Iklan

Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Viral di Kalbar, MPR Beri Penjelasan Soal Juri

Tuesday, May 19, 2026, 5:43 PM WIB Last Updated 2026-05-19T14:13:21Z
Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Viral di Kalbar, MPR Beri Penjelasan Soal Juri
Ringkasan Berita:
  • Persoalan LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat menjadi perbincangan setelah jawaban siswa SMAN 1 Pontianak dinilai tidak tepat oleh juri, sedangkan jawaban serupa dari peserta lain justru dianggap benar.
  • Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan bahwa para juri tidak perlu meminta maaf secara pribadi karena permintaan maaf telah disampaikan secara institusi oleh pimpinan dan Sekretariat Jenderal MPR RI.
  • SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas keduanya menolak ulang babak final LCC 4 Pilar MPR Kalbar 2026

- Persoalan pelaksanaan final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat masih menjadi sorotan masyarakat setelah videonya menyebar di media sosial.

Kontroversi muncul ketika salah satu jawaban peserta dari SMAN 1 Pontianak dinilai salah oleh dewan juri, sedangkan jawaban serupa dari peserta lain justru dianggap benar.

Peristiwa tersebut segera memicu protes dari peserta dan menjadi topik perdebatan yang luas di kalangan masyarakat.

Video momen protes peserta tersebut kemudian viral di media sosial dan mendapat kritik terhadap objektivitas penilaian dalam acara yang diselenggarakan oleh MPR RI.

LCC 4 Pilar adalah sebuah lomba pengetahuan yang bertujuan menguji pemahaman siswa terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

Di tengah perdebatan yang terus berkembang, fokus masyarakat tidak hanya berada pada keputusan penilaian oleh juri, tetapi juga pada sikap dewan juri yang dinilai belum memberikan permintaan maaf secara langsung kepada peserta maupun pihak sekolah yang merasa dirugikan.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani akhirnya memberikan penjelasan mengenai alasan para juri tidak meminta maaf secara langsung kepada SMAN 1 Pontianak.

Perdebatan dimulai dari jawaban yang dianggap berbeda Kontroversi bermula dari respons yang dianggap berbeda Perselisihan muncul dari jawaban yang dinilai tidak sama Perdebatan berawal dari pendapat yang dianggap berbeda Ketidaksepahaman terjadi dari jawaban yang dianggap berbeda Pembicaraan memanas karena jawaban yang dianggap berbeda Konflik muncul dari respons yang dianggap berbeda Perbedaan pendapat memicu polemik Perdebatan timbul dari jawaban yang dianggap berbeda Ketegangan berawal dari jawaban yang dianggap berbeda

Kontroversi dalam babak final LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar dimulai ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, memberikan jawaban pada babak final lomba.

Namun jawaban tersebut dianggap tidak benar oleh dewan juri.

Di sisi lain, jawaban yang memiliki makna serupa dari tim lain justru dianggap benar dan memperoleh poin tambahan.

Keadaan tersebut menimbulkan protes dari siswa SMAN 1 Pontianak yang merasa terdapat ketidakkonsistenan dalam proses penilaian.

Peserta sempat mengungkapkan keberatan secara langsung saat lomba sedang berlangsung.

Namun, keberatan tersebut dianggap tidak mendapatkan tanggapan dari pihak juri maupun pemandu acara.

Video protes tersebut akhirnya menyebar luas dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat, termasuk kritik terhadap kesanggupan penyelenggaraan lomba.

Peristiwa ini juga mengundang perhatian berbagai pihak terhadap kepentingan objektivitas, kejelasan, dan pertanggungjawaban dalam kompetisi pendidikan.

Akuntabilitas merujuk pada kemampuan untuk dapat dipertanggungjawabkan dengan jelas dan transparan.

Ahmad Muzani Mengungkap Alasan Juri Tidak Meminta Maaf Secara Langsung

Merespons tekanan masyarakat agar dewan juri menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada SMAN 1 Pontianak, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan bahwa permintaan maaf telah disampaikan melalui jalur institusi.

Menurut Muzani, permintaan maaf yang telah disampaikan oleh pimpinan dan Sekretariat Jenderal MPR RI secara otomatis mewakili seluruh elemen penyelenggara, termasuk juri.

"Ya, di lembaga MPR sudah disampaikan oleh Sekjen. Salah satu pimpinan kami juga telah menyampaikan permintaan maaf," ujar Muzani dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta.

"Maka, hal ini mewakili seluruhnya termasuk para juri, karena ini adalah kegiatan institusi, bukan kegiatan individu," tambahnya.

Pernyataan itu kemudian mendapat perhatian masyarakat karena sebagian orang menganggap permintaan maaf dari juri tetap diperlukan sebagai wujud tanggung jawab moral.

Namun pihak MPR RI menegaskan bahwa kegiatan LCC 4 Pilar adalah agenda resmi lembaga, sehingga penyampaian permintaan maaf dilakukan secara institusi.

Sekretaris Jenderal MPR Mengatakan Juri Termasuk Dalam Struktur Sekretariat

Penjelasan serupa juga diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah.

Ia menyatakan bahwa para juri termasuk dalam struktur sekretariat MPR, sehingga permintaan maaf yang telah disampaikan oleh lembaga juga mencakup pihak juri.

"Maka, tadi memang sempat dibahas, ya, juri ini merupakan perwakilan dari kesekretariatan," kata Siti Fauziah.

"Maka, seperti yang telah diumumkan beberapa hari yang lalu, itu merupakan permintaan maaf dari sekretariat yang dalam arti kata saya menyampaikan permintaan maaf terkait kegiatan tersebut," tambahnya.

Siti menegaskan bahwa permintaan maaf tersebut tidak lagi bersifat pribadi.

"Maka, hal tersebut sudah disampaikan sebelumnya dan mewakili dari sebuah kegiatan. Artinya, bukan lagi bersifat pribadi, tetapi merupakan lembaga sekretariat yang secara langsung meminta maaf," jelasnya.

SMAN 1 Pontianak Menegaskan Tidak Ikut Final Ulang

Di tengah perdebatan yang sedang berlangsung, SMAN 1 Pontianak memutuskan untuk tidak mengikuti ulang babak final LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat yang dijadwalkan oleh MPR RI.

Pernyataan resmi ini ditandatangani oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati.

Sekolah menegaskan tindakan yang diambil sejak awal tidak bertujuan untuk menurunkan pihak tertentu atau membatalkan hasil lomba.

"SMAN 1 Pontianak tidak bermaksud membatalkan hasil lomba, tetapi hanya ingin mendapatkan kejelasan mengenai poin-poin yang dipertanyakan," tulis Indang.

Pihak sekolah menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan hanya bertujuan untuk mendapatkan penjelasan dan memastikan proses lomba berlangsung secara transparan, objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan.

SMAN 1 Pontianak tetap menghargai hasil kompetisi dan memberikan dukungan kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat dalam ajang nasional.

Selain itu, sekolah juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga suasana pendidikan yang baik dan nyaman.

"SMAN 1 Pontianak mengharapkan dukungan dari berbagai pihak ke depan, dalam usaha membentuk lingkungan pendidikan yang mendukung, aman, dan nyaman bagi semua," kata Indang.

Pernyataan itu diakhiri dengan kalimat “Sampai bertemu di LCC 4 Pilar 2027.”

SMAN 1 Sambas Juga Menolak Pertandingan Ulang

Tidak hanya SMAN 1 Pontianak, pihak SMAN 1 Sambas juga menyampaikan penolakan terhadap rencana ujian ulang akhir.

Di dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui media sosial sekolah, SMAN 1 Sambas menyatakan ketidaksetujuan terhadap berbagai tuduhan yang beredar di platform media sosial.

Sekolah menolak keras tuduhan manipulasi, korupsi, nepotisme, serta dugaan pengaturan kemenangan.

"Menolak keras tuduhan kecurangan, suap, tindakan nepotisme, dan prasangka tentang kemenangan yang dituduhkan kepada SMAN 1 Sambas," tulis pihak sekolah.

SMAN 1 Sambas mengatakan perdebatan tersebut telah memengaruhi kondisi psikologis siswa, guru, staf sekolah, hingga para alumni.

Oleh karena itu, pihak sekolah meminta penyelenggara untuk berkontribusi dalam memperbaiki reputasi sekolah.

"Meminta pihak penyelenggara untuk memulihkan nama baik sekolah serta menjamin keamanan kondisi psikis siswa," demikian isi pernyataan tersebut.

MPR RI Mengakui Terdapat Kesalahan

Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengakui ada kekurangan dan kesalahan dalam pelaksanaan final LCC 4 Pilar Kalbar 2026.

"Di kasus Kalimantan Barat, kami mengucapkan terima kasih dan kita semua menyadari ada kekurangan, keterbatasan, serta kesalahan dalam penyelenggaraannya," katanya.

Konsep perbedaan pendapat menggambarkan kesalahan atau ketidaktelitian yang muncul selama pelaksanaan suatu aktivitas.

Sebagai bagian dari evaluasi, MPR RI memutuskan bahwa babak final tingkat Kalbar akan diulang dan memastikan perubahan pada komite juri.

"Lomba Cerdas Cermat tingkat Kalimantan Barat yang final akan kami ulangi pada waktu yang segera ditentukan," ujar Ahmad Muzani.

Keputusan itu diambil setelah perdebatan penilaian menyebar secara viral dan memicu kritikan yang luas dari masyarakat.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Artikel ini telah tayang di Kompas dengan judul Hakim Menyalahkan Jawaban SMAN 1 Pontianak Tapi Tidak Langsung Meminta Maaf, Ini Pernyataan Ketua MPR

Artikel ini telah tayang di Kompas dengan judul Alasan SMAN 1 Pontianak Tidak Ikut Ulangan Akhir Kompetisi Cerdas Cermat MPR, Tidak Ingin Mengganggu Sekolah Lain

Artikel ini telah tayang di Kompas dengan judul Ketua MPR Telah Menerima Penolakan SMAN 1 Pontianak Mengenai Pengulangan Final Lomba Cerdas Cermat

Komentar

Tampilkan