, Finda tetap berkomunikasi dengan anaknya yang tinggal di Bali.

Seharusnya, pendakian tersebut hanya berlangsung satu hari; berangkat pagi dan kembali sore hari. Namun, hingga sore Minggu, Finda tidak lagi merespons pesan atau panggilan dari anggota keluarga atau kerabatnya.

"Kemarin Sabtu pergi ke Bondowoso, hari Minggu pagi naik, terus berhubungan. Tapi hari Senin tidak ada kabar lagi. Seharusnya pulang, berangkat pagi dan kembali sore, ternyata belum ada informasi kembalinya," katanya.

Wawan masih belum bisa memprediksi kapan jenazah akan dibawa ke rumah duka.

"Kami sedang menunggu proses evakuasi, kedalamannya sekitar 470 meter. Jurang yang sangat dalam. Jadi ada tali yang panjangnya sekitar 300 meter, kabar dari kerabat kami di sana menyebutkan bahwa mereka sedang mengalami kesulitan dengan alatnya. Masih dalam proses, semoga bisa dievakuasi secepat mungkin," katanya saat diwawancara di teras rumah duka, pada Selasa (4/8/2026) sore.

Rencananya, jenazah Finda akan diarak ke rumah duka Surabaya sebelum dikuburkan di area makam umum Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jatim, keesokan harinya.

"Jenazah dibawa ke sini untuk diberi penghormatan, dimandikan, dan dishalatkan, tetapi rencananya akan dikuburkan di Babat Lamongan. Ia memiliki satu putri. Ya, baru saja memiliki cucu dua minggu yang lalu, anaknya baru lahir," ujar Riris, pamannya korban.

Pernah Mendaki Gunung Rinjani dan Lawu

Pada usia pertengahan, Finda masih tetap konsisten dalam menjalani hobi mendaki gunungnya.

Wawan tidak membantah, hobi mendaki yang digeluti pamannya itu baru berlangsung sekitar 2-3 tahun terakhir. Bahkan, hampir sebulan sekali selalu ada rencana pendakian yang diikuti.

Namun, aktivitas yang telah Finda tekuni dalam jangka waktu lama adalah bersepeda atau gowes.

Nah, untuk jenis aktivitas ini, biasanya dilakukan hampir setiap hari. Terutama pada akhir pekan, Wawan kadang ikut serta dalam sebuah komunitas bersepeda bersama bibinya.

"Beliau senang mendaki. Dan menyukai bersepeda ontel, kebetulan saya juga suka ngontel. Hobi mendaki ini baru saja dimulai. Dari Rinjani dan Lawu. Gunung yang terkenal," ujarnya.

Mengenai prakiraan adanya kejadian tersebut, Wawan mengatakan tidak mendapatkan tanda-tanda apa pun. Orang terakhir yang berkomunikasi dengan pamannya adalah istrinya; Ririn.

Istrinya sempat mengunjungi rumah bibinya di Kota Surabaya, beberapa hari sebelum pendakian, yaitu pada hari Rabu atau Kamis pekan lalu.

Istri sedang melakukan kunjungan, beliau mengatakan ingin mendaki dengan pemandu pribadi. Namun kami tidak mengetahui bahwa Gunung Piramid dilarang, katanya.

Ditanya tentang sifat pribadi Finda saat hidup. Wawan tidak menyangkal, pamannya itu memiliki kepribadian yang baik, ramah, dan ceria.

Benar, dalam hal mendaki gunung, semangatnya masih sangat tinggi meskipun usianya tidak bisa disebut muda lagi.

Wawan mengira keberhasilan mendaki beberapa gunung sebelumnya mungkin membuat bibi selalu antusias untuk menjajaki pendakian gunung-gunung lainnya.

"Karakter beliau yang baik, beliau telah menyelesaikan ambisi mungkin, karena pernah mendaki gunung mana pun, akhirnya merasa penasaran lalu mencoba, melawan rasa penasaran. Usianya seharusnya masa istirahat, tapi beliau masih aktif. Usia 51," tutupnya.

Di sisi lain, keponakan korban atau istri Wawan, Riris mengakui tidak memiliki firasat apa pun yang menunjukkan pergi sang tante. Kehilangan tante tersebut menyebabkan rasa sedih yang mendalam bagi seluruh keluarga.

Ia mengira, pamannya mengalami kecelakaan terpeleset hingga jatuh ke jurang saat sedang melakukan pendakian di Gunung Piramid. Namun, pihak keluarga tetap akan menunggu hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh Polisi nantinya.

"Baru ditemukan tadi siang (selasa siang). Diduga jatuh, katanya, benar (tanda-tanda kecelakaan) karena terpeleset," kata Riris saat diwawancara di teras rumah duka.

Di sisi lain, tetangga menggambarkan Finda sebagai salah satu warga yang baik, ramah, dan senang menyapa orang.

"Semua kaget, mas, beliau baik, dan selalu menyapa kami yang di jalan kalau ketemu, sangat ramah," kata para tetangga yang duduk di warung kopi di sebelah rumah korban.

Komentar

Tampilkan