
Pemimpin perusahaan Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan penyebab kenaikan nilai tukar rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, pemahaman yang lebih baik dari para investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia menjadi salah satu faktor utama.
Pada penutupan perdagangan Senin (15/6), IHSG meningkat sebesar 247,310 poin atau 4,12 persen menjadi 6.254,966. Di sisi lain, rupiah berdasarkan data Bloomberg pada pukul 16.27 WIB berada di angka Rp 17.708 atau menguat 151,50 poin atau 0,85 persen terhadap dolar AS.
"Jika kita lihat, beberapa hari terakhir ini, baik dari pasar modal kita maupun rupiah kita, mengalami penguatan yang bisa dikatakan cukup cepat juga," ujar Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6).
Rosan menganggap bahwa penguatan pasar saham dan rupiah tidak akan terjadi tanpa adanya respons kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Ia menyebut beberapa strategi yang diambil oleh otoritas, termasuk kebijakan BI serta kerja sama keuangan dengan Tiongkok melalui perjanjian swap, berkontribusi dalam memulihkan keyakinan pasar.
Jika kita melihat ini baik dari Bank Indonesia, kemudian jugaswap agreementyang diberikan oleh Tiongkok, dan momentum pada saat kamiroadshow"ini sebenarnya masih dalam kondisi yang tidak baik," katanya.
Rosan juga menghubungkan penguatan pasar dengan hasil dari roadshow Danantara ke berbagai pusat keuangan internasional yang telah dilakukan. Dalam acara tersebut, Rosan bertemu sekitar 122 investor global yang juga memiliki penanaman modal di pasar Indonesia.
Menurutnya, beberapa investor sebelumnya masih memiliki keraguan terhadap prospek ekonomi Indonesia maupun kebijakan pemerintah. Namun, Rosan mengatakan bahwa pandangan tersebut mulai berubah setelah mendapatkan penjelasan langsung mengenai kondisi ekonomi dan strategi pembangunan nasional.
"Itu adalah pandangan yang mohon maaf mungkin sebelumnya mereka meragukan mengenai ekonomi Indonesia, mengenai kebijakan kami, tetapi setelah mereka melihat bahwa Indonesia merespons dengan baik dan tepat," kata Rosan.
Ia menegaskan bahwa dasar ekonomi di Negeri ini dalam jangka menengah dan panjang masih sangat kuat. Oleh karena itu, tantangan terbesar saat ini adalah memulihkan kepercayaan pasar yang sempat mengalami penurunan akibat berbagai isu negatif.
"Nah bagaimana kita berusaha mengubah persepsi momentum yang sebelumnya, jika kita menyebutnya spiral ke bawah, agar kembali ke atas," kata Rosan.