Iklan

Pulang Sesuai Jadwal, Petugas Bantu Lansia dan Disabilitas

Saturday, June 20, 2026, 7:40 PM WIB Last Updated 2026-06-20T01:14:57Z

.CO.ID – MADINAHSetelah rangkaian ibadah haji puncak selesai, perhatian petugas haji Indonesia terhadap jemaah lansia dan penyandang disabilitas kini berpindah.

Jika selama fase keberangkatan dan pelaksanaan ibadah petugas berupaya memastikan jemaah mampu melaksanakan seluruh rangkaian haji, pada fase kepulangan fokus kini tertuju agar mereka tetap dalam kondisi sehat hingga dapat kembali ke Tanah Air.

Konsep ini dikenal dengan sebutanfit to flightyaitu memastikan jemaah dalam kondisi siap terbang saat waktu kepulangan tiba sehingga tidak ketinggalan rombongan penerbangan (kloter) maupun membutuhkan penanganan khusus pada saat-saat akhir.

Koordinator Tugas dan Fungsi (Tusi) Layanan Lansia dan Disabilitas Sektor 3 Daerah Kerja (Daker) Madinah PPIH Arab Saudi 2026, Dicky Azis Gunawan, menyatakan bahwa model pelayanan dalam gelombang kedua berbeda dibandingkan dengan gelombang pertama.

Menurutnya, pada gelombang pertama, fokus utama petugas adalah membantu jemaah dalam menjalankan ibadah haji dengan baik.

Pada gelombang kedua, setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, fokus beralih ke pemantauan kesehatan dan kesiapan jemaah dalam kembali ke Indonesia.

Gelombang kedua, fokus kami adalah menjadikan jamaah hajifit to flightArtinya sehat ketika kembali ke tanah air, menghindari terjadinya kematian para jamaah atau risiko tertinggal dari rombongan," kata Dicky di Madinah, Kamis (18/6).

Untuk merealisasikan hal tersebut, petugas meningkatkan jumlah kunjungan atau visitasi kepada jemaah lansia dan penyandang disabilitas yang tinggal di hotel-hotel tempat penginapan di Madinah.

Berbeda dengan sebelumnya yang lebih sering menunggu laporan dari ketua kloter terkait jemaah yang memiliki risiko tinggi (risti), saat ini petugas secara aktif mengunjungi jemaah untuk memantau kondisi kesehatan mereka.

Bahkan, petugas layanan lansia dan disabilitas memiliki target untuk mengunjungi paling sedikit 20 hingga 30 jemaah setiap hari di berbagai hotel dan kloter.

Berdasarkan penjelasan Dicky, pengawasan dimulai sejak jemaah tiba di Madinah dari Makkah. Petugas langsung bekerja sama dengan ketua kloter dan tenaga medis untuk memastikan kondisi jemaah tetap stabil menjelang kepulangan.

Jika ada jemaah yang mengalami masalah kesehatan, petugas segera berkomunikasi dengan dokter kloter guna memperoleh penanganan.

Sementara untuk jemaah yang memerlukan bantuan dalam beribadah, koordinasi dilakukan bersama pembimbing ibadah agar kebutuhan mereka tetap terpenuhi.

"Kami berharap lima hingga delapan hari terakhir jemaah di Madinah menjadi momen yang tak terlupakan. Ibadahnya mencapai puncak, kesehatannya tetap terjaga, dan mereka dapat kembali ke Indonesia dalam keadaan baik," ujarnya.

Dicky menyampaikan, keadaan jemaah haji gelombang kedua yang tiba di Madinah saat ini lebih baik dibandingkan tahap awal pelaksanaan haji.

Hal tersebut dikarenakan sebagian jemaah yang memiliki kondisi kesehatan berisiko tinggi telah menerima perlakuan lebih dini selama berada di Makkah.

Menurutnya, puncak ibadah haji yang berat menyebabkan jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu mengikuti program tanazul atau dipulangkan lebih awal, sehingga jemaah yang tiba di Madinah biasanya dalam keadaan yang lebih stabil.

"Alhamdulillah, kedatangan jemaah di Madinah tergolong lebih tenang. Jika ada yang sakit, kami segera berkoordinasi agar mereka dapat dirujuk dan mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan," katanya.

Dengan pendekatan ini, petugas berharap seluruh jemaah lansia dan penyandang disabilitas dapat menyelesaikan masa tinggal mereka di Madinah dengan lancar dan kembali ke Tanah Air sesuai jadwal penerbangan masing-masing.

Komentar

Tampilkan