Iklan

Pupuk Indonesia Ekspor Urea ke Australia, Total 500.000 Ton

Saturday, May 16, 2026, 9:58 PM WIB Last Updated 2026-05-16T04:34:34Z

.CO.ID - JAKARTA.Perusahaan Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) melakukan ekspor pertama produk urea ke Australia dengan skemaGovernment-to-Government (G2G). Pelaksanaan ekspor ditandai dengan peresmian pengeluaran kapal pengangkut pupuk urea di Dermaga BSL Pupuk Kaltim, Bontang, Kamis (14/5/2026).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa dimulainya ekspor pupuk ke Australia merupakan momen penting dalam transformasi sektor pupuk nasional. Pengiriman ini menjadi tanda awal kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia untuk memperkuat ketersediaan pangan serta jaringan pasok pupuk di kawasan Asia-Pasifik.

Volume ekspor pertama mencapai 47.250 ton. Ekspor ini merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton dan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp 7 triliun.

"Ini akan menciptakan sejarah, karena (kita) akan mengekspor pupuk ke berbagai negara termasuk Australia. Rencana ekspor ke Australia sesuai dengan pembicaraan Perdana Menteri Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, namun akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton, dengan nilai sekitar Rp 7 triliun," ujar Amran dalam pernyataan Pupuk Indonesia yang disiarkan pada Jumat (15/5/2026).

Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menyampaikan rasa terima kasih atas dimulainya pengiriman pupuk urea dari Indonesia ke Australia. "Australia sangat menghargai hubungan dengan Indonesia dan kerja sama ini menunjukkan persahabatan serta kemitraan yang kuat antara kedua negara," ujarnya.

Pengiriman pertama urea ke Australia merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah lebih dahulu terjalin antara Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese. Sebelumnya, PM Anthony menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo atas persetujuannya mengenai ekspor urea ke Australia.

Penghargaan itu disampaikan melalui panggilan telepon pada Selasa (21/4/2026). Pemerintah menegaskan kebijakan ekspor dilakukan dengan hati-hati sambil tetap memprioritaskan kebutuhan pupuk di dalam negeri.

Kepala Eksekutif Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyatakan bahwa dimulainya pengiriman urea ke Australia memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar aktivitas perdagangan. Momentum ini menunjukkan posisi strategis Indonesia sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi tekanan rantai pasok pangan dan pupuk akibat perubahan global.

"Pengiriman pupuk urea ke Australia hari ini bukan hanya kegiatan perdagangan, tetapi juga bagian dari diplomasi pangan Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan di kawasan Asia-Pasifik," ujar Rahmad.

Ia menekankan bahwa pelaksanaan ekspor tetap mengutamakan kebutuhan pupuk di dalam negeri. Tahun ini, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea sebesar 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan lokal diperkirakan mencapai 6,3 juta ton, sehingga terdapat kelebihan produksi sebesar 1,5 juta ton yang bisa dimanfaatkan tanpa mengganggu pasokan pupuk nasional.

"Pupuk Indonesia tetap mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sambil mempertahankan fleksibilitas ekspor secara terukur dan bertanggung jawab," tegas Rahmad.

Dalam rangka pelaksanaan ekspor ke Australia, Pupuk Indonesia tetap memastikan kondisi stok dan penyaluran pupuk nasional tetap stabil. Sampai dengan 13 Mei 2026, stok nasional tercatat sebesar 1,1 juta ton dan akan terus didukung oleh produksi yang berjalan secara optimal di seluruh pabrik perusahaan.

"Saat ini persediaan pupuk mencapai 1,1 juta ton yang menunjukkan ketahanan pasokan nasional. Angka ini akan tetap terjaga seiring dengan produksi Pupuk Indonesia yang berjalan lancar dengan kapasitas harian mencapai 25.000 ton urea dan 15.000 ton pupuk NPK," kata Rahmad.

Untuk memastikan distribusi berjalan secara optimal di setiap daerah, Pupuk Indonesia menggunakan Command Center dan sistem i-Pubers untuk mengawasi tingkat penjualan serta kondisi persediaan secarareal-timehingga titik paling jauh. Sistem digital ini memungkinkan perusahaan mengenali wilayah dengan permintaan tinggi dan melakukan penyesuaian (realokasi) persediaan secara cepat tanpa harus menunggu laporan manual.

Optimalisasi distribusi ini turut mempercepat pencapaian penyaluran pupuk subsidi yang hingga 13 Mei 2026 telah mencapai 3,5 juta ton atau sekitar 36% lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Melalui Command Center dan sistem i-Pubers, kami mampu mengawasi pergerakan persediaan pupuk secarareal-timehingga tingkat kios. Dengan sistem ini, penyesuaian distribusi dapat dilakukan lebih cepat apabila terdapat wilayah yang mengalami peningkatan kebutuhan pupuk," tambah Rahmad.

Komentar

Tampilkan