Iklan

Perhutani tingkatkan bisnis kopi berkelanjutan, libatkan ribuan petani

Friday, June 5, 2026, 4:52 AM WIB Last Updated 2026-06-05T00:04:00Z

Dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat global terhadap kopi berkualitas, Perum Perhutani memperkuat posisinya sebagai produsen kopi yang berkomitmen pada prinsip lingkungan yang berkelanjutan. Inisiatif ini dilakukan dengan memaksimalkan penggunaan lahan hutan produktif melalui sistem agroforestri yang tidak hanya menjaga kelestarian hutan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi penduduk setempat.

Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang kehutanan, Perhutani melihat tren konsumsi kopi dunia bukan hanya sebagai kesempatan bisnis. Perusahaan memandang komoditas ini sebagai cara untuk menggabungkan kepentingan perlindungan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dengan pengelolaan hutan yang dilakukan bersama masyarakat, budidaya kopi menjadi salah satu metode untuk menjaga keberlanjutan tutupan hutan sekaligus memberikan sumber pendapatan bagi warga di daerah hutan.

Kepala Perusahaan Umum Perhutani Tio Handoko menyampaikan bahwa pengembangan kopi di bawah area hutan adalah contoh nyata penerapan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

“Kopi telah menjadi barang dagangan yang diminati oleh masyarakat global. Perhutani hadir untuk memastikan bahwa setiap cangkir kopi yang dinikmati masyarakat, berasal dari sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Melalui model agroforestry, kita menunjukkan bahwa perlindungan hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa tidak perlu saling bertentangan, tetapi bisa berjalan bersama-sama,” katanya.

Data Perhutani menunjukkan bahwa luas tanaman kopi di kawasan hutan yang dikelola perusahaan mencapai 43.143 hektar dan tersebar di 32 Unit Pengelolaan Hutan (KPH).

Wilayah Jawa Timur merupakan pusat terbesar dengan luas mencapai 30.365 hektare. Di sisi lain, Jawa Barat dan Banten memiliki lahan kopi seluas 7.124 hektare, sementara Jawa Tengah mencapai 5.685 hektare.

Dari wilayah tersebut, total produksi kopi tercatat sebesar 9.365 ton dengan rata-rata produktivitas sekitar 197 kilogram per hektare. Pengembangan komoditas ini melibatkan 518 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) serta setidaknya 75.872 petani hutan yang menggantungkan sebagian pendapatan keluarganya dari sektor kopi.

Menurut Tio, partisipasi masyarakat dalam budidaya kopi juga memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan. Semakin besar manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat, semakin tinggi pula rasa tanggung jawab mereka terhadap kelangsungan hutan.

"Ketika masyarakat merasakan langsung keuntungan ekonomi dari pohon yang tumbuh, mereka akan secara sukarela menjaga keberlanjutan hutan tersebut. Potensi ekonomi kopi ini terus kita dorong agar berkembang, bertransformasi menjadi lembaga yang lebih kuat seperti koperasi, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas sambil tetap menyampaikan pesan perlindungan lingkungan," tambahnya.

Di masa depan, Perhutani berkomitmen memperluas manfaat positif program agroforestry kopi sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program ini diharapkan mampu berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan, menciptakan pekerjaan yang layak, serta upaya penanggulangan perubahan iklim melalui perlindungan ekosistem daratan di Pulau Jawa dan Madura.

Komentar

Tampilkan