Iklan

Di Balik Viralnya Klakson: Ketika Kelelahan Jadi WNI Menggugah Perhatian

Sunday, June 14, 2026, 10:57 PM WIB Last Updated 2026-06-13T22:57:09Z
Ringkasan Berita:
  • Demonstrasi mahasiswa di Jawa Tengah mendapat perhatian hingga menjadi viral di media sosial.
  • Pertama, aksi demonstrasi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang yang memperlihatkan poster berisi tuntutan penggal kepala presiden serta foto Prabowo yang diberi tanda silang merah.
  • Dua aksi demonstrasi mahasiswa di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, pada hari Kamis (11/6/2026) sore yang penuh dengan suara klakson kendaraan.
  • Bukan disebabkan oleh kemacetan atau kecelakaan, melainkan respons dari para pengemudi terhadap poster yang berisi tulisan "Klakson Jika Kamu Lelah Menjadi Warga Negara Indonesia".
 

, SEMARANG -Demo mahasiswa di Jawa Tengah tidak kalah ramai dibandingkan dengan aksi mahasiswa di Jakarta pada hari Jumat (12/6/2026) kemarin.

Aksi para mahasiswa di Jakarta memunculkan ketegangan setelah lokasi demonstrasi diubah oleh pihak kepolisian.

Kejadian menarik juga terjadi, karena terdapat solidaritas melalui bunyi klakson. Para pengemudi memberikan dukungan kepada mahasiswa dengan membunyikan klakson kendaraan mereka.

Di sisi lain, aksi mahasiswa yang menjadi perhatian publik terjadi di UIN Walisongo Semarang dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Seperti di Jakarta, demo di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) penuh dengan suara klakson yang menyuarakan solidaritas dan terdengar bergema bersamaan.

Suara bel ini berasal dari undangan poster yang berisi: Bel Bila Kamu Lelah Menjadi WNI.

Di sisi lain, mahasiswa di UIN Walisongo Semarang lebih ekstrem dengan menampilkan spanduk bertuliskan "Penggal Kepala Presiden" serta menggambar tanda silang merah pada foto Prabowo.

 

Asal Usul Poster Potongan Kepala Presiden di UIN Walisongo Semarang

Matahari siang mulai memudar saat halaman Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dipenuhi suara pengeras suara dan desir spanduk yang terbawa angin.

Di antara kumpulan poster yang diangkat oleh mahasiswa, satu tulisan paling menarik perhatian.

Huruf-huruf besar berwarna merah dan hitam itu mengeluarkan suara: "Potong Kepala Presiden."

Kalimat tersebut membuat banyak orang berhenti sejenak.

Beberapa mengangkat alis, beberapa lainnya menangkapnya dengan ponsel.

Di tengah keramaian, Ahmad Alfani Hasan, mahasiswa Sosiologi angkatan 2023, berdiri silih berganti memegang alat pengeras suara.

Terkadang ia memandang teman-temannya yang mengenakan topeng kertas bertuliskan Presiden Prabowo dengan tanda silang merah.

Untuk Ahmad dan teman-temannya, tindakan tersebut bukan hanya aksi protes yang spontan.

Ia menggambarkannya sebagai hasil dari konsolidasi yang panjang dan melibatkan berbagai fakultas dalam lingkungan UIN Walisongo.

"Kami telah melakukan promosi melalui media dan berdiskusi dalam waktu yang cukup lama. Ini merupakan wujud komitmen bahwa mahasiswa tetap memantau situasi Indonesia saat ini," katanya, Jumat (12/6/2026) sore.

Topik "memenggal kepala presiden" sengaja diambil dengan maksud untuk menyajikan simbol yang mampu menarik perhatian masyarakat.

Ahmad menyadari kalimat tersebut terdengar penuh makna. Namun, menurutnya, pesan itu bukan dimaksudkan sebagai ajakan untuk melakukan kekerasan secara langsung.

Ia menjelaskan bahwa simbol tersebut merujuk pada pelajaran sejarah dan sosiologi yang mereka pelajari, khususnya mengenai Revolusi Prancis, saat rakyat bangkit melawan pemerintahan yang dianggap tidak mampu memenuhi harapan masyarakat.

"Bukan dalam arti harfiah. Ini seperti alarm merah yang menunjukkan bahwa keadaan saat ini sudah sangat kritis dan saatnya terjadi perubahan," katanya.

Di antara pidato, mahasiswa lainnya bergantian menyampaikan tuntutan.

Beberapa spanduk dengan tulisan "Reformasi" dan kritik terhadap situasi ekonomi serta kebijakan pemerintah diangkat dengan tinggi.

Bagi Ahmad, istilah reformasi yang mereka bawa bukan hanya sekadar mengulang peristiwa tahun 1998.

Ia menganggap terdapat beberapa cita-cita reformasi yang belum tercapai, termasuk kekhawatiran mengenai peran militer dalam ruang publik.

Seringkali kerumunan memberikan tepuk tangan saat pembicara menyampaikan kritik.

Beberapa orang duduk di tanah, sementara yang lain berdiri sambil mengangkat tangan ke langit.

Aksi yang terjadi di halaman kampus tersebut juga dianggap sebagai permulaan dari pergerakan yang lebih luas.

Ahmad menyatakan pihaknya terbuka untuk mengajak mahasiswa dari perguruan tinggi lain turut serta dalam aksi jalan-jalan dalam waktu dekat.

"Kami belum mampu memastikan jumlahnya. Namun yang dapat kami jamin, kami tetap akan turun untuk menyampaikan aspirasi," tambahnya.

 

Mahasiswa UMP Memperlihatkan Poster "Bunyikan Klakson Jika Kamu Lelah Menjadi Warga Negara Indonesia"

Ketika sore hari, suara klakson kendaraan terdengar bersamaan di kawasan kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, pada hari Kamis (11/6/2026).

Bukan disebabkan oleh kemacetan atau kecelakaan lalu lintas, melainkan sebagai bentuk respons dari para pengemudi terhadap poster yang berisi "Klakson Jika Kamu Lelah Menjadi Warga Negara Indonesia".

Poster tersebut dipasang oleh sejumlah mahasiswa di bundaran dalam lingkungan kampus.

Tindakan spontan tersebut akhirnya menjadi viral setelah rekamannya menyebar di berbagai situs media sosial.

Di dalam rekaman video, terlihat sejumlah mahasiswa berdiri sambil menggenggam poster berukuran besar dan menunjukkan tulisan tersebut kepada para pengendara yang lewat.

Tidak lama setelah itu, bunyi klakson terdengar berulang kali dari sepeda motor dan mobil yang melintas.

Respons tersebut diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan dari para mahasiswa.

Pelaku aksi, Memet, menyatakan kegiatan ini diadakan secara spontan ketika Komunitas Lapak Baca UMP melakukan kegiatan rutin melapak di sekitar kampus.

"Untuk estimasi yang diikuti sekitar 20 orang secara bergantian, karena aksi tersebut dilakukan secara spontan dan melibatkan orang-orang yang lewat di sekitar kampus," ujar Memet kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (12/6/2026).

Para peserta aksi ternyata tidak hanya berasal dari UMP.

Beberapa mahasiswa dari Universitas Harapan Bangsa (UHB) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) turut serta dalam aksi tersebut dan memberikan semangat.

Memet mengungkapkan, gagasan tindakan ini muncul setelah melihat materi serupa yang beredar di media sosial.

"Pada saat melihat konten tersebut, kami terpikir untuk melakukan hal tersebut saat kegiatan kami berlangsung pada hari Kamis," katanya.

Ia menyampaikan, penggunaan klakson kendaraan sebagai sarana penyampaian aspirasi dipilih karena dianggap kreatif dan memudahkan partisipasi masyarakat secara langsung.

Menurutnya, bel pintu merupakan simbol sederhana untuk mengekspresikan ketidakpuasan yang dirasakan banyak orang terhadap situasi yang dianggap penuh ketidakpastian.

Tujuan utamanya hanyalah menyampaikan kegelisahan dalam situasi yang tidak pasti saat ini, meskipun hanya melalui suara klakson.

Karena semua media bisa menjadi alat perlawanan bagi dirinya sendiri," ujar Memet.

Ia menganggap jumlah pengendara yang membunyikan klakson menunjukkan pesan yang mereka sampaikan mendapatkan tanggapan dari masyarakat.

Banyak orang menekan klakson, hal ini menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang sudah lelah dengan situasi saat ini.

Video aksi tersebut masih terus beredar di media sosial dan mendapat berbagai respons dari netizen.

Tindakan tersebut merupakan bentuk kritik sosial yang inovatif, sementara yang lain menganggap tindakan tersebut sebagai metode unik untuk menyampaikan kekhawatiran masyarakat di ruang terbuka.

(tribun network/thf/TribunJateng.com)

Artikel ini telah diterbitkan di TribunJateng.com dengan judulDi Balik Poster "Potong Kepala Presiden", Mahasiswa UIN Walisongo Semarang Minta Perubahan

Komentar

Tampilkan